Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Senin, 27 Agustus 2012

PERCIKAN BENING: Berbuat Dosa. Apa penyebabnya (?)

PERCIKAN BENING: Berbuat Dosa. Apa penyebabnya (?)

Dilihat: 159 Kali



“Arjuna bertanya kepada Sri Krishna:” apa yang mendorong seseorang untuk berbuat dosa, walau dia sendiri tidak menghendaki demikian, seolah-olah dia dipaksakan untuk berbuat begitu?”
Makhluk hidup, mempunyai sifat yang sama seperti Yang Maha Kuasa, semula bersifat rohani, murni dan bebas dari pengaruh material. Karena itu menurut sifatnya, ia tidak di pengaruhi dosa-dosa dunia material. Tetapi apabila ia melakukan hubungan dengan dunia material, ia melakukan kegiatan yang berdosa tanpa segan, dan kadang itu bertentangan dengan kehendaknya sendiri.
Hal inilah yang dipertanyakan oleh Arjuna kepada Sri Krishna karena melihat hal-hal yang terbalik terjadi di alam ini. Sri Krishna mengawali sabdanya dengan mengatakan hanya hawa nafsu yang dilahirkan dari hubungan dengan sifat nafsu material, yang kemudian diubah menjadi amarah.
Seperti halnya api ditutupi oleh asap, cermin ditutupi debu atau janin ditutupi kandungan, begitu pula makhluk hidup ditutupi berbagai tingkat hawa nafsu. Kesadaran murni makhluk hidup yang bijaksana ditutupi musuhnya yang kekal dalam bentuk nafsu, yang tidak pernah puas dan membakar bagaikan api.
Indria-indria, pikiran, dan kecerdasan adalah tempat duduk hawa nafsu itu. Melalui indria-indria, pikiran dan kecerdasan hawa nafsu menutupi pengetahuan sejati makhluk hidup dan membingungkannya. Agar kita terhindar dari itu semua (dosa yang tidak kita inginkan), pada awal sekali kita harus membatasi lambang dosa yang besar ini dengan mengatur indria-indria dan membunuh pembinasaan pengetahuan dan keinsafan diri tersebut. Indria-indria yang bekerja lebih halus daripada alam yang bersifat mati. Dimana pikiran lebih halus daripada indria-indria; kecerdasan lebih halus daripada pikiran dan sang roh (jiwa) lebih halus daripada kecerdasan.
Dengan mengetahui sang roh melampaui indria-indria material, pikiran dan kecerdasan, hendaknya seseorang memantapkan pikiran dengan kecerdasan yang bertabah hati dan dengan demikian…. Melalui kekuatan rohani, mengalahkan hawa nafsus.
Apabila makhluk hidup mengadakan hubungan dengan ciptaan material, cinta kasih yang kekal dalam hatinya terhadap Tuhan diubah menjadi nafsu. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa menjelma menjadi banyak untuk kebahagiaan rohani. Beliau yang senantiasa meningkat dan para makhluk hidup adalah bagian dari kebahagiaan rohani tersebut yang mempunyai sifat yang sama seperti kebahagiaan rohani itu. Para makhluk hidup juga mempunyai kebebasan sebagian, tetapi dengan menyalahgunakan kebebasannya, apabila sikap pengabdian diubah menjadi kecenderungan untuk kenikmatan indria-indria, mereka dikuasai nafsu.
Sumber segala sesuatu adalah Brahman Yang Paling Utama, karena itu sumber nafsu juga berada di dalam Yang Maha Kuasa, karena itu kalau nafsu diubah menjadi cinta bhakti kepada Yang Maha Kuasa maka nafsu dan amarah dapat di rohanikan. Hanuman, hamba Sri Rama menunjukkan amarahnya dengan membakar Alengka Kerajaan Rahwana dan Arjuna dengan membunuh semua musuhnya juga menggunakan amarah dan nafsu untuk berbhakti kepada Krishna… tanpa amarah dan nafsu bagaimana orang bisa bertempur?
Ada tiga tingkat penutup makhluk hidup yang mengaburkan kesadarannya yang murni. Seperti asap di api, debu pada cermin dan janin dalam kandungan. Apabila nafsu diumpamakan asap, dapat dimengerti api milik bunga api rohani dapat dilihat sedikit. Debu pada cermin menunjukan proses membersihkan cermin pikiran dengan begitu banyak cara rohani. Cara terbaik adalah mengucapkan nama-nama suci Tuhan.
Janin ditutupi kandungan adalah analogi yang menggambarkan kedudukan yang tidak berdaya, sebab anak dalam kandungan sangat tidak berdaya sehingga ia tidak dapat bergerak. Pohon juga makhluk hidup, namun pohon sudah ditempatkan dalam keadaan hidup seperti itu karena telah memperlihatkan hawa nafsu secara besar-besaran, sehingga hampir tidak mempunyai kesadaran sama sekali. Burung dan hewan diumpamakan sebagai cermin yang ditutupi dan manusia diumpamakan sebagai api yang ditutupi oleh asap.
Dalam Manu Smerti dinyatakan hawa nafsu tidak dapat dipuaskan dengan jumlah kenikmatan indria-indria manapun, seperti halnya api yang tidak dipadamkan oleh bahan bakar yang disediakan terus menerus. Hawa nafsu adalah lambang kebodohan yang menahan makhluk hidup di dunia material. Selama seseorang menikmati kepuasan indria-indria, barang kali sekadar rasa senang, tetapi sebenarnya apa yang hanya namanya saja rasa senang itu adalah musuh utama orang yang menikmati indria-indrianya.
Kedudukan strategis dalam diri kita adalah indria-indria, pikiran dan kecerdasan. Apabila kita mendengar tentang objek indria-indria, pikiran adalah gudang segala ide kepuasan indria-indria. Sebagai akibatnya, pikiran dan indria-indria menjadi tempat menyimpan hawa nafsu. Kemudia bagian kecerdasan menjadi ibu kota kecenderungan yang bersifat penuh nafsu seperti itu. Kecerdasan adalah tetangga sang roh. Kecerdasan yang penuh nafsu mempengaruhi sang roh untuk memperoleh keakuan palsu dan menyamakan dirinya dengan alam, dan dengan demikian menyamakan dirinya dengan pikiran dan indria-indria. Sang roh kecanduan kenikmatan indria-indria material dan dia salah paham dengan menganggap kenikmatan indria-indira material sebagai kebahagiaan sejati.
Cara mengatasi hal yang berdosa tersebut adalah dengan memiliki pengetahuan yang membedakan antara kedudukan badan dan roh yang sejati. Pengetahuan tentang sang diri dari Diri Yang Utama sangat rahasia dan gaib, tetapi pengetahuan dan keinsafan khusus seperti itu dapat dimengerti kalau dijelaskan dengan berbagai aspeknya oleh Tuhan sendiri. Pengembangan kesadaran dari material ke rohani merupakan cara kita untuk melepaskan diri dari ikatan dosa. Pengembangan kesadaran hanya dimungkinkan kalau kita telah memiliki kecerdasan yang mantap yang diarahkan untuk identitas yang murni… om tat sat
I Gede Suwardana
Penyuluh Agama Hindu
Kankemenag Kulonprogo

Tidak ada komentar: