Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Senin, 01 Oktober 2012

Menyibak kedekatan Letkol Untung dan Soeharto

Menyibak kedekatan Letkol Untung dan Soeharto

Senin, 1 Oktober 2012 07:08:00
Reporter: Ramadhian Fadillah/Moch. Andriansyah

Menyibak kedekatan Letkol Untung dan Soeharto
Letkol Untung. wikipedia.org
Akhir bulan Maret 1966, sepasukan tentara menjemput Letnan Kolonel Infanteri Untung Sjamsuri dari Rumah Tahanan Tjimahi, Bandung. Untung dihadapkan kenyataan pahit. Hukuman matinya jadi dilakukan. Pertolongan dari Mayjen Soeharto yang diharapkannya tak kunjung tiba.

Untung tampak kalut, tapi kemudian dia mencoba menguatkan dirinya. Pada Subandrio, mantan perdana menteri, yang sama-sama dijatuhi hukuman mati, Untung berpamitan.

"Selamat tinggal Pak Ban. Jangan sedih. Empat hari lagi kita bertemu di sana," kata Untung pada Subandrio. Demikian ditulis Subandrio dalam buku Yang Saya Alami Peristiwa G30S, Sebelum, Saat Meletus dan Sesudahnya.

Subandrio melukiskan saat itu Untung mengatakan perpisahan dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, tetapi Untung tidak menangis. Tapi Subandrio tahu Untung panik, dia benar-benar tidak menyangka dikhianati Soeharto.

Sebelumnya, Untung selalu menyatakan keyakinanannya akan diselamatkan Soeharto. Untung meyakini Soeharto pun tahu soal dewan jenderal dan rencana penculikan oleh Gerakan 30 September.

"Percayalah Pak Ban. Vonis untuk saya itu mungkin hanya sandiwara," kata Untung.

Tapi pertolongan dari sang sahabat tak kunjung datang. Untuk ditembak di sebuah desa di Cimahi, Bandung.

Beberapa sumber menyebutkan Untung memang dekat dengan Soeharto. Untung sebenarnya bernama Koesman. Dia lahir 3 Juli 1926 di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah. Koesman ikut bersama pasukan pemberontak saat meletus pemberontakan PKI tahun 1948. Tapi kemudian pemeriksaan terhadap para pelaku pemberontakan tak dilakukan. Agresi militer Belanda II keburu meletus. Koesman mengganti namanya dengan Untung Sutopo. Dia malah kemudian bisa masuk sekolah perwira.

"Untung adalah bekas anak buah Soeharto ketika dia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 444 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI, Alimin," jelas Sejarawan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Aminuddin Kasdi kepada merdeka.com.

Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Untung dan Soeharto berhubungan erat saat Operasi Trikora merebut Irian Barat. Untung akhirnya menjadi Komandan Batalyon I Cakrabirawa. Seharusnya Benny Moerdani yang masuk ke Cakrabirawa, namun saat ditawari Soekarno, Benny menolak.

"Hubungan Untung dan Soeharto cukup erat apalagi Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny Tien Soeharto," lanjut Aminuddin.

Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G30S meletus. Kedatangan komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak. Namun, seperti ada sesuatu yang tidak wajar, masih menurut Aminuddin, adalah ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut.

"Ini bisa dilihat dari jarak Jakarta-Kebumen. Itu bukanlah jarak yang dekat, belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit."

Setelah G30S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri, dia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. "Ketika tertangkap, dia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G30S."

Mahkamah Militer Luar Biasa mengganjar Letnan Kolonel Infanteri Untung Sjamsuri dengan hukuman mati. Untung terbukti bersalah melakukan kejahatan luar biasa yang menyebabkan enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama TNI AD tewas.

Saat senja merekah merah, hidup Untung pun berakhir. Nasibnya tak seperti namanya.
[ian]


Ketika pasukan Letkol Untung kalah karena nasi bungkus

Senin, 1 Oktober 2012 07:36:00
Reporter: Ramadhian Fadillah

Ketika pasukan Letkol Untung kalah karena nasi bungkus
Letkol Untung. wikipedia.org
Gerakan 30 September berhasil menculik enam jenderal dan seorang perwira TNI AD. Tapi dalam waktu singkat, pasukan Mayjen Soeharto yang terdiri dari Kostrad dan RPKAD berhasil mencerai-beraikan kekuatan militer yang dipimpin Letkol Untung. Hanya dalam waktu dari 24 jam, Soeharto memutarbalikkan situasi.

Saat itu pasukan G30S berkekuatan satu batalyon Cakrabirawa, satu batalyon dari Brigif I Kodam Jaya, satu batalyon Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). Lalu ditambah Batalyon 530 Raiders Jawa Timur dan Batalyon 454 Raiders dari Jawa Tengah. Lalu ada 2.000 sukarelawan yang dilatih PKI di Lubang Buaya. Sekadar catatan, satu batalyon umumnya berkekuatan 500-700 orang.

Faktanya jauh berbeda. Hanya sekitar satu kompi Cakrabirawa berkekuatan 60 orang yang ikut. Dari Brigif I juga hanya 60. Dari PPP ada 700 pasukan, sementara PGT tak ada. Yang cukup banyak adalah Batalyon 530 dan 454. Dua pasukan elite ini berkekuatan masing-masing 500 orang.

Untung membagi tiga pasukannya. Pasukan Pasopati (Cakrabirawa dan Brigif) bertugas menculik para jenderal, Bimasakti (Yon 454 dan Yon 530) bertugas mengawal kawasan Monas dan merebut RRI serta Telkom. Lalu pasukan Gatotkaca yang menjaga Lubang Buaya (Terdiri dari PPP dan sukarelawan).

Kekalahan Untung dkk terjadi karena buruknya perencanaan. Saat Presiden Soekarno memerintahkan Brigjen Soepardjo, (Wakil Letkol Untung) untuk menghentikan kegiatan, Soepardjo dan pimpinan lain setuju. Mereka bingung karena tidak punya rencana B alias cadangan.

Tidak jelas pula siapa yang memegang komando. Brigjen Soepardjo dan Kolonel Latief yang pangkatnya lebih tinggi, justru menjadi wakil Untung. Belum lagi pengaruh Sjam dan Pono, dua orang dari Biro Chusus PKI.

"Rencana operasinya ternyata tidak jelas. Terlalu dangkal. Titik berat hanya pada pengambilan tujuh jenderal saja. Bagaimana kemudian bila berhasil tidak jelas. Kalau gagal juga tidak jelas," tulis Soepardjo seperti dikutip John Roosa dalam bukunya Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto.

Dalam peperangan, skenario mundur bukan pengecut. Dalam setiap pertempuran selalu ada skenario mundur. Tetapi ini tidak berlaku untuk G30S. Semangat mengalahkan logika.

Saat Soepardjo menanyakan hal itu, Sjam dan yang lain langsung memotong. "Ya Bung. Kalau mau revolusi banyak yang mundur. Tetapi kalau sudah menang banyak yang ikut."

Satu kesalahan fatal lain adalah soal logistik. Untung kehilangan banyak pasukannya gara-gara nasi bungkus. Pasukan Bimasakti yang terdiri dari Yon 530 dan Yon 454 berjaga sehari penuh di Lapang Monas.

Tapi tak ada yang mencukupi kebutuhan mereka. Tanggal 1 Oktober 1965 dari pagi hingga petang, pasukan itu tak diberi makan.

Maka ketika Soeharto mengutus utusannya untuk membujuk Yon 530 agar kembali ke Kostrad tawaran itu dipenuhi.

"Masuk berita lagi bahwa pasukan sendiri dari Yon Jateng dan Yon Jatim tidak mendapat makanan. Kemudian menyusul berita Yon Jatim minta makan ke Kostrad. Penjagaan ditinggalkan begitu saja."

"Semua Kemacetan gerakan pasukan disebabkan di antaranya tidak ada makanan. Mereka tidak makan semenjak pagi, siang dan malam. Hal ini baru diketahui pada malam hari ketika ada gagasan untuk dikerahkan menyerang ke dalam kota," kata Supardjo.

Tapi terlambat. Yon 530 sudah bergabung dengan Kostrad dan Yon 454 sudah berada di sekitar Halim. Tak mungkin lagi memerintahkan mereka menyerang.

Soal makanan untuk pasukan, Soepardjo punya analisa sendiri. Tapi saat itu dia berada di bawah komando Untung. Padahal jika Soepardjo yang memimpin mungkin hasilnya akan berbeda. Bagaimana pun seorang jenderal tentunya lebih cakap daripada seorang letnan kolonel.

"Ada dua jalan yang bisa ditempuh. Pertama: Komandan Batalion diberi wewenang untuk merektuir makanan di tempat-tempat ia berada. Hubungan dengan penduduk atau mengambil inisiatif membuka gudang-gudang makanan. Separo bisa dimakan dan selebihnya diberikan pada rakyat," demikian analisa jenderal bintang satu ini.

Maka karena nasi bungkus dan logistik Untung dan pasukan G30S kalah sebelum berperang. Sejarawan Petrik Metanasi meyakini, Untung memang tak siap melakukan kudeta.

"Kalau memang dia berniat untuk itu, tentunya dia mempersiapkan makanan, logistik. Tapi ini tidak. Misi Untung hanya menculik tujuh jenderal," ujar Petrik saat berbincang dengan merdeka.com.

Untung memang bukan politisi. Setelah dia menculik para jenderal, dia berharap PKI akan melakukan aksi massa untuk mendukung gerakan tersebut. Tapi tidak terjadi. Yang terjadi lebih dari satu juta anggota PKI dibantai oleh Soeharto dan masyarakat antikomunis.
[ian]

G30S, kudeta bingung Letkol Untung

Senin, 1 Oktober 2012 06:08:00
Reporter: Ramadhian Fadillah
G30S, kudeta bingung Letkol Untung
Letkol Untung. wikipedia.org
Sejumlah pertanyaan masih menyelimuti peristiwa kelam 1 Oktober 1965 lalu. Siapa memanfaatkan siapa?

Benarkah Letkol Infanteri Untung Sjamsuri adalah otak di balik peristiwa ini. Ataukah Untung hanya dimanfaatkan oleh Ketua CC PKI DN Aidit? Atau justru Soeharto yang memanfaatkan Untung?

Sejarawan Petrik Metanasi menilai Untung bukanlah otak Gerakan 30 September. Benar kala itu Untung yang memimpin gerakan militer untuk menculik para jenderal ke Lubang Buaya. Tapi dia meyakini kalau Untung bukanlah pimpinan utama. Untung hanyalah komandan pasukan militer Gerakan 30 September.

"Kita lihat Untung adalah sosok prajurit yang kurang pandai berpolitik. Untung terlibat gerakan itu mungkin karena mendengar isu Dewan Jenderal. Sebagai Komandan Batalyon Cakrabirawa, Untung merasa punya kewajiban menyelamatkan Soekarno," kata Petrik saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (28/9).

Saat aksi 30 September, memang tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Tapi satu hal yang pasti sebagaimana kebiasaan komunis, politik mengendalikan tentara. Dalam G30S, Kepala Biro Chusus PKI Sjam Kamaruzaman justru yang lebih dominan mengendalikan gerakan itu. Empat perwira militer, Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief, Letkol Untung dan Mayor Soejono, berada di bawah kendali Sjam.

Biro Chusus PKI adalah lembaga rahasia yang bertugas merekrut para anggota militer untuk kepentingan PKI. Tak semua petinggi PKI tahu soal biro chusus ini. Hanya Ketua Comite Central (CC) PKI DN Aidit yang mengendalikan mereka.

Dalam pengakuannya soal G30S, Brigjen Soepardjo juga mengaku bingung. Sebagai jenderal yang biasa memegang komando dan bekerja secara cermat, Soepardjo bingung dengan organisasi G30S.

"Apa yang terjadi pada waktu itu adalah suatu debat, atau diskusi yang langdradig (tak berujung pangkal), sehingga kita semua bingung melihatnya. Siapa sebenarnya komandan? Kawan Sjamkah? kawan Untungkah? kawan Latifkah?" Mengenai hal ini perlu ada peninjauan yang lebih mendalam karena letak kegagalan kampanye di ibu kota sebagian besar karena tidak ada pembagian komandan dan kerja yang wajar," tulis Soepardjo seperti dikutip John Roosa dalam buku Dalih Pembunuhan Massal.

Soepardjo juga menyayangkan Untung tak berbuat sesuatu saat musuh dalam kondisi bingung. Kala itu seharusnya Untung bisa melakukan tindakan, memukul satuan-satuan militer yang tak mendukung G30S, atau mengambil kendaraan lapis baja untuk memperkuat posisi mereka.

"Radio RRI yang kita kuasai juga tidak kita manfaatkan. Sepanjang hari hanya dipergunakan untuk membacakan pengumuman saja. Harusnya radio digunakan semaksimal mungkin oleh barisan agitasi propaganda," tulis Soepardjo.

Maka setelah para jenderal dibunuh dan Presiden Soekarno memerintahkan Gerakan 30 September menghentikan aksinya, yang terjadi adalah kekalutan. Untung bingung, tak tahu harus melakukan apa.

Secara nyata memang pasukannya kalah jauh dengan pasukan Kostrad Mayjen Soeharto yang didukung RPKAD.
Untung membubarkan pasukannya. Dia kemudian lari ke Jawa Tengah. Sebagai komandan, seharusnya Untung memberikan keterangan kemana harus lari, lalu dimana daerah aman. Kapan bertemu kembali. Tapi pasukan itu dibubarkan seperti membubarkan anak ayam.

Wakil Perdana Menteri kepercayaan Soekarno, Soebandrio, juga punya analisa sendiri. Soebandrio menyebut tanggal 15 September 1965, Untung menemui Soeharto. Untung melaporkan akan ada aksi Dewan Jenderal. Dia pun mengaku akan menangkap para jenderal itu dengan kapasitasnya sebagai komandan batalyon Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden.

Apa kata Soeharto? "Bagus kalau kamu punya rencana begitu sikat saja. Jangan ragu-ragu. Kalau perlu bantuan akan saya bantu," tutur Soebandrio.

Soeharto menawarkan pasukan bantuan yaitu Yon Raiders 530 dari Jatim dan Yon 454 dari Jateng.

Kebetulan menjelang HUT ABRI 5 Oktober. Pasukan inilah yang pada 1 Oktober stand by di Lapangan Monas depan Istana Negara.

Tapi pasukan ini ternyata tak bisa diandalkan Untung. Yon 530 segera kembali saat diminta Soeharto kembali ke Kostrad. Yon 545 mundur ke Lubang Buaya dan sempat terlibat baku tembak dengan RPKAD. Tak ada dukungan logistik membuat dua pasukan ini kocar-kacir.

Maka sejarawan Petrik Metanasi meragukan jika Untung benar-benar siap melakukan kudeta. Untung hanya menjadi pimpinan gerakan militer, bukan operasi seluruhnya.

"Untung tak siap. Dia tidak punya rencana matang," kata Petrik.

Maka Untung harus membayar kudeta bingungnya dengan eksekusi mati di depan regu tembak Soeharto. Ironisnya, sampai saat terakhir dia masih berharap Soeharto akan datang menyelamatkannya.
[ian]

Gerakan 30 September, layu sebelum berkembang

Senin, 1 Oktober 2012 05:08:00
Reporter: Ramadhian Fadillah
Gerakan 30 September, layu sebelum berkembang
G30S PKI. wordpress.com
Pada 1 Oktober 1965 dini hari, para prajurit yang diberi nama Pasukan Pasopati pimpinan Letnan Satu Dul Arif bergerak menuju kawasan Menteng. Mereka bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 dini hari. Pasukan itu berasal dari unsur Cakrabirawa, Brigif Kodam Jaya, serta unsur Pemuda Rakyat.

Para penculik berhasil menangkap Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi), Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen) dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat). Tapi target utama mereka Menhankam Jenderal TNI Abdul Harris Nasution lolos. Malah ajudan Nasution, Lettu Pierre Tendean yang diangkut ke Lubang Buaya.

Sementara itu tim penculik menembak mati di tempat Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat), Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) serta Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan).

Di sinilah kebingungan mulai melanda para pimpinan Gerakan 30 September. Awalnya mereka hanya berencana menculik para jenderal, lalu memaksa para jenderal mengakui keterlibatan mereka dalam dewan jenderal. Setelah itu, menyerahkannya pada Presiden Soekarno. Tapi kini tiga jenderal sudah tewas.
Di tengah kekalutan pula tiga jenderal yang tersisa dan Letnan Tendean dieksekusi mati di Lubang Buaya.

Apakah para jenderal disika? Ya. Mereka ditusuk bayonet dan dipukul dengan popor senapan. Tapi hasil visum menunjukkan tidak ada pencungkilan mata atau pemotongan kelamin.

Ada empat perwira utama dalam Gerakan 30 September. Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief, Letkol Untung dan Mayor Soejono. Secara pangkat, Soepardjo yang berpangkat paling tinggi harusnya menjadi pimpinan. Tapi dalam gerakan itu, Soepardjo dan Latief malah menjadi wakil Letkol Untung.

Tapi bukan Untung pula yang berkuasa 100 persen. Ada Sjam dan Pono dari Biro Chusus PKI. Lalu ada Ketua Comite Central PKI DN Aidit yang juga ikut mengatur.

Maka tanggal 1 Oktober lewat RRI pukul 07.15 WIB, Gerakan 30 September mengumumkan telah menculik para jenderal yang dituduh akan membahayakan revolusi dan mendongkel Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi. Gerakan ini hanya merupakan gejolak di TNI AD, di mana perwira junior menculik para jenderal untuk mengamankan revolusi. Mereka juga menyebut Soekarno berada dalam perlindungan mereka.

Mereka tidak jujur dengan pengumuman tersebut. Fakta semua jenderal sudah dibunuh tidak dimasukkan. Begitu juga dengan Soekarno. Tidak benar pagi itu Soekarno berada dalam perlindungan mereka.

Kenyataannya, Brigjen Soeparjo berangkat pada pagi hari ke Istana mencari Soekarno. Tidak ada Soekarno di Istana. Saat itu Soekarno sedang berada di rumah salah satu istrinya. Baru setelah siang Soekarno berangkat ke Halim, itu pun bukan untuk menemui pimpinan Gerakan 30 September.
Saat itu para pengawal Soekarno merasa posisi paling aman adalah berada dekat pesawat terbang. Sehingga jika ada sesuatu, Soekarno bisa segera diterbangkan. Di Halim Perdanakusuma, pesawat jet star kepresidenan selalu siap membawa Soekarno terbang ke mana pun. Soekarno tak tahu Pimpinan Gerakan berada di Halim.

Saat Soekarno berada di Ruang Koops Halim. di sinilah Soepardjo meminta izin menghadap Soekarno. Sebagai Jubir G30S, Soepardjo melaporkan soal penculikan dan pembunuhan itu. Soepardjo menjelaskan soal isu dewan jenderal. Saat itu Soekarno tidak menutuk G30S. Tapi Soekarno juga tidak mendukung mereka. Padahal dukungan Soekarno inilah yang paling diharapkan para aktor G30S.

"Ja zo iets in een revolutie kan gebeuren (hal semacam ini akan terjadi di dalam suatu revolusi)." kata Soekarno.

Lalu Soekarno minta agar semua pihak tidak bergerak. Dia meminta pasukan G30S menghentikan aksinya. Jenderal Soepardjo menyanggupinya.

Tapi sebagai jenderal dengan 20 tahun pengalaman tempur, pagi itu juga Soepardjo sudah sadar. Pasukannya sudah kalah sebelum bertempur.

Soepardjo lalu menemui Untung, dia minta mengambil alih komandan pasukan dari Untung. Tapi Untung menolaknya. Dia mematuhi permintaan Soekarno. Untung kemudian membubarkan pasukannya. Sebagian langsung lari menuju Jawa Tengah. Gerakan tersebut kocar-kacir, hanya dalam waktu 24 jam.

Cuma 24 jam gerakan ini eksis. Layu sebelum berkembang. Harapan para pimpinannya agar aksi ini meluas tak kesampaian.

Kemudian nasib Soepardjo, Untung, Sjam, Aidit kemudian juga tak lebih baik dari jenderal yang mereka culik. Semuanya tewas di ujung peluru tentara Soeharto. Tragis.

[ian]

Tidak ada komentar: