Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Senin, 03 September 2012

Kabayuran pemasok kayu Batavia

Rabu, 29 Agustus 2012 07:00:00
Sedjarah Djakarta (1)

Kabayuran pemasok kayu Batavia


Kabayuran pemasok kayu Batavia
Kegiatan di sebuah sungai di Jakarta. (kitlv.victura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Dalam artikel Kampung-kampung Tua karya Ali Shahab, Kebayoran berasal dari kata kabayuran, berarti tempat menimbun kayu bakar. Kabayuran juga jenis kayu banyak digunakan dalam pertukanngan karena kuat dan tahan rayap.

Bukan hanya kabayuran, di sana juga lokasi menimbun beragam kayu. Gelondongan kayu ini kemudian dihanyutkan ke pusat Kota Batavia melalui aliran Kali Grogol dan Kali Krukut.

FDJ Pangemanan dalam cerita Si Tjonat dimuat di surat kabar Bintang Betawi pada 1894 mencatat Kebayoran di zaman Belanda masih hutan belantara. Inilah yang membuat daerah itu menjadi pemasok kayu utama bagi Batavia.

Menurut Kepala Departemen Sejarah Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso, Kebayoran termasuk kampung baru di Jakarta muncul pada pada akhir abad ke-19. “Kebayoran itu baru dirancang oleh Belanda pada 1930-an. Itu masih baru hitungannya. Yang tua itu Tanah Abang, Jatinegara," kata Bondan saat ditemui merdeka.com, Selasa dua pekan lalu.

Belanda membangun Kebayoran sebagai penyangga Batavia Bahkan, menurut rencana, di sana bakal dibangun bandar udara internasional. Namun, Belanda gagal mewujudkan hal itu karena meletus Perang Dunia Kedua.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah meneruskan rancangan Kebayoran sebagai kota penyangga. Sejumlah kantor pemerintah dan permukiman penduduk juga digarap.

Dalam cacatan Alwi Shahab, Sejarah Kebayoran Baru, Kebayoran didirikan dengan konsep kota taman. Rencananya, pembangunan dimulai akhir 1948, tapi karena Belanda berupaya merebut kembali Indonesia, pengerjaannya baru dimulai setahun kemudian.

Pengembangan kawasan Kebayoran itu langsung dipegang Dinas Pekerjaan Umum hingga 1958. Arsiteknya adalah Mohamad Soesilo. Dia termasuk tiga arsitek senior Indonesia saat itu bersama Frederich Silaban (arsitek Masjid Istiqlal) dan Liem Bwan Tjie (perancang Pasar Johar, Asemarang, Jawa Tengah).

Mohamad Soesilo menggambar Kebayoran Baru dengan memperbanyak taman, mengadopsi kota taman di Belanda. Karena itu, dia menetapkan sepertiga dari luas wilayah mesti ruang terbuka hijau. Kebayoran Baru juga

dibangun dengan sistem blok, mulai BLok A hingga Blok S. Sampai sekarang masih tersisa sejumlah taman di Kebayoran Baru, seperti Langast, Puring, Leuser, Barito, dan Taman Christina Marta-Tiahahu.

Sebagai kota penyangga, Kebayoran Baru dilengkapi pelbagai fasilitas umum. Mulai dari sekolah, rumah sakit, dan pusat belanja terkenal adalah Blok M dan Pasar Mayestik. Juga terdapat pusat pembuangan sampah yang kini berubah menjadi permukiman.

Meski begitu, warga setempat masih menyebut lokasi pembuangan sampah itu dengan sebutan Velbak, merujuk pada kata Belanda vuilnisbak atau tempat pembuangan sampah. Lokasi Velbak tepat berada di atas Kali Grogol yang membatasi kecamatan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama.

Menurut M. Sidiq, 58 tahun, warga asli Velbak, dulu anak-anak tinggal di kawasan Kebayoran Baru, terutama dekat Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang sekarang, disebut dengan istilah anak gedongan.

Seperti Menteng di Jakarta Pusat, Kebayoran Baru adalah kawasan elite di Jakarta Selatan.
[fas]
Rabu, 29 Agustus 2012 08:00:00Sedjarah Djakarta (2)

Tidak resah hidup di tempat sampah


Tidak resah hidup di tempat sampah
Gerobak pengangkut sampah di Surabaya sekitar 1911. (http://kitlv.pictura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Setiap datang truk bertulisan Hotel Indonesia, anak-anak di sekitar Velbak akan segera menyerbu tumpukan sampah telah ditumpahkan. Mereka berebut memilah sampah-sampah dianggap layak pakai atau pantas jual.

Mulai dari handuk, bungkus rokok, pecahan kaca, hingga piring dan gelas masih bisa dipakai. Oleh mereka, kemasan rokok biasanya akan digunakan untuk bermain dan taruhan. Sedangkan pecahan kaca bakal dijual kepada pengepul barang bekas. Piring dan gelas kotor akan dibawa ke rumah dan dibersihkan, meski ada cacat sedikit di sana-sisni.

Itulah suasana Velbak pada 1960-an seperti tuturkan Darwawan, 56 tahun, Ketua Rukun Tetangga 01/02 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Velbak sebagai pembuangan sampah tidak dianggap sebagai sumber masalah, malah ladang uang. “Pemulung kawasan Velbak dulu orang-orang sekitar pembuangan sampah,” kata Darmawan saat ditemui merdeka.com pada Kamis siang pekan lalu.

Darmawan bersama teman-teman sebanyanya juga ikut memulung barang bekas di Velbak. Bukan karena tidak diberi uang oleh orang tua mereka, namun buat senang-senang. Velbak saat dia kecil masih jarang penduduk. Rata-rata rumah berpekarangan luas dan tiap keluarga memiliki kebun. Darmawan mengaku dari keluarga berkecukupan, tapi dia tidak pernah gengsi berenang di Kali Grogol. Kadang orang tuanya mengajak dia berenang di Senayan.

Walau tinggal di tempat pembuangan sampah, namun, menurut Darmawan, warga sekitar tidak membuang sampah di sana. Saban rumah membikin lubang buat menimbun sampah. Mereka juga tidak membuang sampah ke Sungai Grogol. Sehingga airnya tetap jernih dan bisa dipakai buat mandi dan berwudu.

Tempang pembuangan sampah Velbak ketika itu seluas 1,5 hektare. Arealnya dari tembok kompleks Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan hingga bantaran Kali Grogol yang sekarang membatasi kelurahan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama. “Bayangkan, tidak begitu luas kan,” ujar Darmawan. Jika sudah menumpuk, sampah-sampah di Velbak dipindah ke daerah lebih rendah.

Darmawan mengungkapkan warga Velbak juga sehat meski tinggal dekat lokasi pembuangan samapah. Rata-rata bisa hidup di atas 70 tahun. Sebab, masa itu sirkulasi udara masih bagus dan permukiman belum padat.

Perlahan, permukiman di Velbak kian ramai. Lokasi pembuangan sampah dipindah ke Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Sayangnya, perubahan itu diikuti pergantian kebiasaan masyarakat yang kini tidak lagi peduli kebersihan. “Meski zaman sudah berubah, mestinya kesadaran lingkungan harusnya tetap sama,” ujar Darmawan.
[fas]
Sedjarah Djakarta (3)

Batavia, Ratu dari Timur


Batavia, Ratu dari Timur
Taman Wilhelmina sekitar 1910. (http://kitlv.pictura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Saat pemerintahan kolonial Belanda masih menguasai Batavia, mereka sangat tegas mengatur masalah kebersiah, termasuk urusan buang sampah. Warga dilarang membuang barang-barang bekas ke sungai.

Bahkan konon diterapkan sistem denda jika ada yang melanggar. Aturan itu semakin ketat pada pertengahan abad ke-19. Batavia ketika itu sedang menjadi buah bibir kalangan orang Eropa. Batavia mendapat julukan Ratu dari Timur lantaran sungai-sungainya bersih dan menjadi sarana transportasi.

Menurut Alwi Shahab, wartawan senior banyak menulis tentang Jakarta, kebersihan bisa tercipta di Batavia lantaran aturan jelas dan hukum ditegakkan secara tegas. Warga sadar dan mengelola sampah sendiri. Tiap rumah mempunyai lubang khusus untuk sampah berukuran 1x1 meter dengan kedalaman satu meter.

Lubang penimbunan sampah itu biasanya dibuat di pekarangan. Jika lubang sudah penuh, dibuat lubang baru, juga masih di halaman rumah. “Kondisi saat itu memungkinkan karena tiap rumah memiliki pekarangan luas,” ujar Alwi saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya kemarin sore.

Kegiatan kebersihan zaman kolonial biasanya dilakukan pagi dan sore. Orang tua akan menyuruh anak-anak mereka membersihkan rumah hingga teras. Setelah sampah dikumpulkan, ditumpuk, lalu dibakar. Dalam bahasa Betawi, kegiatan itu disebut naman nabun atau membakar sampah.

Dalam waktu bersamaan, petugas kebersihan pemerintah kolonial membersihkan dan menyiram jalan-jalan. Selain agar terlihat bersih, untuk mengurangi debu dibawa angin. Sampah-sampah dari kantor pemerintah dibuang ke daerah-daerah pinggiran Batavia. Alwi menyebut tidak ada tempat pembuangan akhir, seperti Bantar Gebang sekarang.

Dia mengungkapkan tempat pembuangan sampah atau Velbak tersebar di pelbagai lokasi. Paling terkenal adalah velbak di Tanah Abang yang kini menjadi kompleks pemakaman umum. Sedangkan nama kampung Velbak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dibuat pada akhir abad ke-19.

Alwi menegaskan saking bersihnya, Batavia ketika itu indah dan nyaman ketimbang Singapura yang menjadi jajahan Inggris. Sayang, sekarang kondisinya terbalik. Singapura bersih dan jernih, tapi Jakarta jorok dan bobrok.
[fas]

Tidak ada komentar: