Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Rabu, 14 November 2012

Menusuk Penjajah dengan Pena

Menusuk Penjajah dengan Pena



Bung Karno belum lama ini menerima anugerah gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah RI. Di era kepemimpinan Soeharto, ia (dan Hatta) dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator. Lepas dari pro dan kontra, saya pribadi memandangnya sebagai sebuah aliran sejarah.
Sejarah tentang anak bangsa yang melesat bak meteor ke penjuru dunia, kemudian jatuh terpuruk dan dibinasakan (hingga ke karya-karyanya, pemikiran-pemikirannya, bahkan jasa-jasanya). Sejarah telah mengalirkan kebenaran, seberapa pun upaya manusia membengkokkannya.
Sayang, belum ada tokoh pers Indonesia yang memaknai perjuangan Bung Karno dari sisi jurnalistik. Dalam beberapa kali Bung Karno berurusan dengan pemerintahan kolonial Belanda, semua bersangkutan dengan status kewartawanannya. Semua terkait dengan tulisan-tulisan yang dia publikasikan di tiga media yang ia pimpin sekaligus.
Melalui pena, tulisan, Bung Karno menggembleng rakyat Indonesia. Ia menulis (terutama) di dalam tiga majalah yang dipimpinnya, yaitu “Suluh Indonesia Muda”, “Persatuan Indonesia”, dan “Fikiran Rakjat”. Tokoh lama menyebutnya sebagai trio majalah, tiga tunggal.
“Suluh Indonesia Muda” terbit tiap bulan, merupakan suara dari “Indonesiche Studieclub” Surabaya dan “Algemeene Studieclub” Bandung. Majalah ini dipimpin dan diterbitkan oleh Sukarno sendiri, dengan segala biaya yang ia kumpulkan dari honorariumnya sebagai seorang arsitek. Edisi perdana “Suluh Indonesia Muda” terbit bulan Desember 1927.
Beberapa tulisan Bung Karno yang dipublikasikan melalui majalah itu antara lain, “Swadeshi dan Massa Actie dan Indonesia”, lalu “Tjatatan atas Pergerakan Lijdelijk Verzet”. Baru dua tahun terbit, majalah itu terhenti antara tahun 1929-1930-1931 karena Bung Karno dijebloskan penjara. Nah, tahun 1932 terbit kembali pada bulan Mei. Kemudian, November tahun yang sama berhenti terbit lagi, karena Bung Karno kembali diringkus dan dibuang ke Ende.
Kemudian majalah “Fikiran Rakjat”, Bung Karno yang bertindak sebagai penerbit sekaligus pemimpinnya, tidak tanggung-tanggung dalam mempropagandakan. Ia dengan tulisan tangannya, dicetak dengan tinta merah, terpampang di halaman depan. Bunyinya, “Kaum Marhaen! Inilah Madjalah Kamoe! Soekarno!”
Terbit mulai 15 Juni 1932, dan terbit terakhir tercatat nomor (edisi) 52, 21 Juli 1933. Sedangkan di nomor 54, dibeslag (dibreidel) Belanda. Tulisan-tulisan Bung Karno yang menyengat di majalah ini antara lain, “Maklumat Bung Karno kepada Kaum Marhaen Indonesia”, “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi”, “Socio Nationalisme dan Socio Demokrasi”, “Orang Indonesia Tjukup Nafkahnja Sebenggl Sehari”, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, “Djawaban Saja pada Sdr. M. Hatta”, “Sekali lagi, Bukan Banjak Bitjara, Bekerdjalah, tetapi Banjak Bitjara, Banjak Bekerdja”, “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”, “Reform Actie dan Doels Actie”, “Bolehkah Sarekat Sekerdja Berpolitik?”, “Marhaen dan Marhaeni, Satu Massa Actie”, “Membesarkan Fikiran Rakjat”, Azas-azas Perdjuangan Taktik”, “Marhaen dan Proletar”.
Lalu majalah ketiga, “Persatuan Indonesia”, terbit setengah bulanan, tersedia untuk menyokong pergerakan nasional Indonesia. Majalah ini terbit pertama kali 15 Juli 1928. Beberapa artikel Bung Karno yang dimuat di majalah ini, antara lain, “Melihat Kemuka…”, “Tempo jang tak Dapat Dikira-kirakan Habisnja”, “Indonesianisme dan pan Asiatisme”, “Kearah Persatuan, Menjambut Tulisan H.A. Salim”, “Pidato Ir Sukarno pada tanggal 15 September 1929″, “Kewajiban Kaum Intelektual terhadap kepada Pergerakan Rakjat”, “Soal Pergerakan Wanita”.
Lalu majala itu pun terhenti karena Bung Karno dibekuk Belanda dan ditahan sejak 29 Desember 1929. Setelah mendekam di tahanan, “Persatuan Indoenesia” dioper oleh Inggit Garnasih, istrinya, dan diteruskan terbitnya dengan bantuan Mr Sartono dan teman-teman pergerakan yang lain.
Sekeluar dari penjara, Bung Karno menulis lagi, “Sendi dan Azas Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Majalah “Persatuan Indonesia” nomor 177 itu pun kontan dibreidel pemerintah penjajah (Belanda).
Perjuangan yang gigih, tidak hanya dalam diplomasi, tetapi menyebarkan agitasi, propaganda, dan menyerukan semangat Indonesia Merdeka pada masa penjajah, tentu saja bukan tindakan ringan. Perlu keberanian luar biasa untuk menentang dominasi penjajah. Bukan hanya penjara taruhannya, tetapi nyawa. (roso daras)

Tentang “Master Mind” Gestok

Adalah seorang tokoh Sukarnois, saksi sejarah yang hingga kini masih merisaukan tragedi Gestok (Gerakan 1 Oktober) atau yang juga dikenal dengan Gerakan 30 September (serta mengaitkannya dengan PKI). Alkisah, tokoh yang satu ini begitu gundah demi mencermati perkembangan sejarah, bahwa tidak satu pun analis yang mengkritisi peristiwa yang terjadi pada 30 September 1965 malam, saat para jenderal TNI-AD diculik, kemudian dibunuh di Lubang Buaya, Pondok Gede.
Padahal, menurut sang tokoh ini, kalau saja segenap energi penelitian (dan penyidikan) dimulai dari malam penculikan, bukan mustahil akan dengan mudah menggiring ke tujuan siapa “master mind” di balik usaha kudeta yang gagal itu. “Indikasi-indikasi akan adanya gerakan itu sesungguhnya sudah banyak pihak yang tahu. Bung Karno sendiri sempat mendapat laporan. Pangkostrad Soeharto juga. Dan di kalangan elite negeri, suhu politik yang panas kala itu, juga merupakan sesuatu yang banyak diketahui,” katanya.
Bahkan, dalam salah satu pidato Mei 1965, Bung Karno kurang lebih memberi warning kepada segenap bangsa, termasuk kekuatan angkatan bersenjata Indonesia. Bahwa dengan majunya menonjolnya peran Indonesia menggalang kekuatan Nefos (New Emerging Forces), serta santernya gerakan global menentang imperialisme dan kapitalisme, adalah Amerika Serikat dan Inggris yang sangat tidak nyaman. Dari sumber Bung Karno bahkan dinyatakan, untuk menghentikan laju Indonesia, Amerika (dan Inggris) sangat menghendaki kematian Bung Karno, Ahmad Yani, AH Nasution, dan Subandrio.
Kembali ke keprihatinan tokoh sepuh kita ini. Menurutnya, dari kacamata intelijen ataupun strategi operasi militer, sangat “ganjil” demi mengetahui, bahwa para pihak yang diincar nyawanya pada malam eksekusi itu, semuanya berada di rumah. Mereka adalah
  • Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Abdul Haris Nasution
  • Menteri Panglima Angkatan Darat (MenPangad), Letnan Jenderal Ahmad yani
  • Deputi II Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soeprapto
  • Deputi III Panglima Angkatan Darat, Mayor jenderal Haryono Mas Tirtodarmo
  • Asisten I Panglima Angkatan Darat, Mayor Jenderal Soewondo Parman
  • Asisten IV Panglima Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Donald Icasus Panjaitan
  • Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan darat, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomihardjo
Bahwa kemudian skenario tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, itu adalah bukti adanya campur tangan Tuhan. Pierre Tendean jadi korban, Ade Irma Suryani Nasution jadi korban…. Di sisi lain, Bung Karno selamat karena pengawal yang sudah curiga kemudian urung membawa pulang ke Istana, melainkan membelokkan ke kediaman salah satu istrinya, Hariyati di Slipi.
“Adalah aneh, jika secara kebetulan para jenderal yang diculik itu semua berada di Jakarta, dan semua sudah berada di rumah. Ini benar-benar kejanggalan yang patut diselidiki. Karena, tidak mungkin yang namanya kebetulan itu akan terjadi kalau tidak ada yang mengatur,” tandasnya. Ia juga sempat berbicara dengan beberapa keluarga korban, dan hampir semuanya mengatakan, pada malam itu para jenderal memang menerima tamu. “Nah, saya curiga, tamu-tamu itu bagian dari skenario untuk memastikan bahwa para jenderal yang akan diculik, benar-benar ada di rumah,” tegasnya.
Sang tokoh ini tidak menuding bahwa tamu itu adalah pelaku atau bagian dari skenario penculikan para jenderal. “Setidaknya, secara tidak sadar, ada yang melibatkan dia pada malam itu untuk datang ke rumah para jenderal. Output yang hendak didapat adalah, konfirmasi bahwa para jenderal itu ada di rumah. Saya mendengar langsung dari para keluarga korban. Mereka memang kedatangan tamu pada malam itu. Tentu saja, tamu yang datang ke kediaman jenderal yang satu, berbeda dengan yang datang ke jenderal yang lain. Artinya, benar-benar di-setting se-alamiah mungkin,” paparnya.
Bahkan ia juga menyebut nama seorang artis ternama ketika itu, yang sengaja diminta menemani salah satu jenderal di sebuah acara, serta memastikan bahwa usai acara, sang jenderal itu kembali ke rumah. “Ini semua menurut saya adalah bagian dari skenario. Nah, kalau pengusutan, penyidikan dimulai dari sana, tentu akan dengan mudah mengerucut ke pihak mana yang berada di belakang gerakan kudeta itu,” ujarnya.
“Saya masih berharap, ada sejarahwan ataupun peneliti yang berkenan menyelidiki Gestok dari persepsi yang saya sebutkan tadi,” katanya, lemah. (roso daras)

Tidak ada komentar: