Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Selasa, 19 Februari 2013

Freeport Bikin Sewot

Freeport Bikin Sewot (1)

Ekspedisi Wilson berkah Freeport

Reporter : Islahudin
Senin, 18 Februari 2013 07:00:00
Ekspedisi Wilson berkah Freeport
PT Freeport. (reuters/muhammad yamin)
Tidak ada yang menyangka buku laporan pendakian puncak Jaya Wijaya, Papua, ditulis oleh Jean Jaques Dozy pada 1936 adalah muasal pertambangan Freeport di Indonesia. Laporan itu menceritakan ketakjubannya melihat keindahan alam Papua. Selain itu, dia terperanjat melihat kandungan logam dan hamparan luas bijih tembaga hingga permukaan. Pemandangan itu sangat tidak lazim untuk wilayah ketinggiaan sampai dia menyebut gunung tembaga (Erstberg) dalam laporan itu. 


Sayangnya, laporan bernilai itu terbengkalai di perpustakaan Belanda hingga berdebu. Tidak ada yang menindaklanjuti. Maklum saat terbit, kondisi dunia tidak mendukung, menjelang berkecamuknya Perang Dunia Kedua melibatkan banyak negara, termasuk Belanda.

Pertengahan 1959, revolusi mengatasnamakan rakyat berlangsung di Kuba dipimpin oleh Fidel Castro. Fidel Castro berhasil merebut Kota Havana hingga memaksa rezim diktator Batista hengkang. Kebijakan berubah. Castro segera menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing beroperasi di Kuba, termasuk Freeport Sulphur kala itu siap mengapalkan biji nikel produksi perdana.

Pada Agustus 1959, berlangsung pertemuan antara Forbes Wilson, direktur dan pakar ahli pertambangan Freeport dengan Jan van Fruisen, Direktur Pelaksana East Borneo Company. Dalam rapat itu, Jan van Fruisen bercerita kepada Wilson isi buku Dozy ditemukan dalam kondisi berdebu. Wilson kemudian tertarik dengan laporan Dozy soal gunung tembaga itu.

Wilson dan rombongannya pada februari 1960 mengunjungi lokasi seperti ditulis Dozy. Rombongan ekspedisi ini dibantu oleh suku setempat untuk menjelajahi wilayah pegunungan itu. Hasil penelusuran itu dituangkan dalam buku Conquest of Copper Mountain. Persis Dozy, Wilson menuliskan kekagumannya akan hamparan mineral tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia juga menulis kesannya mengenai Mozes Kilangin, pemuda dari suku Amungme yang menemani dia dalam ekspedisi itu.

Saat mencapai gunung tembaga disebut kawasan Erstberg, dia terperanjat dengan hamparan bijih tembaga di atas permukaan tanah. Dalam bukunya itu, Wilson menyebut wilayah itu sebagai tempat terjadinya mineralisasi tidak lazim di atas ketinggian dua ribu meter dari permukaan laut. Dia memperkirakan kandungan logamnya mencapai 40-50 persen bijih besi, tiga persen tembaga, dan masih terdapat emas dan perak di dalamnya.

Dia melaporkan lewat kabel temuan itu kepada Presiden Freeport Bob Hills di New York, Amerika Serikat. Dia menyebut dari areal 14 hektar, hanya satu hektar tanpa bijih tembaga. Sedangkan kedalaman baru mencapai seratus meter.

Setelah menganalisis laporan Wilson, konsultan tambang Freeport memperkirakan akan mendapat 13 juta ton di atas permukaan dan 14 ton di bawah tanah dengan kedalaman seratus meter. Perlu sekitar USD 60 juta dolar untuk mengeksplorasi kawasan itu. Ongkos produksi saat itu USD 16 sen per pon dan harga jual USD 35 sen saban pon. Dengan begitu, Freeport menduga modal investasi akan balik dalam tiga tahun.

Itulah sebagian dari isi artikel Lisa Pease berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeportdimuat majalah Probe edisi Maret-April 1996. Laporan ini kini tersimpan di National Archieve, Washington DC, Amerika Serikat. National Archieve adalah lembaga independen menyimpan dokumen catatan sejarah dan dokumen. Lembaga ini bertanggung jawab memelihara dan menerbitkan salinan hukum asli dan otoritatif dikeluarkan oleh kongres, pernyataan presiden dan perintah eksekutif, serta federal.

Pimpinan Freeport begitu gembira dengan kemungkinan keuntungan bakal diperoleh. Namun, saat proyek tambang akan dimulai, hubungan Belanda dan Indonesia kian memanas memperebutkan Irian Barat. Akhir 1961, Presiden Soekarno memerintahkan pendaratan pasukan di wilayah itu.

Pihak Freeport semakin jengkel dengan sikap Presiden John Fitgerald Kennedy karena lebih memihak Indonesia. Belum lagi dengan sikap Amerika menghentikan bantuan pemulihan ekonomi Eropa setelah Perang Dunia Kedua (rencana Marshal) untuk Belanda. Freeport sebenarnya lebih cemas kepada Soekarno yang gencar dengan prinsip nasionalisme dan antikolonialisme.

Perserikatan Bangsa-Bangsa lalu turun tangan dan akhirnya memutuskan membentuk pemerintahan transisi di Irian Barat. Kemudian diadakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969, untuk memutuskan apakah rakyat Papua akan memilih bergabung dengan Indonesia atau Belanda.

Dalam laporan Lisa, dua tahun sebelum Pepera, Freeport sudah mendapat Kontrak Karya Pertama pada 50 April 1967. Perjanjian bisnis ini berlaku 30 tahun dan bisa diperpanjang. Lisa juga menemukan Freeport melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan izin dan perpanjangan kontrak karyanya.

Adriana Elisabeth, peneliti Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan masalah Freeport sampai saat ini masih gelap dan belum lengkap. "Adanya izin tambang Freeport di Papua itu mengikutsertakan politik tingkat tinggi, maka perlu konfirmasi semua pihak. Kadang orang membicarakan masalah Freeport dengan campur aduk, mulai dari efek Kontrak Karya Pertama hingga masalah pemberdayaan masyarakat. Itu dua masalah panjang dan berbeda," katanya kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.
[fas]
Freeport Bikin Sewot (2)


Mendongkel kekuasaan Soekarno

Reporter : Islahudin
Senin, 18 Februari 2013 07:25:00
Mendongkel kekuasaan Soekarno
PT Freeport. (reuters/muhammad yamin)
Pada 1961-an, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak oleh asing di Indonesia. Sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing menjadi jatah pemerintah. Kebanyakan gerah dengan peraturan itu.

Menurut sejarawan Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Asvi menuturkan sebuah arsip di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim dipimpin oleh Chaerul Saleh di Istana Cipanas sedang membahas nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia.

Soeharto yang propemodal asing, datang ke sana menumpang helikopter. Dia menyatakan kepada peserta rapat dia dan Angkatan Darat tidak setuju rencana nasionalisasi perusahaan asing itu. "Soeharto sangat berani saat itu, Bung Karno juga tidak pernah memerintahkan seperti itu," kata Asvi saat dihubungi merdeka.com, Kamis malam pekan lalu.

Sebelum tahun 1965, seorang taipan dari Amerika Serikat menemui Soekarno. Pengusaha itu menyatakan keinginannya berinvestasi di Papua. Namun Soekarno menolak secara halus. "Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya," ujar Asvi menirukan jawaban Soekarno.

Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Dia tidak mau perusahaan luar negeri masuk, sedangkan orang Indonesia memiliki pengetahuan nol tentang alam mereka sendiri. Sebagai persiapan, Soekarno mengirim banyak mahasiswa belajar ke negara-negara lain.

Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara. Namun, Asvi menjelaskan usaha pihak luar ingin mendongkel kekuasaan Soekarno tidak kalah kuat.

Dalam artikel berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeport dterbitkan majalah Probe edisi Maret-April 1996, Lisa Pease menulis pada awal November 1965, Langbourne Williams, ketua dewan direktur Freeport, menghubungi direktur Freeport, Forbes Wilson. Williams menanyakan apakah Freeport sudah siap melakukan eksploitasi di Papua. Wilson hampir tidak percaya mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir Freeport akan sulit mendapatkan izin karena Soekarno masih berkuasa.

Setahun sebelumnya, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Departemen Luar Negeri Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa. Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia dari intel Belanda yang mengatakan dalam waktu dekat Indonesia akan beralih ke Barat.

Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis. Sebab itu, angkatan darat memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia, setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan.

Telegram rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke Perserikatan BBangsa.Bangsa pada April 1965 menyebut Freeport Sulphur sudah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg di Papua. Sedangkan dalam telegram berkode Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, menyatakan ada pertemuan pejabat Angkatan Darat Indonesia membahas rencana darurat bila Presiden Soekarno meninggal.

Kelompok dipimpin Jenderal Soeharto bergerak lebih jauh dari rencana itu. Soeharto mendesak Angkatan Darat segera mengambil alih kekuasaan tanpa perlu menunggu Presiden Soekarno berhalangan.

Setelah peristiwa 30 September 1965, keadaan negara berubah total. Usaha Freeport masuk ke Indonesia semakin mudah. Sebagai bukti adalah pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing pada 1967. Freepot menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.

Bukan saja menjadi lembek, bahkan Indonesia menjadi sangat tergantung terhadap Amerika. "Saya melihat seperti balas budi Indonesia ke Amerika Serikat karena telah membantu menghancurkan komunis yang konon bantuannya itu dengan senjata," tutur Asvi.
[fas]
Freeport Bikin Sewot (3)

Tak berdaya hadapi Freeport

Reporter : Wisnoe Moerti
Senin, 18 Februari 2013 07:55:00
Tak berdaya hadapi Freeport
Demo Freeport Papua. ©Istimewa
Bicara mengenai PT Freeport Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari tiga hal. Pertama, kinerja perusahaan tambang selama ini mengeruk sumber daya alam Indonesia. Kedua, kewajibannya terhadap Indonesia melalui royalti perusahaan kepada negara, dan sikap pemerintah terhadap anak perusahaan Freeport McMoran itu. 

Keberadaan dan operasional Freeport Indonesia sejak 1967 hingga kini tak ubahnya mesin pencetak uang bagi perusahaan induknya, yakni Freeport McMoran di Amerika Serikat. Untuk melihat pundi-pundi keuntungan Freeport tidak perlu melihat jauh ke belakang. Tengok saja kinerja perusahaan sepanjang tahun lalu. Freeport Indonesia telah menjual 915.000 ons atau setara 28,6 ton emas dan 716 juta pon (358 ribu ton) tembaga dari tambang Grasberg di Papua. Hasil penjualan emas itu menyumbang 91 persen penjualan emas perusahaan induknya.

Berdasarkan laporan keuangan Freeport McMoran, total penjualan emas Freeport sebanyak 1,01 juta ons (31,6 ton) emas dan 3,6 miliar pon ( 1,8 juta ton) tembaga. Penjualan tembaga asal Indonesia menyumbang seperlima penjualan komoditas sejenis bagi perusahaan induknya.

Harga komoditas pertambangan memang turun belakangan ini lantaran rendahnya permintaan di pasar dunia. Namun, kondisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan. Buktinya, laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta (Rp 7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Berangkat dari kinclongnya kinerja Freeport, bagaimana andilnya terhadap Indonesia, negara yang kekayaan alamnya sudah dikeruk hampir setengah abad? Kewajiban Freeport terhadap Indonesia bisa dilihat dari royalti dan dividen. Freeport hanya memberikan royalti satu persen dari hasil penjualan emas dan 3,75 persen masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban terbilang sangat rendah dibanding keuntungan diperoleh Freeport.

Kontrak Karya Freeport Indonesia di tambang Garsberg akan habis pada 2021. Freeport mendapat kesempatan memperpanjang kontrak dua kali 10 tahun setelah durasi kontrak pertama, 30 tahun, berakhir. Freeport mendapatkan hak kelola tambang di Mimika pada 1991. Renegosiasi kontrak karya pun mulai diembuskan pemerintah pertengahan tahun lalu. Salah satu poin akan dibahas adalah besaran royalti Freeport.

Sejak pertengahan 2011, wacana renegosiasi kontrak karya Freeport terus bergulir. Saat itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa paling ngotot mendesak Freeport ke meja perundingan. Pemerintah menginginkan royalti Freeport sepuluh persen. Dari ujung timur Indonesia, Freeport menyatakan siap berunding, namun belum sepakat mengenai besaran royalti. "Secara umum telah ada pembahasan keenam pokok renegosiasi. Sudah ada saling pengertian tapi belum sampai pada kesepakatan angka detailnya," kata Direktur Utama Freeport Rozik Soetjipto beberapa waktu lalu.

Kabar dari meja perundingan akhir tahun lalu, kedua pihak disebut-sebut menyepakati besaran royalti emas empat persen. Freeport dikabarkan setuju dengan angka itu, tapi pemerintah ternyata masih pikir-pikir. Renegosiasi pun kembali dilakukan. Setelah hampir satu tahun, hasilnya sudah bisa ditebak. "Renegosiasi sampai saat ini masih tetap berjalan," ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo kepadamerdeka.com, Kamis pekan lalu.

Susilo mengakui alotnya perundingan untuk renegosiasi kontrak karya. Namun dia menegaskan segera menyelesaikan masalah itu. "Karena yang dinegosiasikan banyak. Ada enam poin. Kita harapkan secepatnya bisa diselesaikan. Target pemerintah tahun ini."

Tidak hanya soal royalti, keluhan juga datang terkait dividen buat pemerintah sebagai salah satu pemegang saham Freeport. Pemerintah memiliki 9,36 persen saham Freeport Indonesia. Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan telah menyentil Freeport lantaran tidak menepati janji melunasi kekurangan setoran dividen tahun lalu sebesar Rp 350 miliar dari total Rp 1,5 triliun. Nilai dividen 2012 turun 14,77 persen dibanding tahun sebelumnya mencapai Rp 1,76 triliun. Freeport memang pernah membayarkan dividen lebih besar kepada negara, yakni Rp 2,09 triliun pada 2009. Namun sejak 2010 setorannya perlahan mulai turun.

Pemerintah berambisi menguasai saham mayoritas atau melakukan divestasi 51 persen saham Freeport. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengaku kepincut membeli saham Freeport jika perusahaan itu menjual saham mereka. Dia meyakini pembelian saham Freeport akan menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Pembelian dilakukan sepanjang pemerintah memiliki keuangan mencukupi.

Yang tidak kalah menarik dari keberadaan Freeport di Indonesia adalah sikap pemerintah terhadap perusahaan sudah beroperasi di Indonesia lebih tiga dekade ini. Ketegasan pemerintah seolah setengah hati. Di satu sisi, pemerintah tegas mengejar royalti dan dividen dari Freeport. Namun, di sisi lain, tidak ada ketegasan terkait masa depan kontrak karya Freeport sudah berjalan hampir dua tahun ini.

Beda pejabat, beda pemikiran dan sikap. Rudi Rubiandini, mantan wakil menteri energi kini menjabat Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), pernah mengancam akan mengusir Freeport dari Indonesia jika perundingan kontrak karya tidak menghasilkan kesepakatan menguntungkan Indonesia. "Kalau renegosiasi buntu, pasti putus kontrak," ujar Rudi kepada merdeka.com, Oktober tahun lalu.

Tapi penggantinya, Susilo Siwoutomo, lebih lembek. Dia mengatakan pemerintah tidak berniat memutus kontrak karya Freeport. Terlebih, perusahaan tambang ini sudah lama menjalankan kegiatan bisnis dan investasi di Indonesia. "Tidak (putus kontrak), itu kontrak sudah lama. Namanya renegosiasi selalu alot, tetapi kita masih akan usahakan berbicara terus dengan pihak sana. Semoga saja selesai secepatnya," kata Susilo belum lama ini.

Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro juga tidak yakin pemerintah berani mengusir Freeport. "Untuk memutus jika tidak ada hal dilanggar tentu akan sulit bagi pemerintah," ucapnya.
[fas]

Freeport Bikin Sewot (4)


Bikin sewot masyarakat adat

Reporter : Mohamad Taufik
Senin, 18 Februari 2013 08:28:00
Bikin sewot masyarakat adat
demo freeport. ©istimewa
Konflik antara PT Freeport Indonesia dengan masyarakat adat setempat meletup tujuh tahun setelah penambangan dimulai. Masyarakat empat wilayah adat Suku Amungme (Waa/Banti, Tsinga, Arwanop dan Kwamki), Lemasa, Lemasko, merasa terganggu karena lahan ulayat mereka digarap oleh perusahaan asal Amerika Serikat itu
.

Pada 1974, akhirnya warga empat wilayah adat itu menuntut ganti rugi atas pembabatan hutan di atas lahan ulayat mereka. Di tahun sama, dibuatlah perjanjian disebut January Agreement 1974. Sayang, sejak perjanjian dibuat hingga 2000-an, konflik rupanya belum reda. Gangguan keamanan masih terjadi.

Ketua Ketua Komite Penyelamat Kekayaan Negara Marwan Batubara dalam buku berjudulMenggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam Menuju Negara Berdaulat menyebut pada Februari 1978 terjadi penembakan terhadap seorang polisi. "Insiden ini disebabkan tak dipenuhinya seluruh janji Freeport tertuang dalam January Agreement."

Berikutnya pada Agustus 2002, terjadi penyerangan terhadap sejumlah karyawan pertambangan Freeport di Timika, Tembagapura, di jalur Mil 62-63. Peristiwa ini menewaskan dua warga Amerika, Ted Bargon dan Ricky Saipar, serta satu warga Indonesia bernama S.S. Bambang Riwanto.

Tahun itu juga Freeport akhirnya berunding dengan warga empat wilayah adat ditengahi oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Warga tetap menuntut ganti rugi atas pembukaan hutan di atas lahan ulayat. Konflik antara warga dan Freeport hingga kini belum selesai.

Ketua Koordinasi Nasional Papua Solidarity (NAPAS) Martaen Goo, beberapa waktu lalu mengatakan akar konflik Papua adalah kehadiran PT Freeport. Aparat keamanan diduga memanfaatkan Freeport untuk menarik uang keamanan, sedangkan warga Papua tidak mendapat kesejahteraan apa-apa. "Freeport juga membuat tanah Papua kotor. Alam rusak," kata dia.

Hubungan antara Freeport dengan pemerintah Indonesia juga meriang. Pemerintah menuntut renegosiasi kontrak karya penambangan. Namun Freeport McMoran sempat menolak renegosiasi. Bahkan mereka sempat mengancam membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Internasional.

Belakangan, perusahaan tambang terbesar di dunia itu melunak. Freeport mengaku siap melakukan renegosiasi dengan pemerintah. Namun mereka masih mencari formula cocok agar tercipta kesepakatan yang baik. "Perusahaan juga memahami itu dan mendukung," kata Direktur Utama Freeport Rozik Soetjipto.

Komisaris Independen PT Freeport Indonesia Marzuki Darusman mengatakan renegosiasi berjalan baik. Freeport juga masih mempelajari tuntutan pemerintah soal royalti sepuluh persen. "Pajak badan yang diwajibkan, ini semua dalam proses perundingan. Angka beredar harus dirundingkan, enggak ada target spesifik."

Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini, besaran itu berdasarkan permintaan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Dia mengakui angka itu terlalu tinggi. "Namanya juga usaha. tawar menawar. Tetapi tidak hanya untuk Freeport, ini berlaku buat semua," ujarnya.
[fas]

Freeport Bikin Sewot (5)


Talak buat Freeport congkak

Reporter : Mohamad Taufik
Senin, 18 Februari 2013 08:54:00
Talak buat Freeport congkak
Demo Freeport. ©2012 Merdeka.com


Sejak 1967 hingga kini PT Freeport Indonesia (PTFI) masih menggangsir bumi Papua, menambang emas, perak, dan tembaga. Selama hampir setengah abad itu telah muncul pelbagai masalah, terutama menyangkut jatah penerimaan negara karena kurang optimal. Masalah lain ihwal minimnya peran negara, terutama Badan Usaha Milik Negara, untuk ikut mengelola tambang dikuasai Freeport McMoran di daerah Mimika, Papua, itu.

Rupa-rupa persoalan itu mengakibatkan desakan terhadap pemerintah melakukan renegosiasi kontrak karya agar lebih menguntungkan negara dan rakyat Papua. Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara, Freeport merasa dirinya digdaya karena di bawah bendera Amerika Serikat. "Karena merasa adidaya tidak mau mengubah kontrak," kata Marwan ketika dihubungi merdeka.com lewat telepon seluler, Kamis pekan lalu.

Dia menjelaskan setelah Freeport McMoran menikmati keuntungan besar, mereka seperti emoh membagi keuntungan lebih banyak dengan pemerintah. Kontrak karya itu pertama kali ditandatangani pada 1967 berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pertambangan. Berikutnya pada 1991 kontrak karya kedua kembali diteken dan berlaku 30 tahun mendatang, dengan opsi perpanjangan dua kali, masing-masing 10 tahun.

Pemerintah meminta renegosiasi kontrak karya itu. Sebab beleid baru tentang pertambangan sudah lahir, yakni Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentan Minerba. Namun Freeport tidak mau mengubah kontrak sesuai akta itu. "Mereka mengancam bakal memperkarakan ke pengadilan arbitrase internasional. Jadi persoalannya lebih pada arogansi kekuasaan. Di sisi lain, pemimpin kita pengecut," Marwan menegaskan.

Padahal dampak penambangan terhadap lingkungan juga signifikan. Misal, rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg. Kerusakan lingkungan akibat pertambangan telah mengubah bentang alam seluas 166 kilometer persegi di daerah aliran sungai Ajkwa. Freeport telah membuang tailing dengan kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui sungai itu. Limbah ini telah mencapai pesisir laut Arafura.

Marwan pernah melaporkan kerusakan lingkungan ini semasa dia menjabat Ketua Komite Penyelamat Kekayaan Negara. Laporan itu dibukukan dan diberi judul Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam Menuju Negara Berdaulat. Menurut dia, Freeport mengelola tambang terbesar di dunia di berbagai negara, didalamnya termasuk 50 persen cadangan emas di kepulauan Indonesia.

Namun, dari hasil eksploitasi itu, hanya sebagian kecil pendapatan masuk ke kas negara dibanding keuntungan diperoleh perusahaan. Kehadiran Freeport pun tidak mampu menyejahterakan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. Apalagi sejak 1967 hingga 1994 Freeport hanya melapor sebagai penambang tembaga. Baru pada 1995 mereka mengaku menambang emas di Papua.

Celakanya, volume emas ditambang selama 21 tahun itu tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Panitia kerja Freeport dan beberapa anggota DPR Komisi VII bidang Pertambangan sempat mencurigai telah terjadi manipulasi dana atas potensi produksi emas Freeport. Dewan curiga jumlah emas diperkirakan 2,16-2,5 miliar ton.

DPR juga tidak percaya data kandungan konsentrat diinformasikan sepihak oleh Freeport. Dewan berkesimpulan negara telah dirugikan lebih dari 30 tahun akibat tidak adanya pengawasan serius. Lalu bagaimana sekarang? "Pemerintah didukung DPR mestinya punya sikap tegas, berani memberikan sanksi. Misalnya, kalau Freport tidak mau renegosiasi, sanksinya mohon maaf, anda (Freeport) silakan pergi dulu."

Dampak sanksi pengusiran terhadap Freeport pasti akan besar. Misalnya, akan ada ratusan bahkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, kemudian pendapatan negara berkurang. Tetapi tidak apa-apa kalau memang negara mau berdaulat. Sebagai pilihan terakhir, sanksi tegas memang harus diberikan. Namun sebelum memberikan sanksi pemerintah harus membuat langkah antisipatif lebih dulu.

"Sebelum sanksi pengusiran, masih ada negosiasi intensif. Masalahnya sekarang yang didorong hanya dirjen, kenapa tidak menteri atau presiden. Soalnya Freeport ini Amerika, butuh presiden langsung bernegosiasi, kita butuh pemimpin tegas," kata Marwan, yang juga mantan Anggota DPR periode 2004-2009.
[fas]

Senin, 18 Februari 2013

Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendir

Kisah Tan Malaka (1)

Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendiri

Reporter : Imam Mubarok
Senin, 18 Februari 2013 05:02:00
Tan Malaka, ditawan sebelum meninggal di tangan bangsa sendiri
Tolu dan Hary Poeze. ©imam mubarok
Rasa penasaran itu masih saja berkecamuk. Rasa yang sama mungkin juga dimiliki sejarawan Belanda Harry A Poeze yang menyebutkan Tan Malaka dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letnan Dua Sukotjo. 

Rasa penasaran itu berujung ketika harus melangkah menuju wilayah Selopanggung yang berada di kaki Gunung Wilis tempat di mana Tan Melaka harus meregang nyawa. Keputusasaan sempat berkecamuk ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan Harry A Poeze, yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) tentang Tan Malaka di Desa Selopanggung.

Namun berkat kesabaran akhirnya merdeka.com bertemu dengan Syamsuri (45) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).

Atas jasa Syamsuri itulah, merdeka.com diajak bertemu dengan Tolu (87) warga Selopanggung yang berada di lembah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri. Tolu yang sudah agak berkurang pendengarannya itu, kaget ketika penulis datang bertanya tentang rumah kakeknya yang dijadikan tempat persembunyian Brigade S saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1948.

Dan lebih kaget lagi ketika disebutkan nama Tan Malaka. Tolu terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudian dia menghisap rokok klobot (rokok ricikan sendiri) dan dinikmati dengan pelan dan kemudian dari mulutnya keluar perintah kepada anak perempuannya. "Nduk gawekno wedang kopi, iki lho enek tamu," katanya singkat. (Anak perempuanku tolong buatkan kopi untuk tamu).

Setelah kopi dihidangkan, kemudian ia bercerita. "Kala itu saya masih berumur sekitar 10 tahun. Saya tinggal bersama kakek saya, Mbah Yasir namanya. Rumah kakek saya itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda," katanya sambil menikmati rokoknya.

Ditambahkan Tolu, dari para anggota TRI tersebut dia masih ingat nama-nama pentolannya. "Mereka adalah priyayi yang berpakaian bagus, berpendidikan, membawa senjata, membawa buku dan juga mesin ketik. Mereka antara lain Letkol Surahmat, Letnan Dua Sukotjo, Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat. Merekalah para komandan yang membawahi kurang lebih 50 pasukan yang saat itu berjuang melawan Belanda," imbuhnya.

Saat Tolu menyebut nama Soekotjo, Soerahmat,dan juga Soengkono saya pun teringat akan nama itu yakni sama persis dengan riset Harry A Poeze yang menyatakan Tan Malakaditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.

Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Februari 1949.

Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Brigade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur. Militer menilai seruan Tan Malaka membahayakan stabilitas. SeruanTan Malaka itu terkait penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta pernyataan enggannya elite militer bergerilya.

Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri. Tentang Tan Malaka sendiri, Tolu saksi sejarah yang masih hidup mengaku antara ingat dan tidak. Untuk mengembalikan memori ingatannya merdeka.com mencoba mencoba membukakan gambar wajah Tan Malaka.

Dari situlah kemudian dia kembali teringat. "Orang ini adalah orang yang menjadi tawanan TRI, dia diamankan khusus. Waktu itu yang menjaga adalah di bawah pengawasan Pak Dayat langsung. Entah bagaimana ceritanya ketika itu setelah ditawan saya mengetahui dia meninggal yakni tepatnya sebelum akhirnya pasukan TRI meninggalkan desa kami sekitar awal tahun 1949," jelasnya.

Mengenai di mana lokasi tawanan itu meninggal dunia dan kemudian dikuburkan, Tolu terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia keluar rumah dan menunjukkan pohon petai di depan bekas rumah kakeknya Yasir yang kini sudah rata dengan tanah.

"Di sanalah Tan Malaka hilang, itu yang hanya saya tahu, ini juga saya katakan pada orang Belanda Harry A Poeze yang datang menemui saya tiga belas tahun lalu. Kemudian oleh Harry tempat tersebut disuruh menandai dengan tulisan "Di sinilah Tempat Hilangnya Datuk Ibrahim/Tan Malaka," katanya.

Sedikit mengingatkan Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dengan perjuangan yang gigih dia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris. Di usianya yang masih 16 tahun tepatnya tahun 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

Tahun 1921, dia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 dia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskow dan Belanda.
[tts]









Kisah Tan Malaka (2)

Tan Malaka dikubur dua kali, dekat makam Mbah Selopanggung

Reporter : Imam Mubarok
Senin, 18 Februari 2013 06:07:00
Tan Malaka dikubur dua kali, dekat makam Mbah Selopanggung
Lokasi diduga makam Tan Malaka.©imam mubarok
Prof Mohammad Yamin, dalam karyanya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" menulis: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Filipina sebelum revolusi Filipina pecah…." 

Inilah bukti bahwa Tan Malaka bukan sosok sembarangan. Dia diakui keberadaannya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Berjuang tanpa pamrih bagi kemerdekaan Merah Putih, meski akhirnya harus tewas di tangan bangsanya sendiri.

Tolu (84) lelaki yang menjadi saksi kunci tentang misteri kematian Tan Malaka warga Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri kembali bercerita. Meski agak bersusah payah untuk sekadar mengingat kejadian 64 tahun silam, Tolu tergolong lelaki cerdas. Dengan bantuan nama-nama yang dibawa penulis yakni tentang Brigade S dan foto-foto pasukan Brigade S, Tolu kembali teringat tentang Sutan Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan Tan Malaka lelaki kelahiran Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 itu

"Setelah Pak Dayat menyembunyikan tawanannya yang akhirnya tewas, yang saya duga adalah Sutan Ibrahim. Kemudian pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung setelah setahun bersembunyi. Sebelum meninggalkan desa kami pasukan membakar berkas yang dibawa. Seingat saya ada ratusan buku yang dibakar saat itu. Bahkan saking banyaknya buku itu tidak habis terbakar selama satu minggu," kata Tolu.

Lalu ke mana tawanan Dayat yang kemudian mati itu dikubur setelah pasukan TRI meninggalkan desa? "Saya tidak tahu itu sebab saat itu kami orang desa hanyalah orang suruhan dan hanya bisa membantu yang bisa kami bantu. Misal mengantarkan surat, membuat makanan dan menjaga kerahasiaan keberadaan para anggota TRI ini dari musuh," tambahnya.

Menurut Tolu tawanan yang tewas terbunuh itu tentunya tidak akan dikubur jauh dari desanya. Kemudian dia teringat akan kuburan Mbah Selopanggung orang yang dipercaya kali pertama membabat hutan dan menghuni Desa Selopanggung dan memberikan nama Selopanggung yang berada di dekat batu besar yang tepat berada di belakang rumahnya.

"Kira-kira 50 meter dari lokasi batu besar yang oleh warga setempat diyakini sebagai tempat wingit atau angker ada makam Mbah Selopanggung. Ada dua pohon kamboja tua satu diyakini warga merupakan nisan makam Mbah Selopanggung. Dan ada satu lagi yang usianya di bawah pohon kamboja yang ada di makam Mbah Selopanggung, mungkin itulah makamnya," ungkapnya.

Karena usianya yang lanjut dan kesulitan jalan, akhirnya Tolu meminta tolong kepada Syamsuri mantan Kepala Desa Selopanggung dan Solikin tokoh pemuda setempat untuk mengantarkan penulis ke makam yang dimaksud. Setelah melakukan perjalanan melalui jalan batu terjal yang turun naik di kaki Gunung Wilis kurang lebih 500 meter, akhirnya sampailah di makam yang dimaksud.

Dari kejauhan penulis melihat ada makam dalam sebuah lembah yang terlihat angker. Akhirnya kami turun dengan dipandu Syamsuri. Penulis mengamati satu per satu makam tua yang ada tempat tersebut, memang benar apa yang diceritakan Tolu ada dua pohon kamboja tua di tempat tersebut.

"Itu pohonya yang paling tua adalah makam Mbah Selopanggung orang yang pertama kali membuka daerah ini. Dan ini adalah makam misteri yang yang dimaksudkan Pak Tolu itu," kata Syamsuri menunjukkan makam yang dimaksud yang hanya berjarak tiga meter dari makam Mbah Selopanggung.

Dalam hati kecil saya berkata, sangat dimungkinkan makam tersebut adalah makam Tan Malaka. Sebab jika ditarik garis lurus dengan tempat tinggal Mbah Yasir yang digunakan tempat tinggal pasukan Brigade S, lokasi makam tersebut pas sekali. Dan di situlah patut diduga makam Tan Malaka setelah ditembak mati oleh Letnan Dua Sukotjo yang juga mantan Walikota Surabaya itu.

"Zaman dulu kan belum ada nisan seperti sekarang ini, orang dulu hanya mengingat lokasinya dan biasanya ditandai dengan pohon kamboja," kata Syamsuri.

Keberadaan makam misteri tersebut juga dibenarkan Sukoto (90) warga Selopanggung seangkatan Tolu yang pernah menjadi kurir Brigade Sikatan. "Makam tua hanya satu yakni makam Mbah Selopanggung, seingat saya makam kedua itu muncul setelah pasukan TRI meninggalkan desa kami," kata Sukoto yang ditemui penulis usai mendatangi makam misteri di lembah atau yang lebih dikenal di Selopanggung dengan nama makam ledokan itu.

Penulis sendiri pernah mendampingi Poeze bersama dua keluarga Tan Malaka yakni Zulfikar Kamarudin dan HM Ibarsyah Ishak, SH yang juga Government Relation Pusat Tamadun Melayu Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

"Meskipun agak berbau mistis ada dugaan kuat sebelum dikuburkan ke pemakaman yang berada di Ledokan berdekatan dengan makam Mbah Selopanggung yang membuka desa ini,Tan Malaka dikuburkan di lokasi ini, dugaan kami ini kuat, sebab ini juga dalam rangka untuk menghilangkan jejak oleh Pasukan Brigade S," ujar Poeze.

Lokasi yang dimaksudkan Poeze tersebut tepat di timur lokasi di mana berkas-berkas yang dibawa pasukan Brigade S dibakar selama satu minggu tidak habis sebelum akhirnya pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung.

Disinggung tentang lokasi Tan Malaka yang meninggal dan dibunuh di pinggir Sungai Brantas, Desa Petok, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, Poeze mambantah keras. "Yang tewas dan dimakamkan di sana itu bukan Tan Malaka tetapi anak buahnya yang berjumlah tiga orang. Dugaan kuat kami Tan Malaka berada di Desa Selopanggung," katanya.

Hingga sekarang pun, di mana makam Tan Malaka pun terus menjadi misteri. Tan Malakamemang menghilang namun namanya tetap dikenang.
tts]

Kamis, 14 Februari 2013

Perselingkuhan Soekarno-Inggit di rumah kos Bandung

Perselingkuhan Soekarno-Inggit di rumah kos Bandung

Reporter : Mardani
Kamis, 14 Februari 2013 05:02:00
Perselingkuhan Soekarno-Inggit di rumah kos Bandung
ibu inggit dan bung karno. ©buku kuantar ke gerbang/bentang
Hubungan percintaan Soekarno dengan Inggit Garnasih semakin membara seiring kondisi rumah tangga masing-masing yang semakin hambar. Perubahan sikap yang dialami Haji Sanusi terhadap Inggit membuat wanita cantik itu semakin kesepian dan tak punya teman mengadu.

Sementara, hubungan rumah tangga Soekarno dengan Siti Oetari juga tak berbeda jauh. Soekarno semakin merasa bosan dengan sikap kanak-kanak Oetari.

Kondisi tersebut mengakibatkan Soekarno dan Inggit tak bisa menahan rasa suka satu sama lain. Dalam buku biografi 'Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', Karya; Cindy Adams, diceritakan keduanya kerap berbagi kegembiraan bersama.

"Pada awalnya kami menunggu. Selama beberapa bulan kami menunggu dan tiba-tiba dia berada dalam rengkuhanku. Ya itulah yang terjadi. Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari," kata Soekarno.

Soekarno tak merasa berdosa atas apa yang dilakukannya itu. Sebab, dia memiliki pandangan rumah tangga Inggit dengan Sanusi telah lama hancur dan bukan karena ulahnya.

Perasaan cinta di antara keduanya semakin besar. Sementara, kondisi rumah tangga masing-masing semakin tak tentu arah. Soekarno akhirnya menceraikan Oetari dan mengembalikannya ke HOS Tjokroaminoto di Surabaya, pada 1923.

Sekembalinya ke Bandung, Soekarno dan Inggit pun segera bertemu kembali. Soekarno bercerita soal kondisi dan harapannya mengenai sosok pendampingnya kelak. Dia berharap wanita yang akan mendampinginya kelak bisa menjadi seorang ibu, sahabat, kekasih, dan pemberi semangatnya.

Tiap malam keduanya menghabiskan waktu bersama di rumah yang terletak di Jalan Javaveem, Bandung itu. Sikap Sanusi yang semakin cuek kepada Inggit dan doyan keluar malam untuk bermain bilyard semakin membuat Inggit kesepian dan hampa. Inggit tak menolak ketika Soekarno merayunya.

"... Dia mengeser tangannya merayap perlahan-lahan dan menyentuh tanganku. Kurasakan tenaganya. Dadanya mendekat. Aku ditarik dan kami berpindah tempat. Hendaknya semua maklum apa yang terjadi sebagai kelanjutannya. Aku malu menceritakannya, aku adalah perempuan Timur. Lagi pula keadaan waktu itu, keadaan rumah tangga kami, maksudku bisa kalian maklumi. Suamiku sudah lama bukan laki-laki yang bisa memuaskan diriku."

"... Ah untuk apa aku mengutik-utik masa lampau. Malu! Cerita kita waktu muda sudah sama-sama kita maklum. Sudahlah bukan sesuatu yang pantas untuk ditiru," kata Inggit.

Tali asmara antara Inggit dan Soekarno akhirnya tercium Sanusi. Cercaan dan hujatan pun diterima Inggit. Tak tahan dengan kondisi tersebut, Inggit akhirnya mengajak Sanusi berdiskusi menyelesaikan persoalan mereka. Inggit mencurahkan semua kelakuan Sanusi yang tak disukainya dan menyatakan hubungan mereka tak bisa diteruskan jika seperti itu terus.

Sinyal perpisahan itu akhirnya menjadi kenyataan saat Sanusi menjatuhkan talak kepada Inggit. Sanusi mengaku ikhlas melepas Inggit untuk menikah dengan Soekarno.

"Akang ridho kalau Eulis (panggilan Inggit oleh Sanusi) menerima lamaran Koesno (nama kecil Soekarno) itu dan kalian berdua menikah. Mari kita jagokan dia hingga benar-benar dia nanti menjadi pemimpin rakyat. Dampingi dia, bantulah dia, sampai dia benar-benar mencapai cita-citanya," kata Sanusi.

Sanusi dengan lapang dada merelakan Inggit untuk menikah dengan Soekarno. Bagi Sanusi, yang paling penting dia melihat Inggit bahagia. Keduanya akhirnya bercerai pada 1923.

"Eulis, kata Kan Uci (panggilan Sanusi oleh Inggit) dengan terpatah-patah. Aku tahu dia pun terharu menyatakannya. Eulis, ulangnya, Akang telah katakan kepada Kusno, cintailah Inggit dengan sungguh-sungguh dan jangan terlantarkan dia. Saya tidak senang, tidak rela kalau musti melihat Inggit hidup sengsara baik lahir maupun batin. Saya tidak rela kalau sampai mendengar kejadian menimpanya seperti itu."

Soekarno dan Inggit akhirnya menikah pada 1923. Kelak hampir 20 tahun Inggit dan Soekarno berumah tangga. Berbagi suka dan duka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peran Inggit sangat besar dalam mendukung Soekarno.
[ian]
http://www.merdeka.com/peristiwa/perselingkuhan-soekarno-inggit-di-rumah-kos-bandung.html

Senin, 11 Februari 2013

Wayang Gandrung

Wayang Gandrung (1)


Kisah wayang mistis, jika berulah saat menonton bisa kualat

Reporter : Imam Mubarok
Senin, 11 Februari 2013 02:05:00
Kisah wayang mistis, jika berulah saat menonton bisa kualat

Wayang gandrung, pementasannya diiringi pembakaran dupa. Merdeka.com/imam mubarok
Nama Wayang Gandrung bagi sebagian orang di Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis. Selain hanya ditampilkan di Bulan Suro (Muharram) dan bagi mereka yang punya ujar (nadzar), wayang kayu ini terlahir dari sebuah bongkahan kayu yang terdampar di sungai pada saat terjadi banjir di daerah Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri sekitar abad 17 lalu.Bahkan tentang keunikan wayang ini, Jero Wacik saat masih menjabat menteri Kebudayaan dan Pariwisata memberikan penghargaan khusus kepada Mbah Kandar sang dalang, sebagai maestro seni tradisi.

"Hati-hati lho saat menyaksikan Wayang Gandrung, sampeyan bisa kualat jika macem-macem saat wayang digelar, lebih baik diam saja. Banyak yang sudah kejadian kuwalat akibat menyepelekannya," pesan Lamidi (60) ahli waris Wayang Gandrung pada salah seorang penonton yang menyaksikan tanggapan Wayang Gandrung oleh orang Kalimantan yang digelar di rumah sang pemilik.

Mungkin itulah gambaran mistis yang selalu disampaikan oleh orang yang menjadi pemerhati Wayang Gandrung kepada siapa saja yang baru kali pertama menyaksikan. Selain mistis, Wayang Gandrung ini juga unik.

Beberapa keunikan berhasil ditelusuri berdasarkan penuturan ahli warisnya. Antara lain, wayang ini terlahir dari bongkahan kayu jati yang hanyut saat terjadi banjir, seperti dituturkan secara turun temurun oleh Lamidi (60) sang pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono. Kayu jati yang terdampar itu dibelah oleh orang misterius setelah penduduk Pagung, gagal membelahnya.

"Wayang ini adalah peninggalan kakek buyut saya yakni Demang Proyosono, tokoh spritual dari Surakarta yang sedang melakukan topo (bertapa) di Gunung Wilis. Wayang ini hanya boleh dibuka saat pementasan saja selain itu tidak boleh," tutur Lamidi.

Jika ingin pentas di lokasi yang susah dijangkau, semua peralatan mulai wayang, gong, rebab, kendang, gender, harus dipikul atau diangkut dengan jalan kaki. Pilihan dengan jalan kaki ini lantaran pernah pada suatu ketika peralatan pentas pagelaran wayang diangkut dengan gerobak, gerobaknya tidak bisa jalan. Demikian pula ketika diangkut mobil, mobil itupun mogok.

Gambaran proses mistis tidak hanya berhenti di situ, saat prosesi mungel (pementasan) diawali dengan dengan ritual slametan di awal dan akhir pertunjukan serta tindakan-tindakan magis terhadap Wayang Mbah (sebutan lain Wayang Gandrung) dengan kelengkapan mistiknya.

Setelah proses dilalui, dilanjutkan dengan persiapan artistik yakni meliputi penataan fisik peralatan pentas meliputi gawangan, gamelan, blencong dan wayang. Gawangan merupakan peralatan untuk menyimping wayang (menata). Sedangkan kelengkapannya adalah instrumen gamelan dalam bentuk sederhana yakni meliputi kendhang, gambang, rebab, kethuk, kenong dan kempul (gong suwukan) yang ditempatkan melingkar di antara dalang dan kotak wayang.

Jika diperhatikan dengan seksama instrumen yang mengiringi pagelaran Wayang Gandrung tampak tua, unik dan bentuknya menimbulkan kesan magis. Bahkan ketika proses penataan instrumen para pengrawit tampak berhati-hati tanpa suara berisik sehingga menimbulkan suasana khusuk dan wingit. Penonton terbius oleh situasi emosional tersebut, belum lagi ditambah aroma dupa yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
[tts]
Wayang Gandrung (2)


Wayang mistis, cerita bukan dari dalang, tetapi dari wangsit

Reporter : Imam Mubarok
Senin, 11 Februari 2013 03:03:00
Wayang mistis, cerita bukan dari dalang, tetapi dari wangsit
Dalang Mbah Kandar dalam sebuah pementasan Wayang Gandrung.Merdeka.com/imam mubarokWayang Gandrung, wayang mistis dari Kediri ini punya keunikan yang tidak dimiliki oleh wayang lain. Pergelaran wayang pada umumnya, lakon atau cerita datang dari sang dalang. Tetapi tidak dengan wayang Gandrung. 

Saat penentuan alur cerita dalam pagelaran wayang, sang dalang seperti Mbah Kandar tidak memiliki otoritas menentukan lakon. Semua hanya berdasarkan wangsit yang diterima Lamidi (60), pewaris ketujuh Wayang Gandrung dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono. Wangsit datang ke Lamidi setelah dirinya melakukan laku ritual.

Peran kuat Lamidi dalam pengaturan proses 'mungel' (proses pementasan) merambah ke seluruh aspek aktualisasi Wayang Gandrung, baik fisik maupun psikis.

Laku ini sekaligus membangun kerangka mistik yang terstruktur bagi menguatnya mitos masyarakat terhadap Wayang Gandrung.

Selain sang dalang tidak memiliki otoritas, penunjukan sebagai dalang juga hanya berdasarkan wangsit. Cerita ini dialami oleh Mbah Kandar, sang maestro seni tradisi yang sejak tahun 1982 menjadi dalang Wayang Gandrung.

Sebelum menjadi penerus dalang Wayang Gandrung, dirinya adalah petani biasa yang tidak memiliki keahlian atau kepintaran khusus dalan seni pewayangan, seperti yang dia lakoni sekarang ini.

"Kulo ujug-ujug saged dalang sak wangsule angsal wangsit ken dados dalang Wayang Mbah Gandrung (Saya tiba-tiba bisa mendalang setelah mendapat wangsit supaya menjadi dalang Wayang Mbah Gandrung," kata Mbah Kandar yang selalu ceria.

Adegan berikutnya adalah berdasarkan wangsit sang pewaris dalam setiap pertunjukan yang akan dilakoni oleh Mbah Kandar, sang dalang Wayang Gandrung. Dalam setiap pementasan lakon selalu berubah-ubah sesuai wangsit. Beberapa lakon tersebut antara lain Barong Skeder, Bagawan Mintuno, Kuda Sembrani, Naga dan lain sebagainya.

Merdeka.com sudah beberapa kali menyaksikan pegelaran Wayang Gandrung dan dua kali menyaksikan keanehan. Setiap kali mengambil gambar di atas tungku dupa yang sedang dipenuhi asap dan api, tampak beberapa kali penampakan. Antara lain, kepala naga, srigala yang menginjak kepala manusia.

Sulit jika dipikir dengan nalar, keanehan terjadi dan mengharuskan diam untuk mengikuti kekhusyukan Lamidi ketika mengeluarkan wayang dari kotak penyimpanan, wayang dikeluarkan satu persatu, dihunus dari kantung/sarung kain secara khidmat dan keempat wayang yang merupakan cikal bakal diasapi dengan dupa dan kemudian diserahkan kepada sang dalang.

Sekadar diketahui Wayang Gandrung kali pertama ditemukan di dalam kayu ada empat yakni Wayang Mbah Gandrung Kakung (Panji Asmorobangun), Wayang Mbah Gandrung Putri(Galuh Candrakirono), Wayang Joko Luwar dan Wayang Raden Sedono Popo, namun setelah disimpan dalam kotak keempat wayang tersebut membawa teman-temanya kurang lebih 40 buah.
[tts]

Wayang Gandrung (3)


Wayang mistis bertahan turun-temurun selama 300 tahun

Reporter : Imam Mubarok
Senin, 11 Februari 2013 04:09:00
Wayang mistis bertahan turun-temurun selama 300 tahun
Peralatan Wayang Gandrung harus dibawa dengan jalan kaki. ©2013 Merdeka.com/i\Gamelan mulai ditabuh, pertanda pagelaran Wayang Gandrung dimulai. Dengan gendhing jejer (adegan yang mengawali pertunjukan wayang), Sang dalang menundukkan kepala membaca mantra kemudian mulai melantunkan sulukan, sulukan yang dilantunkan bernada sangat miring bahkan sliring (sliring dalam pemahaman nada tembang di Jawa berarti tidak sesuai dengan nada gamelan) seperti pada lantunan kidung Bali. 

Dalang Mbah Kandar memainkan gunungan dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan kemudian ke tengah, gunungan ditancapkan persis di tengah gawangan.

Kemudian dikeluarkan sosok wayang bercat hitam, profil tubuh dan wajahnya mirip tokoh Semar, gerakan yang dilakukan dalam memainkan tokoh ini berakar pada pola gerakan ulat-ulat dan tancepan dalam sabet wayang kulit. Tokoh ini hanya dimainkan sebentar kemudian dimasukkan kembali ke dalam sarung. Cerita akan berubah-ubah sesuai wangsit.

Pagelaran seni Wayang Gandrung, sebenarnya mengajarkan manusia untuk memiliki rasa seni estetika dan etika serta mengandung ajaran moral. Dalam Wayang Gandrung tentunya banyak mengandung ajaran moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan normal biasa.

Ajaran moral Wayang Gandrung bisa dikupas secara sederhana dari kata gandrung itu sendiri.Gandrung dalam bahasa Jawa berarti senang, cinta atau suka. Orang yang mengalami gandrung bisa saja seperti orang yang lupa akan hal lain kecuali satu hal yakni yang dicintainya. Hal yang dicintai itu bisa seseorang, sesuatu ataupun perilaku kehidupan yang baik di dunia ini.

Menurut Lamidi, ahli waris Wayang Gandrung, dalam perkembanganya untuk memberikan ajaran kepada anak cucunya, maka Ki Demang Raden Proyosono pertama memberikan sebutan "Gandrung" berarti suka atau cinta untuk berbuat kebaikan dan suka menolong sesama umat manusia atau sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Ungkapan senada juga disampaikan Mbah Kandar, menurutnya sesuai pemberian nama oleh Ki Demang Raden Proyosono, kata gandrung disini berarti suka akan menolong orang lain yang mengalami musibah atau segala permasalahan yang mereka hadapi. Sehingga Wayang Mbah Gandrung ini ada sebagai sarana untuk mengatasi segala kesulitan hidup.

Keberadaan Wayang Mbah Gandrung menjadi simbol atau ikon "Wayang Pangayoman", karena wayang tersebut memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan pemecahan dalam kehidupan warga Desa Pagung dan sekitarnya. Sehingga Wayang Gandrung bisa bertahan secara turun temurun hingga lebih dari 300 tahun sampai saat ini.

Ajaran moral Mbah Gandrung ini sebagai bentuk penjabaran dalam kehidupan masyarakat dari ajaran agama yang dianut oleh penduduk Pagung dan sekitarnya, yakni agama Islam.
[tts]

MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTO

MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTO


WAYANG LONDO, WILLEM VAN ORANJE: MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTOMbah Ledjar alias Ledjar Soebroto (73) yang selama ini kondang sebagai Dalang Kancil karena perannya dalam melestarikan Wayang Kancil, baru-baru ini membeber karya terbarunya, Wayang Willem Van Oranje. Wayang WVO ini dibeber pertama kali di Pendapa Karta Pustaka, Jalan Bintaran Tengah 16, Yogyakarta. Pementasan Wayang Willem Van Oranje itu dilaksanakan hari Rabu, 2 maret 2011, jam 19.30-21.00 WIB. Ia tidak mementaskan sendiri hasil karyanya itu, melainkan cucunyalah yang bernama Ananto Wicaksono (24) yang beken dengan sebutan Nanang Kancil, yang mempergelarkan Wayang WVO.
Wayang WVO merupakan maha karya Ki Ledjar Soebroto. Wayang ini secara khusus dipesan oleh Museum Nusantara di Belanda. Ki Ledjar atau Mbah Ledjar membuat Wayang WVO ini berdasarkan foto-foto kuno Willem Van Oranje yang dicermatinya di Prinsenhof Museum, Belanda. Foto-foto berusia ratusan tahun itulah yang menjadi acuan pokok penciptaan Wayang WVO. Selain membuat atau mendesain karakter tokoh-tokoh dalam kesejarahan Willem Van Oranje, Ki Ledjar juga membuat wayang berdasarkan artefak-artefakWAYANG LONDO, WILLEM VAN ORANJE: MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTOpeninggalan sejarah, yang salah satunya terdapat di kota Delf. Artefak-artefak tersebut di antaranya adalah Gereja (Nieuwe Kerk) tempat Willem Van Oranje dan para raja Belanda dimakamkan.
Seperti diketahui, selain melestarikan Wayang Kancil (1980), Ki Ledjar juga menciptakan Wayang Sultan Agung (1987). Ia juga melestarikan Wayang Revolusi (2006). Selain itu berbagai wayang kulit purwa kreasi baru juga berhasil diciptakannya. Di samping wayang, ia juga membuat berbagai topeng.
Wayang karya Ki Ledjar banyak dikoleksi berbagai museum, seperti Museum Sanabudaya Yogyakarta, Balai Budaya Minomartani Sleman, Museum Wayang H. Budiharjo Pondok Tingal Magelang, Ki Manteb Sudarsono Karanganyar, Museum Wayang Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Tim Byard-Jones University of London Inggris, Ubersee Museum Bremen Jerman, Dr. Walter Angst di Salem Jerman, Arno Mozoni-Fresconi di Hamburg Jerman, Rien Bartmans di Haarlem Belanda, Volkenkundig Museum Gerardus van der Leeuw di Groningen Belanda, V.M. Clara van Groenendael di Amsterdam Belanda, Tamara Fielding di New York Amerika Serikat, WAYANG LONDO, WILLEM VAN ORANJE: MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTOMuseum of Anthropology di Canada, Museum Westfreis di Hoorn Belanda, Museum Tropen di Amsterdam Belanda, dan Museum Kantjiel di Leiden Belanda.
Apa yang dilakukan Ki Ledjar dan Nanang Kancil ini tidak urung menyedot perhatian banyak orang. Bisa dikatakan bahwa pendapa dan halaman Kantor Karta Pustaka penuh sesak oleh tamu undangan/penonton yang penasaran ingin menyaksikan Wayang WVO yang akan segera diboyong ke Belanda itu. Bukan hanya orang-orang lokal yang berjubel di tempat itu, namun tampak pula beberapa bule Belanda yang antusias menyimak pertunjukan wayang tersebut.
Mula-mula yang dipertunjukkan adalah film animasi tentang Wayang WVO yang dibuat secara karikatural. Film animasi yang mengisahkan penggal terpenting kehidupan Willem Van Oranje ini mampu memukai penonton sekaligus memberikan setting bagi pengenalan tokoh Willem Van Oranje dan tokoh lain yang terlibat di dalamnya.
WAYANG LONDO, WILLEM VAN ORANJE: MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTOPertunjukan berikutnya adalah pertunjukan Wayang WVO yang dilakukan oleh Nanang Kancil. Wayang WVO tidak menggunakan iringan berupa gamelan, melainkan rekaman musik yang dapat distel sesuai dengan pengadeganan yang ditampilkan dalam pakeliran.
Pengkarakteran yang tergarap apik dalam wujud lembaran kulit pipih yang disebut wayang, plus detail asesori atau pakaian yang dikenakan para tokoh memberikan dampak penampakan visual yang memikat. Desain artefak yang dimunculkan dalam bentuk semacam gunungan (kayon) juga memberikan sentuhan yang berbeda dari wayang-wayang kulit yang selama ini kita kenal. Demikian pula racikan iringan musik yang disusun Nanang dalam dua buah player (laptop) yang distel atau dibunyikan berganti-ganti memberikan efek dramatik yang cukup bagus. Keterampilan Nanang Kancil dalam sabetan pun menjadi unsur penguat kesan dramatikal pergelaran wayangnya. Ketepatan pengadeganan dengan penghadiran musik serta rekaman dialog antartokoh merupakan salah satu unsur penting dalam pementasan tersebut.
WAYANG LONDO, WILLEM VAN ORANJE: MAHA KARYA KI LEDJAR SOEBROTOPangeran William Van Oranje merupakan tokoh penting bagi bangsa Belanda. Ia lahir di Kastil Dillenburg, 24 April 1533. Tokoh ini sering juga disebut sebagai Bapak Bangsa. Pada awalnya ia menjadi gubernur untuk Raja Spanyol namun kemudian ia menentang dan sekaligus memimpin pemberontakan melawan penguasa Belanda-Spanyol, Raja Philip II. Wayang yang mengisahkan perjuangan Pangeran William ini menjadi media pendidikan anak-anak untuk lebih memahami sejarah Belanda.
Wayang Willem Van Oranje ini setelah dipentaskan di Karta Pustaka kemudian dipentaskan di Kedutaan Belanda di Jakarta, 6 maret 2011. Usai itu Wayang Willem Van Oranje akan segera diboyong ke Negeri Kincir Angin, Belanda. Untuk dapat menyaksikan pergelarannya kembali mungkin kita harus ke Negeri Belanda.

a.sartono

Jumat, 08 Februari 2013

Bung Karno Dan Strategi Machtsvorming

Bung Karno Dan Strategi Machtsvorming

Kamis, 7 Februari 2013 | 10:34 WIB   ·   0 Komentar
Sukarno 12

Minggu lalu, dalam sebuah acara konferensi pers, seorang aktivis marhaenis—sebutan bagi pengikut ajaran Bung Karno—berujar lantang: “Sudah saatnya kita, kaum pergerakan, melakukan machtsvorming untuk mengakhiri imperialisme saat ini.”
Seorang wartawan di samping saya, entah iseng atau serius, tiba-tiba bertanya, “apa yang dimaksud “machtsvorming”? Si aktivis pun langsung menjawab singkat, “machtsvorming adalah pembangunan kekuatan atau kekuasaan.” Itu saja.
Kelihatannya si wartawan merasa mendapat jawaban yang kurang memuaskan. “Halah, kok saya malah tambah bingung, mas,” keluhnya kepada orang-orang di sekitarnya. “Kalau bicara di depan audiens yang luas begini, ya, usahakan menggunakan istilah yang sudah diketahui semua orang,” tambahnya.
Setahu saya, seiring dengan proyek Orde Baru mengubur ajaran-ajaran Bung Karno, istilah machtsvorming memang jarang digunakan. Meskipun, saya akui, istilah itu sangat populer di jaman pergerakan hingga di akhir 1960-an. Jadinya, harus ada upaya mengelaborasi kembali makna “machtsvorming” ala Bung Karno itu kepada publik.
Apa itu “machtsvorming”?
Secara harfiah, machts berarti kuasa, tenaga, kekuatan, sedangkan vorming berarti pembentukan. Dengan demikian, machtvorming bisa diartikan “pembentukan kuasa atau kekuatan”.
Menurut Bung Karno, machtsvorming adalah pembentukan kuasa atau penyusunan tenaga. Ia menekankan, machtsvorming merupakan proses penciptakan paksaan/tekanan agar pihak musuh mau menuruti tuntutan atau kehendak kita.
Landasan Machtvorming
Macthsvorming dibutuhkan karena beberapa hal. Pertama, adanya kontradiksi atau pertentangan tak terdamaikan antara pihak kaum sana dan kaum sini. Bung Karno merujuk pada kata-kata Karl Marx: “Tidak ada klas penguasa manapun yang mau menyerahkan kekuasaannya secara sukarela kepada klas lain.”
Bung Karno kemudian mengadopsi penjelasan Marx itu dalam konteks negara jajahan. Katanya, antara negara penjajah dan terjajah terjadi pertentangan yang tak terdamaikan. Ia menyebutnya sebagai pertentangan antara kaum sana dan kaum sini.
Dalam kontradiksi itu, ujar Bung Karno, kaum sana tidak akan dengan sendirinya tunduk pada tuntutan kaum sini. Baginya, kaum sana hanya mungkin tuduk pada kaum sini bila ada desakan atau paksaan. “Dan desakan itu hanya bisa kita jalankan bilamana kita punya kekuatan, mempunyai kekuasaan, mempunyai macht,” ujar Soekarno.
Kedua, rakyat negara jajahan hanya bisa mematahkan imperialisme, berikut segala pengaruhnya, melalui pengambil-alihan kekuasaan politik. Karena itu, menurut Bung Karno, perjuangan rakyat jajahan haruslah perjuangan politik menuju perebutan kekuasaan.
Ia menegaskan, sebelum rakyat belum memegang kekuasaan politik, maka syarat-syarat hidupnya—ekonomi, politik, dan sosial-budaya—masih akan ditentukan oleh pihak penjajah. “Mencapai kekuasaan politik bagi rakyat jajahan berarti mencapai pemerintahan nasional sendiri, mencapai kemerdekaan nasional, mencapai hak untuk mengadakan UU sendiri, mengadakan aturan-aturan sendiri, dan pemerintahan sendiri,” tegasnya.
Hal itu berlaku pula dalam perjuangan kaum marhaen dan proletar melawan kaum feudal dan borjuis. Bung Karno mengingatkan, jangan sampai kekuasaan politik negara Indonesia merdeka jatuh ke tangan kaum borjuis dan ningrat. “Dalam perjuangan habis-habisan mendatangkan Indonesia Merdeka, kaum Marhaen harus menjaga agar jangan sampai nanti mereka yang kena getahnya, tetapi kaum borjuis atau ningrat yang memakan nangkanya,” kata Bung Karno.
Ketiga, machtsvorming harus dilakukan di atas prinsip radikalisme, yakni prinsip perjuangan yang menolak kompromisme, perubahan setengah-setengah, politik lunak, dan segala bentuk politik tawar-menawar dengan pihak kaum sana.
Bung Karno memaknai radikalisme sebagai perjuangan menghancur-leburkan imperialisme dan kapitalisme hingga ke akar-akarnya dan, kemudian, memperjuangkan pembangunan masyarakat yang sama sekali baru; Sosialisme.
Untuk menjelmakan machtsvorming yang berasaskan radikalisme itu, kaum marhaen harus menempuh jalannya “massa aksi”, yaitu  pergerakan massa rakyat yang sadar dan memahami tujuan-tujuan perjuangan. Massa aksi menyadari bahwa tujuan perjuangan mereka adalah membongkar kapitalisme/imperialisme dan melahirkan masyarakat baru.
Membangun Machtsvorming
Dari penjelasan Bung Karno di atas, kita bisa menyimpulkan, bahwa machtsvorming adalah proses mengakumulasi kekuatan. Karena itu, bisa disimpulkan, machtsvorming adalah proses yang panjang dan dialektis.
Dalam tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka”, Bung Karno menjelaskan, machtsvorming bukan hanya penyusunan wadah tenaga saja, tetapi juga penyusunan tenaga semangat, tenaga kemauan, tenaga roh, dan tenaga nyawa.
Artinya, harus ada proses yang dialektik antara proses memimpin perjuangan rakyat sehari-hari, pengorganisasian dan pewadahan massa, dan proses penyadaran massa. Dialektika hal itulah yang—secara simultan—akan melahirkan massa aksi.
Bagaimana membangun macthsvorming itu?
Pertama, pergerakan yang mengusung machtsvorming harus terlibat dan memimpin perjuangan rakyat sehari-hari—kaum marxis menyebutnya perjuangan ekonomis, seperti perjuangan menuntut kenaikan upah, menurunkan pajak, menghapus kerja rodi, dan lain-lain.
Bagi Bung Karno, dengan terlibat dalam “perjuangan kecil” sehari-hari itu, kaum pergerakan punya kesempatan berhubungan langsung dengan massa luas, menyuluhi atau mengagitasi mereka, dan mengorganisasikannya dalam wadah-wadah perjuangan.
Selain itu, Bung Karno beranggapan, perjuangan sehari-hari adalah suatu schooling, suatu training, suatu gemblengan tenaga menuju perjuangan yang lebih besar.
Kedua, kaum pergerakan harus terlibat memanfaatkan segala ruang yang menyediakan kesempatan untuk mengorganisasikan massa. Bung Karno tidak mengharamkan kaum pergerakan terlibat dalam pembangunan badan-badan ekonomi dan sosial, seperti pembangunan koperasi, warung, rumah anak yatim piatu, dan lain-lain.
Ketiga, melakukan propaganda seluas-luasnya melalui famplet, majalah, koran, risalah-risalah (buku-buku), dan lain-lain. Propaganda seluas-luasnya juga bisa diciptakan ruangnya melalui rapat-rapat akbar (vergadering), pertemuan-pertemuan massa, kursus-kursus politik, dan lain-lain.
“Bekerjalah dengan penamu, dengan mulutmu, dengan gurungmu, dengan lidahmu! Ya, di dalam massa aksi ada faedahnya juga bergembar-gembor! Gemborkanlah juga gurungmu sampai suaramu memenuhi alam, gerakkanlah penamu sampai ujungnya menyala-nyala,” kata Bung Karno.
Keempat, pergerakan machtsvorming harus terus menyuluhi atau memajukan kesadaran massa. Hal ini dilakukan melalui kursus-kursus, pendidikan politik, brosur-brosur, majalah partai, dan lain-lain.
“Massa aksi zonder (tanpa) teori perjuangan, zonder kursus-kursus, zonder brosur-brosur dan surat-kabar, adalah massa aksi yang tidak hidup dan tak bernyawa, yang karenanya tak mempunya kemauan. Padahal, kemauan inilah yang bisa menjadi motor tenaga massa aksi,” kata Bung Karno.
Pendek kata, machtvorming bisa dimaknai sebagai pembangunan blok sosial-politik anti-imperialisme dan anti-kapitalisme. Dan, seperti ditegaskan Bung Karno, pembangunan blok sosial-politik ini tidak mungkin tanpa sebuah alat politik, yang bertugas menyatukan kehendak kaum tertindas dalam sebuah proyek politik bersama.
Timur Subangun, kontributor Berdikari Online


Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20130207/bung-karno-dan-strategi-machtsvorming.html#ixzz2KJktbJ7W
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook