Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Minggu, 21 Oktober 2012

'Partai Islam sudah berakhir'

'Partai Islam sudah berakhir'


Reporter: Putri Artika RSabtu, 20 Oktober 2012 11:04:51





PKB PKS PPP. ©2012 Merdeka.com
Tokoh Betawi Ridwan Saidi mengatakan, kekuatan partai Islam nantinya akan berakhir. Sebab, para pemilih yang beragama Islam telah beralih memilih partai yang non-Islam. Contohnya pada pemilihan gubernur DKI.



"Lihat saja Pilkada DKI itu banyak pemilih Islam tapi malah tokoh Islam kalah," ujarnya dalam polemik Sindo Radio yang bertajuk "Soal hasil survei, Parpol Islam merosot" di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (20/10).



Menurutnya, penyebab ini salah satunya yakni adanya perang saudara, konflik antar sesama umat muslim. Atas konflik tersebut, kepercayaan masyarakat dapat berpengaruh. Kemudian, partai Islam itu sendiri tidak menampilkan tokoh Islami yang dapat dipercayai masyarakat.



"Ini harus disadari bahwa partai Islam sudah berakhir," ujarnya.



Sementara itu, Shohibul Imam selaku Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menanggapi hasil survei LSI menyatakan kemorosotan Partai Islam dapat berpengaruh pada Pilpres 2014 nantinya.



Hasil survei LSI pada Pilgub DKI nantinya tahun 2014 Partai Islam hanya sebagai pelengkap. Menurut Shohibul tidak demikian.



"Parti Islam 2014 jadi partai pelengkap, itu sebetulnya hanya opini," ujarnya.



Shohibul juga menuding hasil survei LSI tidak sesuai kaidah ilmiah. "Kami berhak pertanyakan metodologinya. Margin of error itu bagaimana mengukur sampling of error. Nah di luar itu banyak error yang terjadi," tandasnya.




[did]

3 Alasan partai Islam tidak akan laku di Pilpres 2014


Reporter: Putri Artika RSabtu, 20 Oktober 2012 12:34:26


PKB PKS PPP. ©2012 Merdeka.com



5





Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Adji Al-Faraby menyimpulkan 3 alasan partai Islam mengalami kemerosotan di mata masyarakat pemilih. Partai Islam selama ini dalam kampanyenya dianggap terlalu menunjukkan simbol dan wacana yang sifatnya terlalu umum.



Seharusnya, menurut Adji, partai-partai Islam berbicara pada hal-hal yang lebih konkret, seperti menawarkan kesejahteraan pada masyarakat.



"Partai Islam harusnya berbicara pada konteks yang lebih konkret apa yang lebih ditawarkan dari sisi ekonomi, kesejahteraan rakyat," ujar Adji dalam acara polemik sindo yang bertajuk "Soal hasil survei, parpol Islam merosot" di Warung daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (20/10).



Sebab yang kedua, menurut Adji terkait masalah integritas. Masyarakat mengharapkan munculnya tokoh-tokoh Islam yang menjadi teladan. Jauh dari kasus-kasus korupsi yang selama ini menjadi penyakit moral bangsa ini. Tokoh-tokoh Islam yang memiliki daya integritas yang kuat menjadikan mereka berbeda dengan tokoh-tokoh dalam Partai Nasionalis yang lain pada umumnya.



"Diharapakan dari masyarakat munculnya tokoh-tokoh Islam di sisi integritas itu berbeda dengan dari partai nasionalis. Jauh dara kasus korupsi, dan bias moral," papar Adji.



Alasan ketiga, menurut Adji yakni adanya pihak-pihak yang melakukan upaya akomodatif terhadap kepentingan Islam. Hal ini yang menjadikan partai Islam kehilangan para pemilihnya dan beralih ke Partai Nasionalis.



"Nah ini sebenarnya juga jadi tantangan ketika partai nasionalis semakin akomodatif terhadap kepentingan Islam, jadi partai Islam kehilangan kepercayaan untuk dipilih. Karena partai nasionalis semakin mengakomodasi kepentingan Islam," imbuhnya.



Diketahui sebelumnya, Tokoh budayawan Betawi Ridwan Saidi dalam acara yang sama mengatakan bahwa partai Islam mengalami kemerosotan. Hal itu berdasarkan hasil survei LSI dalam Pilkada DKI Jakarta kemarin. Ridwan menyatakan para pemilih Islam saat ini tidak lagi memilih partai-partai Islam. Karena, banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain konflik antarumat muslim semakin banyak. Atas konflik tersebut, kepercayaan masyarakat dapat berpengaruh. Kemudian, partai Islam tidak menampilkan tokoh Islami yang dapat dipercayai masyarakat.



Mulai dengan

[war]   Minim tokoh Islami, penyebab partai Islam ditinggalkan

Reporter: Putri Artika RSabtu, 20 Oktober 2012 19:02:00

Figure terkait



Ridwan Saidi


PKB PKS PPP. ©2012 Merdeka.com



187





Adanya temuan relawan yang mengkafirkan umat Islam jika tidak memilih partai Islam ternyata menjadi bumerang terhadap kekalahan partai Islam itu sendiri.



Hasil survei LSI dalam Pilkada DKI Jakarta kemarin mencatat para pemilih yang beragam Islam ternyata tidak memilih partai Islam dan justru beralih ke partai nasionalis.



"Memang lo yang pegang kunci surga? Ini juga berulang di Pilkada DKI kemarin. Mereka juga memilih jalur agama sendiri, politik sendiri," sindir Budayawan Betawi Ridwan Saidi saat diskusi bertajuk 'Partai Islam Merosot' di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (20/10).



Menurut Ridwan, meskipun hasil survei itu untuk Pilkada DKI Jakarta, namun hal itu tetap menunjukkan dengan jelas bahwa masa kejayaan partai Islam telah berakhir. Dan pastinya, lanjut Ridwan, hal ini akan berdampak pada Pilpres 2014.



"Ini harus disadari bahwa partai Islam sudah berakhir," tandasnya.



Ridwan menambahkan salah satu sebabnya yakni adanya 'perang saudara', konflik antar sesama umat muslim. Atas konflik tersebut, kepercayaan masyarakat pun kemudian terpengaruh. Selain itu, partai Islam itu sendiri tidak dapat menampilkan tokoh Islami yang dapat dipercayai masyarakat.



"Lihat saja Pilkada DKI itu banyak pemilih Islam tapi malah tokoh Islam kalah," imbuhnya.



Mulai dengan

[bal]   Gus Dur dan Amien Rais tokoh Islam paling berpengaruh

Reporter: Putri Artika RSabtu, 20 Oktober 2012 15:15:08



Masyarakat sekarang ini sudah tidak terlalu menaruh simpati pada tokoh-tokoh Islam. Hanya ada dua tokoh yang masih dipercaya yakni mantan Presiden Abdurahman Wahid dan mantan Ketua MPR Amien Rais.



"Setelah Amin dan Gus Dur belum ada tokoh yang menggantikan," ujar Peneliti LSI Adji Al-Faraby, Sabtu (20/10).



Menurut Adji, Amin dan Gus Dur mempunyai pemikiran yang luar biasa yang dapat mempengaruhi para kadernya. Selain itu, mereka juga didaulat memiliki prestasi yang bagus dan merupakan pemimpin Ormas. Dari sini lah mereka mempunyai basis massa yang punya loyalitas tinggi.



"Ini jadi modal untuk tokoh-tokoh ini. Proses kaderisasi melalui ormas juga sangat penting," katanya.



Adji mengatakan, dua tokoh di atas itu masih dapat menjadi panutan dan menjaga citra partai Islam. Adji menyebut tidak seperti tokoh Islam yang terkini yakni Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Menteri Agama Suryadharma Ali yang tidak bisa menjadi panutan masyarakat.



"Dari sisi prestasi SDA dan Muhaimin tidak menonjol. Dari pemberitaan media punya indikasi kasus di kementeriannya ini kemudian merusak citra tokoh Islam. Harapan masyarakat kepada tokoh Islam lebih kepada tokoh nasionalis," ujar Adji.



Menurut Adji, hal ini bukan saja dialami oleh para partai Islam melaikan juga dari partai nasionalis. "Saya pikir bukan hanya partai Islam tapi partai nasionalis juga mengalami fenomena yang sama, seperti Demokrat. Artinya masyarakat pun makin cerdas memilih dari perilaku yang dinilai buruk," tandasnya.



[did]   empat partai Islam makin terpuruk

Reporter: Putri Artika RSabtu, 20 Oktober 2012 16:04:58


PKS. ©2012 Merdeka.com



3





Menjelang pemilihan umum 2014, beberapa partai Islam diramalkan tidak diminati para pemilih. Hal itu diduga lantaran para pemilih partai Islam semakin pesimis dengan para tokohnya.



"Peluang partai Islam menjelang pemilihan umum 2014 terlihat semakin kecil dukungannya. Seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan," kata Peneliti Lingkaran Survey Indonesia, Adjie Al Faraby di Jakarta, Sabtu (20/10).



Menurut Adji, berdasarkan hasil survei LSI dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta beberapa waktu lalu, dukungan terhadap partai Islam semakin terpuruk. Sedangkan menurut dia, malah popularitas partai non-Islam makin meningkat.



"Kami identifikasikan partai Islam dukungannya hanya di bawah lima persen, sedangkan partai non-agama dukungannya di atas lima persen," ujar Adjie.



Adji menambahkan, terpuruknya pamor beberapa partai Islam itu berimbas kepada pudarnya popularitas beberapa tokoh partai Islam itu. Menurut dia, tingkat keterpilihan para pentolan partai Islam macam Suryadharma Ali, Hatta Radjasa, Muhaimin Iskandar, dan Luthfi Hassan Ishaq masih di bawah 60 persen. "Tingkat pengenalan masyarakat masih kalah jauh dibanding Megawati yang di atas 60 persen," lanjut Adjie.



Mulai dengan

[dan]

Tidak ada komentar: