Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Sabtu, 11 Agustus 2012

Kala Bendana

Figur Wayang

Kala Bendana
Tokoh Kala Bendana digambarkan pada wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Kala Bendana

Tokoh yang satu ini erat hubungannya dengan ketokohan Gatotkaca. Kala Bendana termasuk bangsa raksasa dari kerabat bangsawan keraton Pringgandani. Ia adalah saudara bungsu dari Dewi Arimbi ibu Gatotkaca. Sehingga ia adalah paman Gatotkaca. Secara fisik Kala Bendana tidak sempurna, tubuhnya kerdil, tangannya cacat dan bicaranya cedal tidak jelas. Namun ada sesuatu yang sangat bernilai melekat pada dirinya yaitu, jujur dan berani mempertahankan kejujurannya, walau sampai harus mengorbankan nyawanya.
Sesuai dengan kapasitasnya, Kala Bendana berpikir dan bertindak dengan cara yang sederharna. Dalam pergaulannya dengan saudara dan sesamanya, Kala Bendana selalu menginginkan ketentraman dan kedamaian. Sikap tersebut nampak jelas saat terjadi pertentangan diantara saudara-saudara perihal pengangkatkan Gatotkaca sebagai raja muda Pringgandani, Kala Bendana bertindak sebagai penengah. Kepada Gatotkaca keponakannya, Kala Bendana menaruh cinta yang tulus. Ia dengan setia menempatkan diri sebagai pamomong.
Seperti juga yang dialami oleh kebanyakan pejuang nilai-nilai kejujuran, Kala Bendana mengalami nasib tragis dalam upaya mempertahankan sebuah nilai kejujuran. Kisahnya adalah ketika Kala Bendana mengikuti Gatotkaca dan Abimanyu yang disarankan oleh Batara Kresna untuk mengunjungi Dewi Utari di Negara Wirata. Pertemuan Abimahyu dan Dewi Utari ini merupakan sekenario besar yang disusun Batara Kresna, menyangkut keberadaan wahyu raja. Dasar berpijaknya adalah prediksi masa depan. Batara Kresna mengetahui bahwa jika Abimanyu mengawini Utari, ia akan menurunkan raja besar, yang nantinya akan menduduki Negara Hastina. Oleh karenanya ia menginginkan Abimanyu mengambil istri Dewi Utari anak Prabu Matswapati raja Wirata, yang adalah ‘babone ratu’
Gayung pun bersambut, dalam perjumpaan yang diatur itu, Abimanyu dan Utari saling jatuh cinta. Mereka berjanji akan melanjutkan percintaan ini ke pelaminan. Namun sebelum melangkah lebih jauh Utari bertanya kepada Abimanyu, apakah dirinya belum mempunyai istri? Abimanyu menjawab belum. Pada hal sesungguhnya Abimanyu sudah mempunyai istri Dewi Siti Sundari. Hal itulah yang kemudian dikatakan yang senyatanya oleh Kala Bendana, bahwa Abimanyu telah berbohong kepada Utari.
Gatotkaca yang kala itu mendampingi Abimanyu memperingatkan kepada Kala Bendana untuk diam, tidak usah ikut campur dalam urusan ini. Kala Bendana tidak takut atas peringatan Gatotkaca. Ia tetap mengatakan bahwa Abimanyu sudah mempunyai istri namanya Dewi Siti Sundari, anak Batara Kresna. Gatotkaca yang ditugaskan oleh Batara Kresna mengawal menjaga dan mensukseskan recana tersebut kawatir bahwasannya rencana tersebut akan gagal, gara-gara kejujuran Kala Bendana. Oleh karenanya, sebelum Utari mempercayainya, Kala Bendana diseret ke luar untuk diamankan.
Namun entah apa yang terjadi. Apakah ketika Gatotkaca tidak lagi dapat menahan amarah, ajian-ajian sakti yang ada di tubuhnya keluar dengan sendirinya. Seperti misalnya aji Ismu Gunting, yang dapat memutus leher lawan hanya dengan tangannya. Atau aji Narantaka yang dapat menghancurkan lawan hingga jadi debu. Pada kenyataannya Kala Bendana mati di tangan Gatotkaca.
Di awal tulisan ini telah disinggung bahwa ketokohan Gatotkaca erat hubungannya dengan ketokohan Kala Bendana. Keduanya sama-sama menjadi pahlawan. Kala Bendana gugur membela nilai kejujuran, sedangkan Gatotkaca gugur membela Negara. Namun ironisnya kepahlawanan Gatotkaca justru tercoreng karena kejujuran Kala Bendana. Kejujuran yang seharusnya dibela oleh seorang pahlawan, termasuk jujur untuk gelar kepahlawannannya.
herjaka HS
 
http://tembi.org/

Tidak ada komentar: