Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Rabu, 05 September 2012

Misteri eksekusi mati Imam DI/TII Kartosoewirjo terungkap

Rabu, 5 September 2012 07:25:00

Misteri eksekusi mati Imam DI/TII Kartosoewirjo terungkap


Misteri eksekusi mati Imam DI/TII Kartosoewirjo terungkap
kartosoewirjo. blogspot.com
Reporter: Ramadhian Fadillah

Misteri eksekusi mati Imam dan Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo terungkap. Selama 50 tahun, pemerintah Soekarno dan Soeharto menyembunyikan lokasi eksekusi sang Imam untuk mencegah balas dendam dan reaksi para pengikutnya yang fanatik.

Selama ini Kartosoewirjo dipercaya masyarakat dieksekusi dan dikubur di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Bahkan ada makam yang disebut sebagai makam sang imam di sana. Ternyata salah besar.

Adalah sejarawan dan budayan Fadli Zon yang membuka misteri yang tersimpan 50 tahun lalu itu. Lewat buku 'Hari terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi mati Imam DI/TII', terungkap Kartosoewirjo dieksekusi mati dan dikuburkan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.

Buku foto ini merangkai perjalanan akhir sang imam. Mulai makanan terakhir yang dimakannya, perjalanannya ke pulau, hingga ditembak mati tentara dan disalatkan serta dimakamkan.

"Sebuah fakta yang terkubur selama 50 Tahun, Kartosoewirjo dieksekusi September 1962," kata Fadli dalam undangan peluncuran bukunya yang digelar di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (4/9).

Selain itu Fadli juga memamerkan 81 foto terakhir Kartosoewirjo. Pameran ini digelar mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Soekarno kemudian mengirimkan tentara dari Divisi Siliwangi dan satuan-satuan lain untuk menumpas gerakan Kartosoewirjo.

Peperangan gerilya di belantara Jawa Barat berlangsung lama. Baru tahun 1962 gerakan ini dipatahkan. Kartosoewirjo ditangkap tentara Siliwangi saat bersembunyi dalam gubuk di Gunung Rakutak, Jawa Barat tanggal 4 Juni 1962.

Soekarno menjatuhkan hukuman mati pada Kartosuwiryo. Sebenarnya, Kartosoewirjo adalah sahabat karibnya. Dulu Soekarno, Muso dan Kartosoewirjo sama-sama ngekos di rumah Tjokroaminoto di Surabaya.

Tapi ketiganya akhirnya memilih ideologi dan jalan yang berbeda. Nasib Kartosoewirjo pun berakhir diterjang timah panas regu tembak tentara Soekarno.
[ian]
Rabu, 5 September 2012 11:30:47

Eksekusi Kartosoewirjo, bukti sang Imam bukan nabi


Eksekusi Kartosoewirjo, bukti sang Imam bukan nabi
Eksekusi Kartosoewirjo. ©2012 Merdeka.com
Reporter: Ramadhian Fadillah

Keluarga Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, bersyukur foto-foto eksekusi mati terungkap. Hal ini bisa membongkar rahasia yang terkubur selama 50 tahun.

Sebelumnnya beredar informasi simpang siur soal Kartosoewirjo. Ada yang bilang sang Imam hilang, tak mempan ditembak dan saat dieksekusi pelurunya mental. Hingga kabar eksekusi dilakukan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

"Ini meluruskan sejarah. Dalam kepercayaan kami memang semua manusia akan mati. Eksekusi ini membuktikan kalau Kartosoewirjo juga manusia biasa," kata anak bungsu Kartosoewirjo, Sardjono, saat diskusi buku Hari-hari terakhir Kartosoewirjo di TIM, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Sardjono tak mau sang imam disakralkan. Dia ingin ayahnya diperlakukan seperti manusia biasa. Didoakan, bukan dimintai doa seperti orang suci atau nabi.

"Kematian itu hanya perpindahan ruh untuk menemui penciptanya," kata dia.

Sardjono kemudian meminta izin untuk mengajak hadirin membacakan surah Al-Fatihah untuk ayahnya. Maka lantunan doa pun terlantun untuk sang imam yang 12 tahun bergerilya melawan Republik Indonesia.

Kartosoewirjo dieksekusi mati tahun 1962 di Pulau Ubi.
[did]

Rabu, 5 September 2012 10:40:27

Kartosoewirjo makan rendang dan merokok sebelum ditembak mati


 Kartosoewirjo makan rendang dan merokok sebelum ditembak mati
Kartosoewirjo (repro). ©2012 Merdeka.com
Reporter: Ramadhian Fadillah

Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) dieksekusi mati Bulan September 1962. Sebelum ditembak mati, tentara mempertemukan Kartosoewirjo dengan pihak keluarga untuk terakhir kali.

Pada kesempatan itu juga Kartosoewirjo makan untuk terakhir kali. Menu yang disajikan adalah rendang. Saat itu ada istri dan enam anak Kartosoewirjo.

Kartosoewirjo sendiri tidak mau makan. Sementara istrinya kepedasan. Anak-anaknya menyantap makanan itu sampai habis. Demikian pameran foto Hari-Hari Terakhir Kartosoewirjo yang dipamerkan di TIM, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Kartosoewirjo kemudian minum kopi sambil memberikan pesan terakhir pada keluarganya. Dia lalu melepas jam Rolex untuk diwariskan pada keluarganya.

Dia sempat merokok dengan tangan terborgol sebelum masuk ke mobil tahanan untuk kemudian dibawa ke pulau Ubi, Kepulauan Seribu dan ditembak mati.
[ren]
Rabu, 5 September 2012 10:58:22

4 Permintaan Kartosoewirjo pada Soekarno sebelum mati


4 Permintaan Kartosoewirjo pada Soekarno sebelum mati
kartosoewirjo. blogspot.com
Reporter: Ramadhian Fadillah

Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mengakhiri pemberontakannya dan ditangkap bulan Juni 1962 oleh tentara Republik Indonesia. Dia kemudian diadili secara kilat dan dijatuhi hukuman mati.

Kartosoewirjo sempat meminta grasi pada Presiden Soekarno, tapi ditolak. Dia pun akhirnya meminta empat hal pada Soekarno.

"Ada permintaan terakhir bapak. Ada empat," kata anak bungsu Kartosoewirjo, Sardjono, saat diskusi buku Hari-hari terakhir Kartosoewirjo di TIM, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Permintaan tersebut adalah bertemu dengan perwira-perwira terdekat Kartosoewirjo. Permintaan ini ditolak karena akan menimbulkan dampak politik.

Permintaan kedua, eksekusi mati disaksikan perwakilan keluarga. Permintaan ini juga ditolak. Yang ketiga, jenazah dikembalikan pada pihak keluarga. Ini juga ditolak.

"Permintaan keempat, agar dipertemukan dengan pihak keluarga untuk terakhir kalinya. Permintaan ini yang dikabulkan," kata Sardjono.

Maka sang imam besar pun dipertemukan dengan keluarganya untuk terakhir kali. Mereka makan bersama dan mengobrol untuk terakhir kali di rumah tahanan militer, Jakarta.

Setelahnya Kartosoewirjo dibawa ke Pulau Ubi dan ditembak mati regu penembak.
[did]
Rabu, 5 September 2012 10:40:27

Kartosoewirjo makan rendang dan merokok sebelum ditembak mati


 Kartosoewirjo makan rendang dan merokok sebelum ditembak mati
Kartosoewirjo (repro). ©2012 Merdeka.com
Reporter: Ramadhian Fadillah

Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) dieksekusi mati Bulan September 1962. Sebelum ditembak mati, tentara mempertemukan Kartosoewirjo dengan pihak keluarga untuk terakhir kali.

Pada kesempatan itu juga Kartosoewirjo makan untuk terakhir kali. Menu yang disajikan adalah rendang. Saat itu ada istri dan enam anak Kartosoewirjo.

Kartosoewirjo sendiri tidak mau makan. Sementara istrinya kepedasan. Anak-anaknya menyantap makanan itu sampai habis. Demikian pameran foto Hari-Hari Terakhir Kartosoewirjo yang dipamerkan di TIM, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Kartosoewirjo kemudian minum kopi sambil memberikan pesan terakhir pada keluarganya. Dia lalu melepas jam Rolex untuk diwariskan pada keluarganya.

Dia sempat merokok dengan tangan terborgol sebelum masuk ke mobil tahanan untuk kemudian dibawa ke pulau Ubi, Kepulauan Seribu dan ditembak mati.
[ren]
Rabu, 5 September 2012 16:25:04

Jam tangan Rolex warisan Kartosoewirjo hilang dimaling


Jam tangan Rolex warisan Kartosoewirjo hilang dimaling
Eksekusi Kartosoewirjo. ©2012 Merdeka.com
Reporter: Ramadhian Fadillah


Sebelum dieksekusi, Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo melepaskan jam tangan mewah Rolex miliknya. Dia kemudian menyerahkan jam ini pada tentara untuk kemudian diserahkan pada keluarganya.

Jam Rolex terkenal mahal. Hal ini menunjukkan gaya hidup sang imam ternyata tidak sepuritan yang digambarkan. Saat itu rasanya hanya Perdana Menteri Sjahrir yang jamnya Rolex. Sjahrir memang dikenal flamboyan.

"Dulu jam itu diwariskan ke anak bungsu Kartosoewirjo, Sardjono. Tapi rumah Sardjono dulu kemasukan pencuri. Jam itu hilang dicuri," kata sejarawan Fadli Zon saat diskusi buku Hari-hari terakhir Kartosoewirjo di TIM, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (5/9).

Sardjono yang turut hadir sebagai pembicara mengiyakan sambil tersenyum. Dia pun membenarkan tak ada warisan berharga lain yang diwariskan ayahnya. Dari tahun 1949 hingga 1962, Kartosoewirjo bergerilya di belantara Jawa Barat untuk melawan pemerintah Republik Indonesia.

Sardjono menjelaskan ayahnya memang tak punya permintaan lain-lain saat divonis hukuman mati. Dia mengaku hanya ingin cepat bertemu penciptanya.

"Beliau ingin melihat apa yang dihasilkan dari perjuangannya di sisi penciptanya," kata Sardjono.

Kartosoewirjo dieksekusi mati September 1962. Hal ini mengakhiri pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.
[ian]KOMENTAR:Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo bersalah karena melakukan Pemberontakkan bersenjata terhadap Republik Indonesia dengan mendirikan Darul Isllam/Negara Islam Indonesia yang diprolamirkan tanggal 7 Agustus 1949 di Limbangan Garut Jawa Barat.Pemberontakan ini berlangsung sampai tahun 1962.Dalam pemberontakan ini terjadi beberapa kali percobaan Pembunuhan terhadap Bung Karno.sebagai Presiden Republik Indonesia yang syah.Pemberontakan ini diikuti pula oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan,Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan dan Daud Beureuh di Aceh.Pemberontakan disaat Indonesia baru merdeka ini adalah suatu Pengkhianatan besar terhadap perjuangan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945.

Selasa, 04 September 2012

Polemik The Act of Killing



Polemik The Act of Killing (1)

Mengail kontroversi lewat PKI


Mengail kontroversi lewat PKI
Anwar Congo, pemeran utama film The Act of Killing di rumahnya, Medan, Sumatera Utara, Rabu (29/8). (merdeka.com/Yan Muhardiansyah)
Reporter: Faisal Assegaf


Dari tema diambil, The Act of Killing, jelas bisa memantik kontroversi di dalam negeri dan masyarakat internasional. Tidak seperti film-film bertema peristiwa 1965 lain, dokumenter karya Joshua Lincoln Oppenheimer ini memotret peristiwa pembantaian anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama etnis Tionghoa dari sudut pelaku.

Cuplikan film sudah beredar di Internet sejak Selasa pekan lalu ini menampilkan betapa gembiranya para pelaku berseragam sebuah organisasi pemuda yang masih ada sampai kini karena berhasil membasmi musuh negara itu. Wajah mereka juga tidak menampakkan penyesalan. Ditambah lagi muncul dua tokoh, yakni mantan wakil presiden Jusuf Kalla dan Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno.

Hingga berita ini dilansir, kedua pemuka masyarakat itu belum bisa dimintai komentar soal tampilnya mereka dalam film itu. Kalla yang kini memimpin Palang Merah Indonesia tidak bisa ditemui di kantornya. Orang dekatnya juga tidak dapat dihubungi. Telepon seluler Japto juga tidak aktif. Ketika dihubungi rumahnya, disebutkan dia sedang ke luar kota.

Ketua KontraS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Haris Azhar memastikan film ini bakal menghebohkan hingga dunia internasional. Bukan lantaran temanya saja, namun film ini juga memotret langsung pelaku lapangan dari organisasi yang sampai saat ini masih berpengaruh. "Film ini akan makin menunjukkan apa sebenarnya terjadi pada pembantaian 1965," katanya saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya Jumat pekan lalu.

Komentar serupa juga meluncur dari lisan sejarawan Asvi Warman Adam. Dia menegaskan The Act of Killing bakal makin menguatkan bukti perlunya pembentukan pengadilan hak asasi adhoc buat kasus 1965, seperti rekomendasi dibuat oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Juli lalu.

Dia yakin film ini bakal mengubah pandangan Barat dalam konteks Perang Dingin terhadap peristiwa 1965. "Selama ini masyarakat Barat mengakui (pembantaian PKI) itu jahat tapi perlu dilakukan," ujar Asvi saat dihubungi secara terpisah.

Film sepanjang 115 menit ini dipuji sejumlah kalangan. "Saya belum pernah melihat satu film berpengaruh dan menakutkan (seperti The Act of Killing) dalam satu dekade terakhir," kata Werner Herzog (aktor, sutradara, dan produser asal Jerman), seperti dikutip dari situs theactofkilling.com. "The Act of Killing sangat mengejutkan dalam sejarah film."

Errol Mark Morris menilai The Act of Killing sebagai potret luar biasa dari pembantaian massal. "Sebuah film menakjubkan dan mengesankan," kata sutradara dari Amerika Serikat ini. Surat kabar the Guardian sembilan tahun lalu menempatkan lelaki 64 tahun ini pada peringkat ketujuh dalam daftar 40 sutradar terbaik sejagat.

Bukan sekadar cerita dan tokohnya yang kontroversial, penggarapannya juga bisa menjadi polemik. Oppenheimer bekerja sama dengan sejumlah pihak di Indonesia, namun identitas mereka disembunyikan. Ini termasuk satu dari tiga sutradara selain Oppenheimer dan Christine Cynn.

Sutradara ini mengaku mantan mahasiswa ikut demonstrasi anti-Soeharto pada 1998. "Saya harus tetap menyembunyikan identitas saya karena kondisi politik Indonesia saat ini masih terlalu berbahaya jika saya membuka diri," ujarnya.
Oppenheimer berhasil meminta Anwar dan rekan-rekannya membuat film tentang pengalaman mereka masa muda yang menggemari film-film koboi, termasuk saat mereka membasmi PKI. Alhasil, film diberi judul Arsan dan Aminah itu menjadi bagian dari The Act of Killing.

Ironisnya, Anwar yang menjadi pemeran utama tahunya film itu berjudul Arsan dan Aminah, bukan The Act of Killing yang Sabtu pekan ini diputar di Festival Film Internasional Toronto, Kanada.

[fas]
Senin, 3 September 2012 07:32:00Polemik The Act of Killing (2)

Tertipu sang sutradara


Tertipu sang sutradara
Adegan The Act of Killing. (theactofkilling.com)
Reporter: Faisal Assegaf


Empat tahun lalu, datang seorang bule ke Kota Medan, Sumatera Utara. Dia mencari narasumber untuk membuat film dokumenter soal pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia dan etnis Tionghoa di provinsi itu hampir setengah abad lalu.

Setelah bertanya ke sana kemari, lelaki kelahiran Austin, Negara Bagian Texas, Amerika Serikat, bernama Joshua Lincoln Oppenheimer ini mendapat arahan buat menemui Anwar Congo. Dia bersama rekan-rekannya dari sebuah organisasi pemuda pada 1965 ikut membasmi ribuan anggota PKI dan warga keturunan China di seantero Sumatera Utara. "Saya waktu itu orang lapangan dan selalu hadir dalam tiap acara organisasi," kata Anwar saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya, Rabu pekan lalu.

Kepada Anwar, Oppenheimer fasih berbahasa Indonesia, menyatakan ingin membuat film mengenai pengalaman pria yang kini 72 tahun ini saat membantai anggota dan simpatisan organisasi terlarang itu. Oppenheimer mengaku film itu bagian dari disertasinya.

Oppenheimer pernah berkuliah di jurusan film di Universitas Harvard, Massachusetts, Amerika. Dia menyelesaikan program doktornya di bidang seni di Central Santi Martins College of the Art and Design, University of the Art London.

Anwar antusias mendengar hal itu dan dia langsung menyetujui rencana pembuatan film mengenai pembantaian itu. Apalagi, dia menjadi tokoh utama dalam film berjudul The Act of Killing itu. "Tidak pernah ada yang bikin sejarah kehidupan saya. Tentu ada kebanggaan. Makanya saya bercerita spontan dan blak-blakan saja," ujar pria mengaku lulusan kelas 4 SD ini.

Menurut Anwar, syuting berlangsung sekitar dua tahun mulai 2008. Selama itu pula, Oppenheimer bersama Anwar menjelajahi sejumlah lokasi pembantaian di Sumatera Utara, seperti Labuan Batu, Tanah Karo, dan Langkat.

Tiga bulan lalu, seingat dia, Oppenheimer datang menyodorkan surat perjanjian dalam bahasa Inggris. Tentu saja, Anwar tidak memahami isinya. Dia hanya meneken setelah Oppenheimer bilang mereka tidak ada lagi ikatan setelah pembuatan film selesai. "Saya merasa kalau saya dirugikan saya tidak bisa menuntut."

Dia mengaku sudah mewanti-wanti agar film itu diputar setelah dia meninggal. Ternyata, Openheimer pekan lalu menghubungi Anwar dan memberitahukan dokumenter soal pembantaian PKI itu bakal diputar dalam Festival Film Internasional Toronto. The Act of Killing mendapat jadwal pemutaran pada 8, 10, dan 16 September.

"Saya merasa tertipu. Ini memang kekeliruan saya. Film ini bisa saja berdampak buruk buat saya," ujar Anwar. Dia menegaskan hingga kini Oppenheimer tidak bisa dihubungi.

Merasa tertipu juga dialami Adi Zulkadry yang terlibat dalam film itu. "Saya merasa ditipu karena film itu dikomersialkan. Dia dapat untung, saya nggak dapat apa-apa," ujarnya saat dihubungi secara terpisah Kamis pekan lalu.

Seperti kepada Anwar, Oppenheimer juga mengaku terhadap Adi, film itu dibuat untuk menyelesaikan disertasi. Dia menyatakan senang mau membantu pembuatan film itu karena ingin kebenaran sejarah Indonesia diketahui dunia.

Adi mengakui ketika pembantaian PKI, dia termasuk pimpinan sebuah organisasi pemuda di Sumatera Utara. Dia menyatakan ikut pula membantai. "Saya tidak ingat karena itu pembantaian massal dan tidak dikerjakan sendiri-sendiri," ujarnya saat ditanya berapa orang dia bantai saat itu.

Namun dia menegaskan tidak menyesali keterlibatannya dalam pembantaian itu. "Ini bukan kemauan saya pribadi, ini kemauan sejarah," katanya. Menurut dia, pemerintah seharusnya bertanggung jawab memulihkan nama baik dan memberi ganti rugi kepada keluarga korban.

Ada kesan Oppenheimer - hingga tulisan ini dilansir belum bisa dimintai komentar - mengakui telah menipu kedua orang itu, terutama Anwar. "Dia mungkin suka atau tidak suka terhadap hasil akhir film," tulis dia dalam situs theactofkilling.com. Namun, dia memuji keberanian Anwar berbicara blak-blakan soal keterlibatannya dalam pembasmian PKI.
[fas]
Senin, 3 September 2012 08:00:00Polemik The Act of Killing (3)

Bertemu sang pemeran utama


Bertemu sang pemeran utama
Anwar Congo, pemeran utama The Act of Killing. (merdeka.com/Yan Muhardiansyah)
Reporter: Yan Muhardiansyah


Nama Anwar Congo tiba-tiba menjadi perhatian dengan munculnya film The Act of Killing karya sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer. Dia narasumber dan pemeran utama film dokumenter bercerita tentang pembunuhan massal selepas peristiwa 30 September 1965.

Tak sulit mencari rumah Anwar Congo di Medan, Sumatera Utara. Datang saja ke kawasan Medan Area, kemudian tanyakan namanya. Orang-orang setempat umumnya kenal dengan tokoh organisasi pemuda ini. Mereka akan langsung menunjuk ke arah rumah berpagar putih di Jalan Sutrisno Gang Sehati nomor 768 itu.

Anwar - berkemeja lengan panjang warna krem - langsung mempersilakan merdeka.com masuk, Rabu pekan lalu. Di dalam teras tertutup itu terlihat berbagai ornamen, termasuk foto burung bangau, anak panah dengan tatakan bertulisan 'Apache', dan cenderamata dari Panglima Komando Daerah Militer I Bukit Barisan serta Persija Jakarta.

Juga terpampang poster film Arsan dan Aminah dibintangi Anwar Congo dan rekan-rekannya. Anwar berperan sebagai koboi. “Memang sutradaranya orang TVRI, tapi Joshua (Oppenheimer) juga ikut pegang kamera di film ini. Kisahnya tentang saya bercinta dengan anak PKI. Ayahnya saya bunuh. Di ujung cerita anaknya juga mati karena dia Gerwani,” cerita Anwar sambil menunjuk dua poster berhadapan di ruangan itu.

Patung putih berbentuk kepala Anwar pun tampak di teras itu. Benda itu lebih menonjol ketimbang kolam sederhana berisi ikan koi. Tiruan kepala Anwar itu ternyata bagian dari properti The Act of Killing. “Sebelumnya ada tujuh patung, satu pecah. Belakangan lima dihancurkan, aku minta satu buat kenang-kenangan,” ujarnya.

Setelah menyalakan rokok kretek, Anwar kemudian berbicara tentang apa yang dia ceritakan kepada sutradara Joshua Lincoln Oppenheimer. Pria 72 tahun ini berkisah hanya bersekolah hingga kelas IV SD Taman Siswa, Medan. Dalam perkembangannya, Anwar muda menjadi preman. Lelaki dengan rajah naga besar di perut hingga dada ini mengaku pernah menjadi petinju di Pangkalan Brandan, Langkat, juga atlet bowling di Medan. Untuk olahraga terakhir, dia bahkan sempat bertanding di Malaysia pada 1960-an.

Semasa muda, Anwar biasa mangkal di Medan Bioskop - sekarang menjadi ruko - di Jalan Sutomo, Medan. Selain menjual tiket secara ilegal, dia memasukkan penonton ke dalam bioskop tanpa tiket. Karena terlalu sering menyelundupkan penonton ke bioskop, Anwar akhirnya dijadikan karyawan bagian pengamanan di tempat sangat popular ketika itu.

Di masa yang sama, Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin membesar, termasuk di Medan. Anwar menuding partai ini dan organisasi binaannya sering merasa lebih kuat dan kerap berseberangan dengan partai dan kelompok lain. Menyikapi hegemoni ini, partai saingan PKI merekrut para pemuda, termasuk Anwar dari kalangan preman, untuk memperkuat barisan massanya. “Sebenarnya tidak ada yang merekrut secara resmi. Kami bergabung karena emosi,” ujarnya sambil menyilangkan tangan kanan di dada kiri.

Anwar mengklaim mereka paling militan dalam kelompok aksi anti-PKI. “Kami sering berhadapan dengan Pemuda Rakyat, organisasi binaan PKI. Bahkan kami pernah berkelahi di Lapangan Merdeka pas acara Hari Kemerdekaan. Waktu itu mereka baris di sana, kami juga baris di sana,” ujar Anwar.

Kebencian kelompok-kelompok pemuda ini terhadap PKI dan binaannya semakin memuncak setelah peristiwa 30 September 1965. “Mereka mau membunuh Jenderal A.H. Nasution, pendiri kami. Kami semakin emosi. Apalagi selama ini orang-orang PKI sering menuding kami perampok kota dan tidak berpendidikan,” dia menegaskan.

Kelompok pemuda lalu gencar menyerang kelompok PKI. Mereka terpusat di posko Jalan Sutomo. “(Lokasinya) pas di depan Pekong Lima,” ujar Anwar. Dalam penyerangan kemudian diikuti pembantaian para pengikut PKI itu, salah satu sasaran kelompok Anwar adalah kawasan Kampung Kolam, Tembung. “Kadang ada perlawanan, dua kawan kita dibunuh mereka di Kampung Kolam, dibenamkan ke dalam parit, kita semakin emosi,” ujarnya.

Kelompok Anwar juga mengejar para pendukung PKI yang lari. Mereka biasanya menggunakan mobil direbut dari Universitas Res Publica (Uresca), sekarang menjadi SMA Negeri 8, Jalan Sampali, Medan. Simpatisan PKI tertangkap kemudian diinterogasi di markas komando aksi di Jalan Sutomo. Jika terlibat, langsung dihabisi dan biasanya eksekusi berlangsung pada malam.

Dalam sinopsis film dibuat Oppenheimer, Anwar menyatakan lebih suka menggunakan kawat untuk menjerat leher pendukung komunisme. “Bukan karena suka, tapi biar tidak merepotkan. Kalau pakai senjata lain bikin susah membersihkan lagi,” ucapnya.

Kelompok aksi tidak memandang etnis dalam pembantaian ini. Warga Tionghoa dibunuh adalah yang terlibat dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), dinilai mendukung PKI. “Nggak semua. Kita juga ada kawan orang China membantu pendanaan,” ujarnya.

Pria hobi memancing ini mengatakan pembantaian itu merupakan cara ampuh membasmi komunisme dari Indonesia. Itu pula dikatakan Oppenheimer saat mewawancarai dia. Sang sutradara membandingkan sulitnya menghapus komunis di Kamboja, padahal penduduknya hanya sekitar 20 juta jiwa. “Makanya dia katanya mau buat film tentang keberhasilan itu. Dia buat dua film, katanya satu fiksi, satu dokumenter. Joshua ini tidak suka dibohongi, orangnya pintar, makanya saya ceritakan semua,” kata Anwar.

Sepengetahuan Anwar, pengambilan gambar The Act of Killing berlangsung sekitar dua tahun, mulai 2008. Dalam situs theactofkilling.com, Joshua menyatakan memulai pembuatan film itu sejak Februari 2004. Anwar mendengar sudah 640 kaset dihabiskan untuk membuat karya audio visual itu. "Kata Joshua, satu kaset satu jam. Mau mampus aku syuting dibuat Joshua ini. Malah aku sempat dikasih kamera untuk merekam diri sendiri, bebas bicara apa saja,” ucap Anwar.

Namun, Anwar mengaku belum melihat film didasarkan pada penuturan dan langsung dia bintangi itu. Dia pernah meminta salinannya, tapi Oppenheimer belum memberikan. Anwar masih bertanya-tanya seperti apa film itu. Dia hanya mendengar The Act of Killing akan diputar di Festival Film Internasional Toronto mulai Sabtu pekan ini.
[fas]
Senin, 3 September 2012 08:35:00Polemik The Act of Killing (4)

Saya tidak dibayar untuk membasmi PKI


Saya tidak dibayar untuk membasmi PKI
Anwar Congo, pemeran utama The Act of Killing. (merdeka.com/Yan Muhardiansyah)
Reporter: Yan Muhardiansyah


Nama aslinya cuma Anwar. Tambahan Congo diberikan lantaran dia hampir ikut misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa ke Kongo. Tetapi dia batal ikut.

Sosok Anwar Congo dipastikan bakal tersohor tidak hanya di Indonesia, tapi hingga mancanegara. Sebab dia narasumber sekaligus pemeran utama film The Act of Killing karya sutradara Amerika Serikat, Joshua Lincoln Oppenheimer.

Film ini bakal ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto, Kanada, Sabtu pekan ini. Berdasarkan sinopsisnya, film ini bercerita tentang para pelaku pembunuhan massal setelah peristiwa 30 September 1965 tidak tersentuh hukum sampai saat ini. Padahal ketika itu lebih dari satu juta nyawa pendukung komunisme melayang.

Bagi Anwar, pembantaian itu adalah cara ampuh membasmi komunisme di Indonesia. Dia berkukuh tindakannya tidak salah.

Berikut petikan wawancara Yan Muhardiansyah dari merdeka.com dengan Anwar Congo di kediamannya, Jalan Sutrino Gang Sehati No 768 Medan, Rabu (29/8).

Berapa usia Anda saat membasmi anggota PKI?

Sekitar 25 atau 26 tahun. Jadi ketika itu badan betul-betul tegar.

Bagaimana Anda direkrut oleh siapa?

Saya direkrut oleh… bukan…ini kesadaran saya bersama teman-teman melihat kegiatan-kegiatan kaum komunis di Sumatera Utara kelewat memojokkan orang, seperti orang ada haluan-haluan. Ada haluan-haluan pada waktu itu, seperti pemusik dilarang karena haluannya ke Amerika. Kita sebagai orang jalanan, orang bioskop, ingin supaya bioskop itu tetap ramai, bisa dapat uang. Ini karena kesadaran sendiri.

Ada berapa orang ikut ketika itu?

Itu bukan perjuangan saya tok. Itu rakyat Sumatera Utara memang sudah gerah. Pas pula waktunya begitu, kita sama-sama bahu-membahu mencari siapa dalang-dalang mereka (PKI).

Apakah dulu Anda dilatih dan berapa lama?

Saya tidak pernah dilatih, hanya kesadaran berkawan.

Berapa Anda dibayar?

Tidak pernah ada bayaran.

Bagaimana biaya penghidupan Anda?

Penghidupan saya waktu itu hasil dari pasar gelap. Catut film. Kalau ada band-band dari Jakarta, mudah-mudahan kami bisa mencatut. Nanti donator-donatur bilang suruh jaga, kita jaga.

Berapa pendukung PKI Anda basmi dan di mana saja lokasinya?

Begini ya…kalau umumnya Medan, kalau jatuh ke tangan kami ya mudah-mudahan ... Tapi tidak (saya) satu orang, banyak kawan-kawan punya antusias. Di daerah-daerah lain juga hampir sama karena semua pada emosi.

Bisa ceritakan proses pembasmian Anda lakukan?

Pembasmiannya begini, melihat mana kalau dia itu tokoh-tokohnya. Kalau diperiksa pun dia masih menganggap dirinya hebat, dan dia pernah mengatakan dia mau mati demi Aidit (DN Aidit, Pemimpin PKI). Dia masih memakai yel-yel PKI, PKI Menang. PKI ini, PKI itu.

Kita bukan lihat faktor PKI-nya tapi komunisnya, ideologinya bertentangan dengan bangsa Indonesia. Kita itu mayoritas muslim. Sampai-sampai kita dulu pada masa jayanya (PKI) menyuruh membikin huruf L di depan rumah ulama-ulama. Dulu kalau (PKI) udah menang, (ulama) dikubur di situ. Jadi kita sebagai pemuda tiba-tiba panas. Itu gagasan-gagasan komunis menyuruh gali lubang.

Mana paling banyak Anda basmi, lelaki atau perempuan? tua atau muda (anak-anak)?

Nggak…pada waktu itu, laki-laki itu banyak karena mereka orang lapangan. Kalau perempuan diserahkan langsung ke Kodim. Kalau anak-anak kita lindungi dia.

Anda pakai senjata apa buat membasmi?

Nggak ada…spontanitas apa yang ada di badan. Ada yang kita lihat, itu saja.

Pertama kali membasmi siapa korbannya? Di mana? Jam berapa? Pakai apa?

Nggak pernah ingat saya. Pada umumnya mengerjakan begitu tengah-tengah malam, biar gampang membuangnya. Biar tidak ketahuan.

Apa Anda merasa ngeri saat membasmi pertama kali?

Nggak. Karena jiwa muda, itu tidak peduli. Apalagi kami itu orang bioskop, kadang kena minuman.

Apa bukti atau kenang-kenangan bahwa benar Anda ikut membasmi PKI?

Buktinya nggak ada karena kita juga nggak suka menyimpan begitu-begituan. Tidak ada foto hanya ada dalam ingatan saja.

Biodata

Nama : H. Anwar Congo

Lahir : Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, 1940

Pendidikan : Kelas IV SD Taman Siswa Medan

Alamat : Jalan Sutrisno Gg Sehati No768 Medan

Istri : Hj. Salmah Miftah Aziz
[fas]
Senin, 3 September 2012 09:00:00Polemik The Act of Killing (5)

Saya tidak menyesal

Saya tidak menyesal
Anwar Congo, pemeran utama The Act of Killing. (merdeka.com/Yan Muhardiansyah)
Kategori
Reporter: Yan Muhardiansyah


Anwar Congo tidak ingat lagi berapa anggota dan pendukung Partai Komunis Indonesia telah dibasmi. Maklum saja, peristiwa itu sudah lewat hampir setengah abad.

Hanya saja, dia menegaskan tidak menyesal. Soal dosa, dia membela diri orang-orang dia basmi itu tidak percaya Tuhan.

Berikut penuturan Anwar Congo saat ditemui Yan Muhardiansyah dari merdeka.com di rumahnya, Jalan Sutrino Gang Sehati No 768 Medan, Rabu (29/8).

Kenapa Anda mau direkrut menjadi pembasmi PKI?

Pada umumnya dulu anak jalanan bergabung di satu kelompok bertentangan dengan kelompok anu (komunis). Seperti kawan-kawan saya dulu paling benci dengan komunis. Saya salah satunya.

Umumnya anak jalanan di setiap pelosok Sumatera Utara tidak senang dengan komunis karena mereka (PKI) menganggap anak jalanan adalah anak-anak perampok kota, tidak pernah diajar, tidak berpendidikan.

Anda pernah dipaksa membasmi?

Tidak pernah, hanya emosi kita.

Setelah membasmi, apakah Anda pernah mengalami mimpi buruk?

Saya sudah berusaha menghilangkan mimpi buruk saya dengan pergi ke Padang dulu, empat puluh hari, Suluk namanya tahun 1999. Setelah berhaji baru tidak ada lagi.

Apakah sampai saat ini Anda merasa menyesal dan berdosa?

Saya tidak pernah menyesal karena itu sudah berlalu. Buat saya, yang sudah berlalu tidak saya ingat-ingat lagi. Biarpun itu satu anu dalam perjalanan hidup saya, saya tidak pernah menyesal. Perkara dosa, saya membayangkan yang saya kerjai ini orang tidak pernah mempercayai Tuhan.
[fas]
http://www.merdeka.com/khas/mengail-kontroversi-lewat-pki-polemik-the-act-of-killing-1.html
KOMENTAR:Inilah bukti hilangnya Perikemanusiaan Yang Adil dan Beradab dari suatu Generasi akibat Provokasi Politik Orde Baru

Rereferendum penentu berpisahnya provinsi ke-27 Indonesia

Selasa, 4 September 2012 08:00:00

Rereferendum penentu berpisahnya provinsi ke-27 Indonesia


Rereferendum penentu berpisahnya provinsi ke-27 Indonesia
Kemiskinan Timor Leste selepas 10 tahun merdeka. (c) 2012 Merdeka.com
Reporter: Ardyan Mohamad


Hari ini, 13 tahun lalu, mayoritas rakyat Timor Timur memilih lepas dari Republik Indonesia melalui sebuah jajak pendapat. Peristiwa ini sampai sekarang masih menjadi satu-satunya pemisahan wilayah yang terjadi selepas negara ini merdeka pada 1945, seperti dinarasikan ulang kantor berita Reuters (16/8/2007).
Saat rezim Orde Baru tegak berdiri, para pelajar mengenal ada 27 provinsi di negara ini. Provinsi paling muda dan terakhir 'bergabung' adalah Timor Timur, tepatnya pada 1976 selepas perang saudara antara kelompok Fretilin melawan koalisi menginginkan integrasi bekas jajahan Portugis dengan Indonesia.
Berakhirnya rezim pemerintahan otoritarian yang ditandaidengan pengunduran diri mantan PresidenSoeharto pada tanggal 21 Mei 1998 menguak fakta bahwa banyak rakyat di provinsi itu merasa tidak sehati dengan Indonesia. Apalagi jauh sebelum reformasi, tepatnya pada 1991, Tentara Nasional Indonesia terlibat pelanggaran hak asasi saat menembaki para pegiat kemerdekaan Timor Timur di kawasan pemakaman Santa Cruz, Kota Dili. Dalam insiden itu konon ratusan ribu warga tewas.
Momentum reformasi membuat persoalan status Timor Timur menarikperhatian PBB dan masyarakat internasional. Kelompok Fretilin di luar negeri juga aktif menyatakan Indonesia sengaja menduduki wilayah tetangga Nusa Tenggara Timur itu atas persetujuan Amerika Serikat pada pariode 1976.
Menghadapi desakan dunia internasional, Presiden B.J Habibiemengeluarkan kebijakan berupa pemberian status khusus dengan otonomi luas dalamsebuah rapat kabinet pada tanggal 9 Juni1998. Habibie memberi dua pilihan padarakyat Timor Timur. Pertama, merdeka, berarti lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pilihan kedua, diberi otonomi khusus dengan tetap bergabung sebagai provinsi termuda Indonesia.
Referendum yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 30 Agustus 1999 serentak dilaksanakan di lebih dari 700 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di wilayah Timor Timur dan diikuti oleh sekitar 600.000 orang Timor Timur yang berada di wilayah ini. Terdapat pula30.000 orang Timor Timur di daerah lain termasuk mereka yang berada di luar negeri. Para pemilih berusia minimal 17, lahir, keturunan Timor Timur, atau menikah dengan warga setempat.
Hasil jajak pendapat diumumkan olehSekretaris Jenderal PBBKofi Annan pada 4 September 1999di Kota New York, Amerika Serikat. Daripemungutan suara itu menunjukkan 78,5%atau sekitar 344.580 warga Timor Timurmemilih merdeka dan menolak status khususdengan otonomi luas yang ditawarkanPemerintah. Hanya 21,5 % atau sekitar94.388 orang menerima tawaran tersebut.Dengan hasil tersebut maka PemerintahRepublik Indonesia melalui MajelisPermusyawaratan Rakyat hasil PemilihanUmum 1999 mengambil langkah-langkahkonstitusional untuk melepaskan TimorTimur dari Indonesia dan mengembalikan status wilayah itu seperti sebelum berintegrasi.
Pada 25 Oktober 1999, the United NationsTransitional Administration in Timor-Leste (UNTAET) dibentuk dan bertanggungjawab selama masa transisi hinggakemerdekaan Timor Timur. Kekerasan rutin terjadi selama periode ini, lantaran milisi pro-Indonesia dan TNI yang kecewa menyerang kalangan pendukung kemerdekaan.
Presiden pertama yang terpilih adalah mantan pejuang Fretilin Xanana Gusmão. Pada 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara merdeka. Tidak lama setelah diterima menjadi anggota PBB, pemerintahan Xanana memilih Timor Leste sebagai nama resmi negara mereka.
[fas]
http://www.merdeka.com/dunia/rereferendum-penentu-berpisahnya-provinsi-ke-27-indonesia.html
KOMENTAR:Apa yang terjadi waktu itu adalah gencarnya isu SARA karena perbedaan agama,agar Bangsa Indonesia rela melepaskan Timor Timur yang telah menjadi wilayah RI,kecurangan dalam Referendum juga terjadi dimana mana.Karena itu jangan sekalipun melupakan sejarah karena kesalahan sejarah akan selalu berulang.Jangan percaya dengan PBB

Senin, 03 September 2012

Kabayuran pemasok kayu Batavia

Rabu, 29 Agustus 2012 07:00:00
Sedjarah Djakarta (1)

Kabayuran pemasok kayu Batavia


Kabayuran pemasok kayu Batavia
Kegiatan di sebuah sungai di Jakarta. (kitlv.victura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Dalam artikel Kampung-kampung Tua karya Ali Shahab, Kebayoran berasal dari kata kabayuran, berarti tempat menimbun kayu bakar. Kabayuran juga jenis kayu banyak digunakan dalam pertukanngan karena kuat dan tahan rayap.

Bukan hanya kabayuran, di sana juga lokasi menimbun beragam kayu. Gelondongan kayu ini kemudian dihanyutkan ke pusat Kota Batavia melalui aliran Kali Grogol dan Kali Krukut.

FDJ Pangemanan dalam cerita Si Tjonat dimuat di surat kabar Bintang Betawi pada 1894 mencatat Kebayoran di zaman Belanda masih hutan belantara. Inilah yang membuat daerah itu menjadi pemasok kayu utama bagi Batavia.

Menurut Kepala Departemen Sejarah Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso, Kebayoran termasuk kampung baru di Jakarta muncul pada pada akhir abad ke-19. “Kebayoran itu baru dirancang oleh Belanda pada 1930-an. Itu masih baru hitungannya. Yang tua itu Tanah Abang, Jatinegara," kata Bondan saat ditemui merdeka.com, Selasa dua pekan lalu.

Belanda membangun Kebayoran sebagai penyangga Batavia Bahkan, menurut rencana, di sana bakal dibangun bandar udara internasional. Namun, Belanda gagal mewujudkan hal itu karena meletus Perang Dunia Kedua.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah meneruskan rancangan Kebayoran sebagai kota penyangga. Sejumlah kantor pemerintah dan permukiman penduduk juga digarap.

Dalam cacatan Alwi Shahab, Sejarah Kebayoran Baru, Kebayoran didirikan dengan konsep kota taman. Rencananya, pembangunan dimulai akhir 1948, tapi karena Belanda berupaya merebut kembali Indonesia, pengerjaannya baru dimulai setahun kemudian.

Pengembangan kawasan Kebayoran itu langsung dipegang Dinas Pekerjaan Umum hingga 1958. Arsiteknya adalah Mohamad Soesilo. Dia termasuk tiga arsitek senior Indonesia saat itu bersama Frederich Silaban (arsitek Masjid Istiqlal) dan Liem Bwan Tjie (perancang Pasar Johar, Asemarang, Jawa Tengah).

Mohamad Soesilo menggambar Kebayoran Baru dengan memperbanyak taman, mengadopsi kota taman di Belanda. Karena itu, dia menetapkan sepertiga dari luas wilayah mesti ruang terbuka hijau. Kebayoran Baru juga

dibangun dengan sistem blok, mulai BLok A hingga Blok S. Sampai sekarang masih tersisa sejumlah taman di Kebayoran Baru, seperti Langast, Puring, Leuser, Barito, dan Taman Christina Marta-Tiahahu.

Sebagai kota penyangga, Kebayoran Baru dilengkapi pelbagai fasilitas umum. Mulai dari sekolah, rumah sakit, dan pusat belanja terkenal adalah Blok M dan Pasar Mayestik. Juga terdapat pusat pembuangan sampah yang kini berubah menjadi permukiman.

Meski begitu, warga setempat masih menyebut lokasi pembuangan sampah itu dengan sebutan Velbak, merujuk pada kata Belanda vuilnisbak atau tempat pembuangan sampah. Lokasi Velbak tepat berada di atas Kali Grogol yang membatasi kecamatan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama.

Menurut M. Sidiq, 58 tahun, warga asli Velbak, dulu anak-anak tinggal di kawasan Kebayoran Baru, terutama dekat Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan yang sekarang, disebut dengan istilah anak gedongan.

Seperti Menteng di Jakarta Pusat, Kebayoran Baru adalah kawasan elite di Jakarta Selatan.
[fas]
Rabu, 29 Agustus 2012 08:00:00Sedjarah Djakarta (2)

Tidak resah hidup di tempat sampah


Tidak resah hidup di tempat sampah
Gerobak pengangkut sampah di Surabaya sekitar 1911. (http://kitlv.pictura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Setiap datang truk bertulisan Hotel Indonesia, anak-anak di sekitar Velbak akan segera menyerbu tumpukan sampah telah ditumpahkan. Mereka berebut memilah sampah-sampah dianggap layak pakai atau pantas jual.

Mulai dari handuk, bungkus rokok, pecahan kaca, hingga piring dan gelas masih bisa dipakai. Oleh mereka, kemasan rokok biasanya akan digunakan untuk bermain dan taruhan. Sedangkan pecahan kaca bakal dijual kepada pengepul barang bekas. Piring dan gelas kotor akan dibawa ke rumah dan dibersihkan, meski ada cacat sedikit di sana-sisni.

Itulah suasana Velbak pada 1960-an seperti tuturkan Darwawan, 56 tahun, Ketua Rukun Tetangga 01/02 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Velbak sebagai pembuangan sampah tidak dianggap sebagai sumber masalah, malah ladang uang. “Pemulung kawasan Velbak dulu orang-orang sekitar pembuangan sampah,” kata Darmawan saat ditemui merdeka.com pada Kamis siang pekan lalu.

Darmawan bersama teman-teman sebanyanya juga ikut memulung barang bekas di Velbak. Bukan karena tidak diberi uang oleh orang tua mereka, namun buat senang-senang. Velbak saat dia kecil masih jarang penduduk. Rata-rata rumah berpekarangan luas dan tiap keluarga memiliki kebun. Darmawan mengaku dari keluarga berkecukupan, tapi dia tidak pernah gengsi berenang di Kali Grogol. Kadang orang tuanya mengajak dia berenang di Senayan.

Walau tinggal di tempat pembuangan sampah, namun, menurut Darmawan, warga sekitar tidak membuang sampah di sana. Saban rumah membikin lubang buat menimbun sampah. Mereka juga tidak membuang sampah ke Sungai Grogol. Sehingga airnya tetap jernih dan bisa dipakai buat mandi dan berwudu.

Tempang pembuangan sampah Velbak ketika itu seluas 1,5 hektare. Arealnya dari tembok kompleks Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan hingga bantaran Kali Grogol yang sekarang membatasi kelurahan Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama. “Bayangkan, tidak begitu luas kan,” ujar Darmawan. Jika sudah menumpuk, sampah-sampah di Velbak dipindah ke daerah lebih rendah.

Darmawan mengungkapkan warga Velbak juga sehat meski tinggal dekat lokasi pembuangan samapah. Rata-rata bisa hidup di atas 70 tahun. Sebab, masa itu sirkulasi udara masih bagus dan permukiman belum padat.

Perlahan, permukiman di Velbak kian ramai. Lokasi pembuangan sampah dipindah ke Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Sayangnya, perubahan itu diikuti pergantian kebiasaan masyarakat yang kini tidak lagi peduli kebersihan. “Meski zaman sudah berubah, mestinya kesadaran lingkungan harusnya tetap sama,” ujar Darmawan.
[fas]
Sedjarah Djakarta (3)

Batavia, Ratu dari Timur


Batavia, Ratu dari Timur
Taman Wilhelmina sekitar 1910. (http://kitlv.pictura-dp.nl)
Reporter: Islahudin


Saat pemerintahan kolonial Belanda masih menguasai Batavia, mereka sangat tegas mengatur masalah kebersiah, termasuk urusan buang sampah. Warga dilarang membuang barang-barang bekas ke sungai.

Bahkan konon diterapkan sistem denda jika ada yang melanggar. Aturan itu semakin ketat pada pertengahan abad ke-19. Batavia ketika itu sedang menjadi buah bibir kalangan orang Eropa. Batavia mendapat julukan Ratu dari Timur lantaran sungai-sungainya bersih dan menjadi sarana transportasi.

Menurut Alwi Shahab, wartawan senior banyak menulis tentang Jakarta, kebersihan bisa tercipta di Batavia lantaran aturan jelas dan hukum ditegakkan secara tegas. Warga sadar dan mengelola sampah sendiri. Tiap rumah mempunyai lubang khusus untuk sampah berukuran 1x1 meter dengan kedalaman satu meter.

Lubang penimbunan sampah itu biasanya dibuat di pekarangan. Jika lubang sudah penuh, dibuat lubang baru, juga masih di halaman rumah. “Kondisi saat itu memungkinkan karena tiap rumah memiliki pekarangan luas,” ujar Alwi saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya kemarin sore.

Kegiatan kebersihan zaman kolonial biasanya dilakukan pagi dan sore. Orang tua akan menyuruh anak-anak mereka membersihkan rumah hingga teras. Setelah sampah dikumpulkan, ditumpuk, lalu dibakar. Dalam bahasa Betawi, kegiatan itu disebut naman nabun atau membakar sampah.

Dalam waktu bersamaan, petugas kebersihan pemerintah kolonial membersihkan dan menyiram jalan-jalan. Selain agar terlihat bersih, untuk mengurangi debu dibawa angin. Sampah-sampah dari kantor pemerintah dibuang ke daerah-daerah pinggiran Batavia. Alwi menyebut tidak ada tempat pembuangan akhir, seperti Bantar Gebang sekarang.

Dia mengungkapkan tempat pembuangan sampah atau Velbak tersebar di pelbagai lokasi. Paling terkenal adalah velbak di Tanah Abang yang kini menjadi kompleks pemakaman umum. Sedangkan nama kampung Velbak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dibuat pada akhir abad ke-19.

Alwi menegaskan saking bersihnya, Batavia ketika itu indah dan nyaman ketimbang Singapura yang menjadi jajahan Inggris. Sayang, sekarang kondisinya terbalik. Singapura bersih dan jernih, tapi Jakarta jorok dan bobrok.
[fas]

Sabtu, 01 September 2012

Misteri Jenglot diteliti RSCM

Sabtu, 1 September 2012 07:29:41

Misteri Jenglot diteliti RSCM


Misteri Jenglot diteliti RSCM
Foto Jenglot Bantul. ©2012 Merdeka.com/parwito
Reporter: Hery H Winarno



Warga Dusun Jaten, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY, digegerkan dengan penemuan jenglot. Ratusan warga sekitar antusias untuk menyaksikan jenglot secara langsung.

Penemuan makhluk setinggi 12 cm itu pun membuat beberapa paranormal penasaran. Sejumlah paranormal berdatangan untuk melihat langsung jenglot yang dipajang di salah satu rumah warga itu.

Namun, jenglot yang ditemukan di Kali Progo itu dinyatakan palsu oleh si paranormal. "Mungkin milik orang korban penipuan jenglot aspal terus dibuang ke Kali Progo. Apalagi soal ilmu membedakan antara jenglot asli dan palsu kan tidak semua orang bisa memahaminya betul," ungkap Subarno salah seorang paranormal yang akrab dipanggil Kiai Bolong dalam dunia metafisika kepada merdeka.com, Selasa(28/8).

Usai menerawang, Ki Bolong menjelaskan, bentuk dari jenglot yang ada di Bantul merupakan hasil rekayasa manusia dari seekor katak yang sebelumnya dikeringkan. Usai kering, katak kemudian dimodifikasi sedemikian rupa mulai dari kepala dibentuk layaknya manusia.

Rekayasa jenglot yang dilakukan pada jenglot hampir sama dengan rekayasa yang dilakukan pada benda gaib yang hampir mirip dengan jenglot yang konon dinamai dengan Bethoro Karang atau dalam dunia klenik sering disebut BK. BK diyakini lebih ampuh dan mempunyai aura baik dibanding jenglot yang rata-rata mempunyai aura mistis buruk atau jahat.

"Selain katak yang digunakan sebagai media rekayasa ada satu lagi seekor kelelawar atau codot dalam bahasa Jawa untuk membuat jenglot tiruan atau aspal untuk menipu para pembeli, pemburu benda-benda gaib yang langka dan sulit didapatkan itu," ungkapnya.

Bila ada jenglot palsu tentu ada jenglot asli. Lalu apa dan bagaimana jenglot yang asli?

Jenglot adalah figur berbentuk manusia yang berukuran kecil (sekitar 10-17 cm), berkulit gelap dengan tekstur kasar seperti mumi. Jenglot umumnya berwajah seperti tengkorak dan bertaring mencuat, serta memiliki rambut dan kuku yang panjang.

Jenglot ditemukan di beberapa wilayah di nusantara, misalnya Jawa, Kalimantan dan Bali. Jenglot dipercaya memiliki kekuatan mistis dan memakan darah manusia. Sebagian masyarakat Indonesia juga meyakini jenglot sebagai makhluk yang memiliki kekuatan mistik dan dapat mengundang bencana.

Secara medis, jenglot didefinisikan sebagai bukan makhluk hidup setelah diteliti oleh tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Melalui foto sinar Rontgen, tidak ditemukan unsur tulang, sepertinya halnya pada organ mahluk hidup, namun hal yang mengejutkan justru diperoleh dari penelitian DNA lapisan kulit jenglot yang mengelupas.

Setelah diperiksa oleh Dokter Djaja Surya Atmaja dari Universitas Indonesia, ternyata lapisan kulit itu memiliki DNA mirip primata sejenis manusia. Akan tetapi, penyelidikan asal usul jenglot secara medis hanya dihentikan sampai di situ karena pemilik jenglot tidak mengizinkan jenglot dibedah, agar tidak ada hal buruk yang terjadi.

Misteri jenglot yang begitu kuat membuatnya diangkat ke dunia hiburan, terutama untuk tema misteri dan supranatural. Film Indonesia berjudul Jenglot Pantai Selatan disutradarai oleh Rizal Mantovani, dirilis pada Februari 2011.

Lalu apa itu sebenarnya jenglot?

Beberapa literatur menyebut bahwa jenglot ditemukan saat sejumlah paranormal alias dukun melakukan tirakat di Wlingi, Jawa Timur tahun 1972. Temuan yang dipamerkan waktu itu ada empat, yang pertama disebut sebagai jenglot, berjenis kelamin lelaki dan konon pula bisa membantu mengamankan pemiliknya dari segala macam bahaya.

Kedua, Bethoro Karang, pria juga, konon bisa membantu kelancaran usaha, menjaga keselamatan dan lain-lain. Lalu Bethoro Katon, konon berjenis kelamin wanita, di mana selain membantu melancarkan usaha juga bisa dipakai sebagai pengasih. Terakhir, Begawan Kapiworo, katanya penjelmaan kera putih, ada hubungan dengan Anoman, mempunyai padepokan Kendali Sodo.

Jenglot sendiri diyakini adalah benda mati, alias bukan makhluk hidup. Meski jenglot bukan makhluk hidup, tetapi daya spiritual jenglot tetap hidup. Karenanya jenglot harus tetap diberi makan oleh orang yang memilikinya.

Makanan jenglot sendiri adalah darah manusia, tetapi tidak sembarang darah melainkan hanya darah golongan O dan AB dan juga minyak wangi.
[dan]
Sabtu, 1 September 2012 06:04:00

Cerita mahluk jadi-jadian sepanjang zaman


Cerita mahluk jadi-jadian sepanjang zaman
Foto Jenglot Bantul. ©2012 Merdeka.com/parwito
Reporter: Anwar Khumaini



Kisah mistis seakan tidak habis di negeri ini. Di zaman yang dikuasai Facebook dan Twitter ini, kisah-kisah misteri tentang berbagai mahluk halus atau mahluk jadi-jadian tetap saja ada.

Seperti yang terjadi awal minggu ini. Masyarakat Bantul, Yogyakarta dikagetkan dengan ditemukannya sebuah jenglot. Penemuan jenglot itu langsung menggegerkan warga Bantul. Warga Desa Sendang Sari langsung berduyun-duyun ingin melihat jenglot yang kemudian ditaruh di aquarium kosong.

Menurut salah seorang paranormal, Subarno atau biasa disebut Mbah Bolong usai menerawang jenglot temuan warga Bantul menjelaskan secara ghaib, bentuk dari jenglot yang ada di Bantul merupakan hasil rekayasa manusia dari seekor katak yang sebelumnya dikeringkan.

Usai kering, katak kemudian dimodifikasi sedemikian rupa mulai dari kepala dibentuk layaknya manusia. Rekayasa jenglot yang dilakukan pada jenglot hampir sama dengan rekayasa yang dilakukan pada benda ghoib yang hampir mirip dengan jenglot yang konon dinamai dengan Bethoro Karang atau dalam dunia klenik sering di sebut BK.

Namun meski dianggap palsu, tak menyurutkan warga Bantul dan sekitarnya untuk menyaksikan benda unik tersebut. Bahkan, jenglot yang dipajang itu menghasilkan pundi-pundi rupiah dari para pengunjung yang penasaran ingin melihatnya.

Cerita tentang jenglot ini adalah bagian kecil dari cerita mistis mahluk jadi-jadian di Tanah Air. Masyarakat Bali misalnya, selama ini mereka familiar dengan kisah leak. Demikian juga masyarakat Sumatera Utara dengan kisah Begu. Ada juga sebagian masyarakat Jawa yang familiar dengan manusia jadi-jadian yang menjelma sebagai babi ngepet yang tugasnya untuk mencari pesugihan.

Tak cuma di Tanah Air saja kisah-kisah mistis ini menjadi buah bibir. Di Thailand, ada legenda Mae Naak Phra Khanong. Cerita rakyat ini dianggap sangat mengerikan, biasanya dikisahkan oleh ibu-ibu di malam hari supaya anak mereka tidak nakal.

Banyak negara di belahan bumi pasti juga memiliki kisah-kisah mistis soal mahluk jadi-jadian. Percaya atau tidak, cerita mistis selalu melekat dalam ingatan masyarakat sekitar, dan menjadi bumbu-bumbu penyedap modernitas.

Tidak berniat untuk menakut-nakuti, merdeka.com pada Sabtu (1/9) ini memilih berita tematik mengenai mahluk jadi-jadian di atas. Karena diakui atau tidak, kisah-kisah mistis tentang mahluk jadi-jadian akan terus menjadi fenomena, entah sampai kapan. Selamat membaca!
[war]
Selasa, 28 Agustus 2012 17:18:00

Jenglot di Bantul aspal, dibuat dari katak


Jenglot di Bantul aspal, dibuat dari katak
Jenglot Bantul. ©2012 Merdeka.com/parwito
Reporter: Parwito



Sejumlah paranormal berdatangan untuk melihat langsung jenglot temuan warga di Dusun Jaten, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY. Namun jenglot yang memiliki panjang 12 Cm itu dinilai buatan manusia alias palsu.

"Mungkin milik orang korban penipuan jenglot aspal terus dibuang ke Kali Progo. Apalagi soal ilmu membedakan antara jenglot asli dan palsu kan tidak semua orang bisa memahaminya betul,"ungkap Subarno salah seorang paranormal yang akrab dipanggil Kyai Bolong dalam dunia metafisika kepada merdeka.com, Selasa(28/8).

Barno usai menerawang jenglot temuan warga Bantul menjelaskan secara ghaib, bentuk dari jenglot yang ada di Bantul merupakan hasil rekayasa manusia dari seekor katak yang sebelumnya dikeringkan. Usai kering, katak kemudian dimodifikasi sedemikian rupa mulai dari kepala dibentuk layaknya manusia. Rekayasa jenglot yang dilakukan pada jenglot hampir sama dengan rekayasa yang dilakukan pada benda ghoib yang hampir mirip dengan jenglot yang konon dinamai dengan Bethoro Karang atau dalam dunia klenik sering di sebut BK.

BK ini lebih ampuh dan mempunyai aura baik dibanding jenglot yang rata-rata mempunyai aura mistis buruk atau jahat.

"Selain katak yang digunakan sebagai media rekayasa ada satu lagi seekor kelelawar atau codot dalam bahasa jawa untuk membuat jenglot tiruan atau aspal untuk menipu para pembeli, pemburu benda-benda ghoib yang langka dan sulit didapatkan itu," ungkapnya.

Apalagi salah satu pada bagian kepala yaitu alis, mata dan telinga yang ada di jenglot temuan warga Bantul di Kali Progo sudah cacat. Alis yang berwarna putih dan cenderung kaku menunjukkan alis itu alis pasangan dan bukan asli.

Pada bagian telinga kanan putus padahal jenglot maupun BK dikenal sebagai makhluk hidup yang digdaya anti gores pada seluruh bagian organ tubuh dan anti cukur pada bagian rambut.

"Kalau tidak mau percaya cukur saja pada bagian rambutnya jenglot temuan warga di Bantul yang terbuat dari buntut kuda. Pasti akan putus. Kalau jenglot atau BK asli tidak mungkin akan putus," ungkap orang pintar yang menyimpan BK asli dan tiruan ini.

Barno berharap ratusan warga Dusun Jaten, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Batul DIY yang merupakan tempat penemuan jenglot di Kali Progo tidak tertipu dengan jenglot aspal yang ditemukan oleh penambang pasir menempel di selang mesin diesel itu.

"Tidak mungkin sempat dipajang di depan puluhan apalagi ratusan warga tidak 'nyelorong' matanya dan bisa berdampak tewasnya warga. Apalagi bentuknya kaku ndelujur seperti boneka. Bahaya kalau dipertontonkan di depan orang banyak bisa celaka. Kasihan warga kalau mereka tertipu dan menilai jenglot temuan itu asli," ujarnya.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Mbah Darno, paranormal yang akrab dengan lelembut sekitar Watu Gong, Jl Perintis Kemerdekaan Semarang yang sering terjadi kecelakaan ini. Darno mengakui ada unsur ghaib namun dengan frekuensi yang sangat rendah. Selain bentuknya hasil rekayasa, kekuatan ghoib jenglot aspal temuan warga Bantul ini hasil tembakan dari seorang yang tahu tentang ilmu karomah dan ilmu tenaga dalam penyaluran energi dengan mediator jenglot palsu itu.

"Aura ghaib memang ada. Tapi itu hasil energi ashma'an (tembakan) jadi jenglot yang di Bantul itu tidak asli. Kasihan warga kalau sampai tertipu. Harusnya mereka diberi pencerahan tokoh masyarakat di situ," ungkap Darno yang berambut kucir ini.

Darno menjelaskan, tidak sembarang orang yang bisa menemukan apalagi memiliki dan memelihara jenglot atau BK yang menurutnya adalah hasil proses seorang pertapa yang melakukan semedhi atau bertapa selama puluhan bahkan ratusan tahun yang tidak diketahui orang lain.

"Wong mau memiliki saja harus prihatin, laku dan berpuasa berpuluh-puluh tahun. Selain itu, kalau tidak pulung atau berjodoh sulit orang mendapatkan dan memelihara barang ghoib itu," pungkas Darno.

Kedua paranormal ini berharap sebaiknya boneka yang dinilai warga sebagai jenglot itu dilarung saja. Selain tidak bermanfaat hanya sebuah barang yang tidak ada artinya. Apalagi niatan untuk menjual dan melelang barang itu diurungkan saja. Orang yang mau membeli jenglot atau BK yang harganya mencapai puluhan juta hingga miliaran pasti akan tahu persis bagaimana ciri-ciri jenglot atau BK yang asli dan bermanfaat.
[hhw]
Selasa, 28 Agustus 2012 02:21:00

Takut musibah, jenglot diberi makan bunga 7 rupa


Takut musibah, jenglot diberi makan bunga 7 rupa
Jenglot diberi makan kembang. ©2012 Merdeka.com
Reporter: Parwito



Meski telah ditangkap, Jenglot masih dianggap menakutkan oleh warga Dusun Prajenan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY. Kini makhluk tersebut diberi makanan berupa bunga tujuh rupa dan ditutup matanya guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Daljiri (43) warga sekitar yang juga tokoh masyarakat setempat menjelaskan hal ini dilakukan untuk menghindari, dampak metafisika yang dilakukan oleh jenglot yang lambat laun mengalami bentuk perubahan setelah beberapa jam ditemukan oleh penambang pasir di Sungai Progo, Bantul, DIY.

Penutupan mata jenglot dengan kain mori dan pemberian makanan itu dilakukan setelah warga melakukan konsultasi dengan para sesepuh sekitar desa yang meyakini bahwa jenglot itu benar-benar hidup dan mempunyai daya mistis yang sangat kuat.

"Setelah berkonsultasi dengan sesepuh desa setempat kita memutuskan untuk menutup mata supaya tidak berpengaruh terhadap penonton. Takut-takut malah terjadi sesuatu terhadap penonton yang melihatnya. Selain itu kami juga memberi makanan kepada jenglot berupa bunga tujuh rupa. Awalnya kita akan memberikan makanan berupa darah. Namun, karena belum ada seorang paranormal atau orang pintar yang bisa berkomunikasi sementara kita beri makan bunga tujuh rupa saja," ungkap Daljiri kepada merdeka.com, Senin (27/8).

Antusiasme warga untuk menyaksikan jenglot temuan penambang pasir siang tadi terus terjadi. Ratusan warga berduyun-duyun untuk menyaksikan seperti apakah bentuk jenglot yang telah ditemukan oleh tiga orang penambang pasir di sekitar aliran Sungai Progo, Bantul, DIY saat menambang pasir dengan cara menyedot dengan mesin diesel.
[hhw]
Senin, 27 Agustus 2012 17:22:47

Penambang pasir di Bantul temukan jenglot


Penambang pasir di Bantul temukan jenglot
jenglot di Bantul. ©2012 Merdeka.com
Reporter: Parwito



Tiga orang penambang pasir menemukan benda yang mirip dengan jenglot. Ketiga warga itu menemukannya sekitar pukul 10.30 WIB di sungai Progo, Dusun Prajenan Rt 01 Desa Sendang Sari, Kecamatana Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY, Senin (27/8).

"Awalnya saya kira seekor udang, ternyata setelah diambil dan dibersihkan ternyata jenglot," kata Yetno, salah satu penemu jenglot kepada meredeka.com.

Saat itu, Yetno sedang menambang pasir bersama dua orang rekannya. Kedua temannya itu adalah Pardiplenong dan Yanto. "Jenglot itu menempel di selang mesin penyedot pasir, setelah dibersihkan ternyata jenglot," kata Yetno.

Yetno memperkirakan, panjang jenglot sekitar 12 cm dan panjang rambutnya 20 cm lebih. Warna rambut jenglot itu terlihat merah saat ditemukan di dalam sungai.

"Penemuan jenglot ini langsung dilaporkan ke pihak Polsek Pajangan. Saat ditemukan kuku sebelah kanan sudah hilang, kondisinya basah dan rambutnya berwarna merah," ujar dia.

Penemuan jenglot itu langsung gegerkan warga Bantul. Warga Desa Sendang Sari langsung berduyun-duyun ingin melihat jenglot. Kini, jenglot itu ditaruh di aquarium kosong.

"Langsung jadi tontonan warga. Jenglot sekarang ditaruh di depan mantan kepala dukung bernama Pak Wardimo," jelas Yetno.
[has]

http://www.merdeka.com/peristiwa/misteri-jenglot-diteliti-rscm.html