Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Minggu, 21 Oktober 2012

Enny Arrow legenda novel erotis Indonesia

Enny Arrow legenda novel erotis Indonesia


Reporter: Ramadhian Fadillah
Minggu, 21 Oktober 2012 07:44:43

Kategori



Peristiwa


Ilustrasi. merdeka.com/dok



131





Pembicara sebuah seminar lingkungan di Bandung itu menutup makalahnya. "Any question?" tanya dia pada peserta seminar.



Tak ada yang mengacungkan tangan.



"No, oke kalau any arrow?" candanya.



Hadirin yang berusia 40 tahun ke atas tertawa mendengar canda si pembicara. Sementara yang mahasiswa dan berusia belasan tahun mengerenyitkan alisnya. Tak mengerti maksud lelucon itu.



Maksud any arrow adalah enny arrow. Mereka yang menginjak ABG tahun 1980-an, tentu hapal betul novel-novel karya Enny Arrow. Pada masanya, Enny Arrow adalah legenda. Remaja pria yang berusia belasan tahun tahun 80an pasti pernah sembunyi-sembunyi membaca novel Enny Arrow.



Pada era 80an belum ada VCD porno atau situs porno di internet. Maka pada novel karangan Enny Arrow-lah, para remaja mengenal pornografi untuk pertama kali.



Novel Enny Arrow tidak tebal, hanya puluhan lembar. Isinya luar biasa vulgar. Menggambarkan hubungan seks secara detil dan hiperbola. Pembaca diajak berimajinasi liar membayangkan sepasang kekasih berasyik masyuk. Tak ada alur cerita di dalam novel itu, hanya dari satu adegan seks ke adegan berikutnya.



Tak ada yang tahu siapa sebenarnya Enny Arrow. Pengarang itu tetap misterius hingga kini. Penerbitnya pun tidak mencantumkan alamat. Hanya Penerbit Mawar dengan logo sekuntum mawar mekar yang diletakkan miring.



Novel erotis Enny Arrow terbit puluhan judul. Judulnya sudah menggambarkan isi ceritanya seperti 'Malam Kelabu', 'Gairah dan Cinta' atau 'Selembut Sutera'. Covernya gambar wanita yang berpose agak panas.



"Dulu belinya diam-diam di tukang koran. Harganya murah. Bilang aja stensilan Enny Arrow. Biar tidak dirazia guru, covernya disobek. Biasanya nanti halamannya tidak lengkap karena dibaca bergantian temen-temen sekelas," tutur Agus Harianto (47), salah satu pembaca novel Enny Arrow, kepada merdeka.com.



Selain Enny Arrow, satu lagi novel erotis stensilan adalah serial detektif Nick Carter. Isinya sama-sama vulgar, hanya alur ceritanya lebih jelas. Sosok Nick Carter digambarkan seperti agen rahasia James Bond dengan petualangan dan misteri. Nah, hubungan seks diberikan sebagai bumbu.



Novel Nick Carter terbit di Amerika Serikat tahun 1964 oleh Awards Book. Settingnya banyak berlatar belakang perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Diceritakan Nick Carter adalah agen AXE yang kerap terlibat asmara. Ada 261 judul petualangan Nick Carter yang terbit dari tahun 1964-1990. Tapi tak jelas siapa pengarangnya.



Tapi di Indonesia, agaknya novel Nick Carter ditulis ulang oleh penulis lokal. Cerita seks ditambah berkali-kali lipat sehingga lebih dominan daripada petualangan sang detektif.



Kejayaan Nick Carter dan Enny Arrow berakhir tahun 90an. VCD porno dan internet menggantikan cerita stensilan murah di kalangan remaja. Pornografi tak pernah mati. Hanya bermetamorfosis dalam media yang lebih modern.



Mulai dengan

[lia]

Motinggo Busye, sastrawan produktif dikecam karena novel erotis

Motinggo Busye, sastrawan produktif dikecam karena novel erotis


Reporter: Wisnoe MoertiMinggu, 21 Oktober 2012 13:31:01

Kategori



Peristiwa

Berita tag terkait



5 Novel erotis yang diboyong ke layar perak

Fredy Siswanto, pembuai imajinasi yang tak diakui

Ilustrasi. merdeka.com/dok



0





"... Sepasang manusia sedang dalam kenikmatan, yang lelaki sedang memangku yang gadis di atas sebuah kursi, yang membelakangi jendela. Keduanya tak tahu bahwa aku melihat mereka. Keduanya begitu asyik dalam terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi. Tris menyerang pada bagian leher gadis itu, kemudian mendesaknya pada sebuah lipatan kaki yang menggerumul, seakan-akan gadis itu terjepit..." (Busye, 1970: 98—99)



Begitulah cara Motinggo Busye, penulis sekaligus sastrawan era 1960/1970-an mengajak penikmat sastra membebaskan pikiran dan imajinasinya membayangkan hubungan intim antara lelaki dan perempuan melalui karyanya yang berjudul 'Kutemui Dia' yang tenar pada 1970. Melalui barisan kata-kata yang terstruktur rapi, Busye mencoba mendeskripsikan sebuah hubungan intim tanpa bermaksud mengedepankan unsur pornografi.



Dalam karyanya itu, Busye memilih tidak menggambarkan secara eksplisit bagaimana cara berhubungan intim antara lelaki dan perempuan. Dia juga memilih tidak menampilkan kata-kata yang langsung mengarah pada bagian vital atau alat kelamin laki-laki dan perempuan. Tapi, karyanya itu sudah terlanjur dicap sebagai stensilan (istilah buku porno pada zaman itu).



Penilaian atas beberapa karya seniman berdarah Minang yang dicap porno itu, mengundang Yuki Anggia Putri untuk menyelami kembali karya Busye. "Ketika itu, Motinggo Busye, penulis populer paling produktif, mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama kritikus sastra, mengenai nilai seni karya-karyanya. karya-karyanya dianggap porno dan dilarang peredarannya oleh pemerintah karena dinilai dapat merusak moral masyarakat dan mendorong perbuatan asusila," tulis Yuki, mahasiswa lulusan Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia di blog miliknya yukianggiaputri.blogspot.com yang dikutip merdeka.com, Sabtu (20/10).



Menurut Yuki, oleh beberapa pihak, kata-kata yang digunakan Motinggo dalam karyanya, masih dipandang tabu dan mengandung unsur porno. Yuki memandang, pemilihan kata dalam karya Busye yang menggambarkan hubungan intim, tidak menjerumuskan pembaca pada sebuah realitas yang memonopoli kebebasan akal dalam berkreasi. "Melihat karya sastra sebagai sumber apresiasi seni," katanya.



Dia juga melihat kemahiran Busye mengungkapkan persenggamaan dengan bahasa yang metaforis dan konotatif. Semisal dalam kata: sedang dalam kenikmatan, terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi, bagian leher gadis itu, sebuah lipatan kaki yang menggerumul. "Walaupun terasa hiperbola, namun ungkapan tersebut berusaha membahasakan hubungan intim manusia dengan baik," tambahnya.



Yuki mencoba membandingkan antara cara Busye dan Ayu Utami dalam menggambarkan hubungan intim melalui karyanya masing-masing. Menurutnya, karya Ayu Utami justru lebih berani dan eksplisit membahasakan senggama dengan nyata dan jelas. Serta tanpa ragu menulis alat kelamin laki-laki dan perempuan untuk melengkapi gambaran mengenai hubungan intim.



Menurutnya, perbandingan penulisan seksualitas tersebut tidak lepas dari zaman yang melingkupi mereka. "Busye dengan masa populer ’70-an yang penuh romantika dan sentimentalitas, dan Utami dengan masa populer kini yang menempatkan seksualitas sebagai upaya pembebasan diri, membahasakan tubuh," jelasnya.



Motinggo Busye lahir dengan nama asli Bustami Djalid, dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabi’ah Ja’kub. Mantan redaktur kepala Penerbitan Nusantara periode 1961-1964 ini terbilang cukup produktif dalam berkarya. Sedikitnya ada 200-an karya yang telah dihasilkannya baik novel, drama, cerpen, maupun puisi.



Antara lain, Malam Jahanam, Badai Sampai Sore, Tidak Menyerah, Hari Ini Tak Ada Cinta, Perempuan Itu Bernama Barabah, Dosa Kita Semua, Dia Musuh Keluarga, Sanu, Infita Kembar, Madu Prahara, serta ratusan karya lainnya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, DC, Amerika Serikat.



Busye mulai meramaikan dunia sastra Indonesia dengan puisinya Malam Putih yang dimuat dalam Siasat Tahun VIII Nomor 378/26, tahun 1953. Karya sastranya juga pernah dipentaskan di Universitas Pasadena, Amerika Serikat. Motinggo juga pernah memenangkan hadiah majalah Sastra tahun 1962 untuk cerpennya berjudul "Nasehat untuk Anakku" dan karyanya yang berjudul "Malam Pengantin di Bukit Kera" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Cekoslovakia.



Selain dialihbahasakan ke dalam bahasa Cekoslovakia, karya-karyanya juga pernah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. Mulai dari Bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Cina, dan Jepang. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990).



Banyak kritikus sastra yang mengamati perkembangan karya Busye. Karya-karyanya dipandang lebih banyak mengungkap tema-tema porno, tersirat atau pun vulgar. "Saya saat itu lebih cenderung mengangkat seks, karena novel seperti itu justru yang banyak diminati. Dan tiap orang kan sebenarnya interes," ujar Busye seperti diikuti dari Harian Terbit, 17 September 1994.



Sekitar tahun 1984-199, Busye mengubah pandangannya. Pertama karena lesunya dunia perfilman nasional. Kedua, kritik keras dari anaknya yang disekolahkan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.



Busye selalu diingatkan untuk tidak membuat karya sastra atau film yang lebih banyak menonjolkan seksualitas. Menurut anaknya, masalah seksualitas atau pornografi itu dapat meracuni generasi muda bangsa.



Dari kritikan itulah Busye membuat novel Sanu Infinita Kembar (sisipan majalah Horison 1984 dan kemudian diterbitkan oleh Gunung Agung, 1985). Novel tersebut bagaikan penanda perubahan pandangan Motinggo dari hal-hal yang berbau seksualitas dan pornografi ke hal-hal yang bersifat religius, serius, transendental, pengembaraan intelektual imajinatif, serta absurditas.



Buah pikirannya yang dituangkan dalam karya seni membuahkan hasil. Busye mendapatkan hadiah ke-4 Sayembara Penulisan Cerpen Majalah Horison 1997 melalui cerpennya berjudul 'Bangku Batu'. Cerpennya berjudul 'Lonceng' juga masuk kategori 10 cerpen terbaik 1990–2000 versi majalah sastra Horison 2000. Karya lainnya, cerpen berjudul 'Dua Tengkorak Kepala' ditahbiskan sebagai cerpen terbaik Kompas tahun 1999.



Banyak sastrawan dan kritikus yang berkomentar tentang Busye. Sebut saja Sutardji Calzoum Bachri yang mengatakan bahwa Motinggo Busye sebagai sastrawan Master of Style. Apresiasi atas karya Busye juga datang dari sastrawan WS Rendra. "Komitmennya ini memunculkan kekaguman dari seniman lain," ujar Rendra.



Bahkan, kritikus sastra Indonesia dari negeri Belanda, Prof. Dr. Andreas Teeuw mengakui bakat sastra, seni, dan potensi artristik Busye.



Mulai dengan

[lia]

http://www.merdeka.com/peristiwa/motinggo-busye-sastrawan-produktif-dikecam-karena-novel-erotis.html

Samba

Figur Wayang






Raden Samba dalam penggambaran wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,

koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)



Samba

Raden Samba dan Gunadewa adalah saudara kandung, lahir dari rahim Dewi Jembawati yang berpasangan dengan Prabu Kresna, Raja Dwarawati. Walupun keduanya sama-sama tampan, Gunadewa mempunyai ekor panjang dan kulinya penuh bulu seperti layaknya seekor kera. Keadaan Gunadewa yang demikian tersebut dapat dimaklumi karena Dewi Jembawati adalah anak Kapi Jembawan yang adalah seekor kera prajurit Prabu Ramawijaya. Oleh karena keadaan yang demikian, Prabu Kresna dan juga Dewi Jembawati lebih menyayangi Raden Samba. Dengan perhatian dan kasih sayang yang berlebih dari Prabu Kresna, Samba tumbuh menjadi pemuda yang kurang mandiri dan manja.



Sejarah hidup Samba tidaklah mulus, bahkan dapat dikatakan kelam. Pasalnya ia mencintai Hagnyanawati, isteri Prabu Setija, kakaknya sendiri lain ibu. Cinta Samba itulah yang kemudian berujung maut. Dikarenakan tidak rela Samba memadu kasih dengan istrinya, Prabu Setija murka, dan Samba menjadi korban.



Peristiwa tersebut dapat diibaratkan seperti ‘kriwikan dadi grojogan. Peristiwa yang semula kecil, dengan amat cepat menjadi besar. Berawal dari permusuhan adik dan kakak kemudian berkembang menjadi perang besar yang disebut dengan perang Gujalisuta, perang antara bapak dan anak yang masing-masing melibatkan negara besar. Kisah tersebut dalam pewayangan diberi judul “Samba Sebit. ” Samba dibunuh secara aniaya oleh Setija kakaknya.



Semasa hidupnya Samba tinggal di ksatriyan Paranggaruda. Dengan Hagnyanawati Samba meninggalkan anak satu yang diberi nama Danurwenda.



herjaka HS

Jumat, 19 Oktober 2012

Ilmuwan: Peradaban Dunia Berawal dari Indonesia

Ilmuwan: Peradaban Dunia Berawal dari Indonesia

Teori ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer, seperti memutarbalikkan sejarah yang sudah ada.

Lewat bukunya yang merupakan catatan perjalanan penelitian genetis populasi di dunia, ia mengungkapkan bahwa peradaban yang ada sesungguhnya berasal dari Timur, khususnya Asia Tenggara!


Hal itu disampaikan Oppenheimer dalam diskusi bedah bukunya berjudul ‘Eden in The East’ di gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis 28 Oktober 2010.

Sejarah selama ini mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia.

Tetapi, menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sundaland atau Indonesia.

Apa buktinya? “Peradaban agrikultur Indonesia lebih dulu ada dari peradaban agrikultur lain di dunia,” kata Oppenheimer dalam diskusi yang juga dihadiri Jimly Asshiddiqie.


Buku “Eden in The East” oleh Stephen Oppenheimer

Lulusan fakultas kedokteran Oxford University melalui bukunya mengubah paradigma yang ada selama ini, bahwa peradaban paling awal adalah berasal dari daerah Barat.

Perjalanan yang dilakukannya dimulai dengan komentar tanpa sengaja oleh seorang pria tua di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini.

Dari situ dia mendapati kisah pengusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia.

Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia. Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang prasejarah.

Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan menenggelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya.


Peta migrasi manusia selama 160.000 tahun zaman es terakhir oleh Stephen Oppenheimer. Ini adalah hasil kerjanya yang didasarkan pada DNA mitokondria, bukti kromosom Y, arkeologi, klimatologi, dan studi fosil dan melacak rute dan waktu migrasi manusia keluar dari Afrika dan ke seluruh dunia.

Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopotamia, Mesir dan Mediterania Timur.

Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam.

“Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya,” ujar dia.

Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara.

Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.


Akibat iklim Bumi yang semakin panas saat zaman es secara dramatis pada 65-52 ribu tahun yang lalu, membuat air laut semakin naik di daerah khatulistiwa yaitu Indonesia. Keadaam itu memaksa nenek moyang manusia pindah dari daerah khatulistiwa ke daerah utara dan selatan Bumi. (Stephen Oppenheimer)

Eden In The East juga mengungkapkan bahwa berbagai suku di Indonesia Timur adalah pemegang kunci siklus-siklus bagi agama-agama Barat yang tertua.

Buku ini ‘membalikkan’ sejumlah fakta-fakta yang selama ini diketahui dan dipercaya masyarakat dunia tentang sejarah peradaban manusia.

“Buku ini memang juga ada biasnya. Karena penulis istrinya orang Malaysia sehingga ada perspektif Malaysia,” kata Jimly yang hadir dalam acara itu. (Fina Dwi Yurhami/vivanews/icc.wp.com)




Peta animasi daerah Sundaland, selama dan sesudah zaman es

JOURNEY OF MANKIND (tunggu beberapa saat hingga gambar GIF animasi bergerak):


Peradaban Dunia Berawal dari Indonesia

Journey of Mankind

Journey of Man: A Genetic Odyssey
http://forum.viva.co.id/sosial-dan-budaya/557223-ilmuwan-peradaban-dunia-berawal-dari-indonesia.html

Rabu, 17 Oktober 2012

Budi Dayaning Manungsa Ora Bisa Ngungkuli Garise Sing Kuwasa

Bothekan




Budi Dayaning Manungsa Ora Bisa Ngungkuli Garise Sing Kuwasa





Peribahasa Jawa di atas secara harafiah berarti budi daya manusia tidak bisa melampaui takdir Hyang Maha Kuwasa.



Pepatah ini sebenarnya ingin mengingatkan orang/manusia agar bisa menerima segala macam takdir atau nasib yang sedang menimpa dirinya. Orang atau manusia memang diwenangkan untuk berusaha untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi tidak setiap cita-cita atau keinginan manusia bisa diraih. Pada sisi ini orang diharapkan mendasarkan hidupnya agar semakin selaras dengan kehendak Sang Khalik.



Ada banyak contoh kasus dari usaha atau upaya manusia yang secara hitung-hitungan di atas kertas dipastikan berhasil atau sukses, namun pada akhirnya menemui kegagalan. Cerita kuno mengenai pembangunan Menara Babel merupakan salah satunya. Kasus meledaknya pesawat Challenger juga merupakan salah satu kasus yang lain. Demikian pula dengan tenggelamnya kapal Titanic. Sepintar-pintar manusia, sehebat-hebat manusia ia hanyalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus mengerti bahwa di luar dirinya ada kekuatan maha kuat yang tidak mungkin bisa ditandingi manusia.



a.sartono

Asor Kilang Munggwing Gelas

Bothekan




Asor Kilang Munggwing Gelas





Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti rendah/buruk kilang (rebusan air nira/air perasan tebu) pada (di dalam gelas) gelas.



Kilang seperti makna di atas adalah air yang berasa manis. Kilang adalah cikal bakal atau bahan utama untuk membuat gula. Gelas seperti yang telah diketahui umum adalah alat untuk meminum air. Gula atau kilang yang manis itu menjadi sangat cocok jika ditaruh di dalam gelas karena gelas umumnya memang digunakan untuk menampung air yang berasa manis (teh, kopi, dan lain-lain) yang kemudian disuguhkan untuk tamu. Jadi, pasangan kilang dan gelas adalah sesuatu yang tepat atau pas, lebih-lebih dalam hal ini kasus tersebut dikaitkan dengan dunia perhubungan antara tamu dan tuan rumah.



Pepatah asor kilang munggwing gelas sesungguhnya ingin menggambarkan tentang manisnya tutur kata seseorang (seperti manisnya kilang) yang kemudian sangat berkenan pada orang lain (seperti kilang dimasukkan gelas). Orang yang menerima tutur kata yang manis umumnya memang akan senang atau berkenan hatinya. Tutur kata yang manis tidak akan menyakiti hati orang lain. Menyebabkan orang lain senang, tersanjung, dan merasa dihormati. Sejauh hal itu dilakukan dengan kemurnian atau ketulusan hal tersebut menjadi tepat. Akan tetapi tutur kata yang manis yang kemudian dilakukan untuk menipu atau penuh kepura-puraan dan palsu, hal demikian tidak cocok dengan peribasa tersebut di atas.



Istilah atau kata ”asor” di atas sebenarnya berarti atau bermakna sebaliknya. Kata asor ini selain digunakan untuk memaknai hal yang sebaiknya juga digunakan untuk memberikan makna yang lebih mendalam. Jadi, arti sesungguhnya atau hal yang dimaksudkan adalah sangat baik (cocok) kilang munggwing gelas.



a.sartono

Durgandini

Figur Wayang






Prabu Sentanu bertemu dengan Dewi Durgandini di pinggir sungai Gangga

(gambar: herjaka HS)



Durgandini (4)

Sang Dewi Durgandini atau Dewi Setyawati memang terpaksa harus merelakan Abiyasa anak satu-satu yang setelah tidak menyusu, dibawa oleh Palasara suaminya ke pertapaan Saptaarga. Lebih baik berpisah daripada harus mendampingi Palasara dan Abiyasa menjadi petapa di gunung Saptaarga, jauh dari keraton Wirata.



Baginya, hidup sebagai petapa tidak jauh berbeda dengan hidup menderita seperti yang pernah ia jalani sejak kecil hingga dewasa, yaitu hidup yang dibuang, menjadi penjual jasa penyebrangan dengan perahunya di sungai Yamuna. Maka jika saat ini ia meninggalkan keraton Wirata untuk mengikuti Palasara sama artinya ia sengaja mengulangi penderitaannya.



Semenjak Palasara membebaskan penyakit dan penderitaannya, Dewi Durgandini diperkenankan kembali keraton Wirata dan menikmati fasilitas yang ada sebagai putri raja. Pada saat itu Dewi Durgandini ingat sebuah kata-kata yang berisi pengharapan yang senantiasa diucapkan Ki Dasabala ayah angkatnya: ‘Bersabarlah, ada saatnya nanti, penyakit dan segala penistaannya dihapuskan’. Dan sekarang saatnya telah tiba, semenjak ia bertemu dan menyeberangkan Palasara.



Namun jika kini ia bersama Palasara dan Abiyasa kembali naik perahu menyebrangi sungai Gangga dan sungai Yamuna, meninggalkan Wirata dan menuju Saptaarga, artinya ia siap menderita kembali bersama berbagai hal yang menyakitkan. Aku tidak siap, tidak mau menderita lagi. Aku ingin tinggal di keraton dengan segala kemewahan dan kesenangannya.



Durgandini telah menggunakan jalan pikirannya dengan benar, bahwasannya ujung dari sebuah penderitaan dan kesengsaraan adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tidaklah mungkin setelah bahagia dan mulia dicapai, akan kembali menderita. Kemuliaan adalah puncak dari tumpukan kesengsaraan, di mana kesengsaraan tidak ada lagi, yang ada adalah kemuliaan. Ajakan suami untuk meninggalkan keraton dan mengasuh anaknya menjadi petapa dianggap menunda atau bahkan membatalkan kesempatannya untuk merasakan kebahagiaan serta kemuliaan itu.



Sebuah pilihan telah diambil, ia telah memilih untuk tidak meninggalkan keraton, baik dengan atau tidak bersama suami dan anak. Hari-harinya dijalani dengan kesendiriannya. Abiyasa memang selalu hadir dalam angannya, namun tidak sebagai petapa kecil, melainkan sebagai calon raja di sebuah negara yang besar.



Ketika pada suatu waktu, Dewi Durgandini sedang melakukan sesuci di sungai Gangga, ia bertemu dengan Prabu Sentanu, raja Hastinapura. Dalam pandangan pertama itu Sentanu amat terkejut melihat pancaran wajah Dewi Durgandini yang mirip sekali dengan bidadari Ganggawati isterinya yang telah kembali ke kahyangan. Untuk menyakinkan bahwa yang berada di depannya bukan Batari Ganggawati, Sentanu semakin mendekat memperkenalkan dirinya kepada Durgandini, demikian sebaliknya. “Aku bukan Ganggawati sang Prabu, namaku Durgandini atau Setyawati”.



Pertemuan dan perkenalan diantara keduanya merupakan pertemuan bersejarah, yang nantinya akan membuat sejarah baru kerajaan Hastinapura. Dimulai dari kerinduan Prabu Sentanu kepada Batari Ganggawati dan rasa sepi Dewi Setyawati semenjak ditinggal Palasara suaminya dan Abyasa anaknya, keduanya semakin dekat. Ada kekosongan yang saling mengisi di hatinya. Walaupun wanita di hadapannya bukan Ganggawati, kehadiran Durgandini mampu mengobati kerinduan Sentanu kepada Ganggawati. Demikian sebaliknya, kehadiran Sentanu mampu mengobati rasa sepi Setyawati semenjak kepergian Palasara suaminya, dan Abiyasa anaknya ke Pertapaan Saptaarga.



Gayung pun bersambut. Keduanya mulai merenda benang-benang harapan, harapan akan cinta-kasih yang member daya hidup.



“Adakah yang memberatkan, jika pada suatu waktu aku datang ke Wiratha untuk melamarmu?.”



“ Tidak sang Prabu, aku berharap dan bersyukur jika sang Prabu sudi meminangku. Namun sebelumnya saya mohon maaf.”



Setyawati berhenti sejenak untuk menenangkan hati.



“Ada satu permohonan yang mungkin sangat memberatkan hati sang Prabu.”



“ Permintaan apa, Setyawati? Katakanlah!”



“Aku takut, jika hal ini aku katakana, sang prabu akan mengurungkan niatnya melamar aku.



“Tidak, Setyawati, apa pun yang akan kau katakan aku tetap akan meminangmu.”



“Sungguhkah itu Sang Prabu?.”



Prabu Sentanu mengangguk perlahan.



“Sang Prabu Sentanu, jika kelak Sang Hyang Widdi Wasa mengijinkan kita untuk bersatu dan melahirkan anak laki-laki, aku berharap agar anak kita menjadi raja di Hastinapura



Herjaka HS