Jangan Sekalipun Melupakan Sejarahfree counters
Click for Kota Samarinda, Indonesia Forecast

Sabtu, 29 September 2012

Dicari, polisi sejujur Jenderal Hoegeng

Dicari, polisi sejujur Jenderal Hoegeng

Kamis, 2 Agustus 2012 03:31:00
Reporter: Ramadhian Fadillah

Dicari, polisi sejujur Jenderal Hoegeng
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok


Kepolisian kembali disorot. Kali ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dugaan korupsi pengadaan simulator pengemudi SIM Korps Lalu Lintas Polri. Satu jenderal polisi bintang dua, Irjen Pol Djoko Susilo menjadi tersangka. Sementara Brigjen Pol Didik Purnomo dicekal KPK.

Sebelumnya, belum lepas dari ingatan masyarakat soal rekening gendut para jenderal polisi. Hal ini diperburuk sebagian tindakan petugas yang kerap mengeruk pungutan liar.

Maka tak salah jika almarhum Presiden Gus Dur pernah berkata hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Polisi tidur, patung polisi dan polisi Hoegeng.

Cerita soal Kapolri Jenderal Hoegeng memang tak ada habisnya. Cerita kejujurannya diceritakan dari generasi ke generasi. Rasanya tak ada yang bisa menyainginya. Saat masyarakat merindukan sosok polisi jujur, tegas dan mengayomi, hanya nama Hoegeng yang disebut. Tak ada nama lain.

Nama Hoegeng mulai menjadi buah bibir saat berpangkat Komisaris Polisi dan bertugas di Kota Medan. Di sana Hoegeng mengobrak-abrik bandar judi Medan. Dia membongkar suap menyuap pada para polisi dan jaksa di Medan yang menjadi antek bandar judi.

Yang istimewa, Hoegeng tak mempan disuap. Barang-barang mewah pemberian bandar judi dilemparnya keluar jendela. Lebih baik hidup melarat daripada menerima suap atau korupsi. Itu prinsip hidup Hoegeng yang ditirunya dari Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Karirnya terus menanjak. Tanggal 15 Mei 1968, Presiden soeharto melantik Komjen Hoegeng Imam Santosa menjadi Kapolri. Tugas berat menanti Hoegeng, dia harus membereskan soal penyelundupan dan korupsi yang saat itu merajalela.

Sebagai Kapolri, hidup Hoegeng jauh dari mewah. Hoegeng tak mau menerima suap satu sen pun. Istrinya yang berjualan bunga disuruh berhenti. Hoegeng takut profesi istrinya akan dijadikan celah orang-orang yang ingin menyuapnya. Hoegeng bahkan tak punya mobil pribadi. Sehari-hari dia mengandalkan mobil dinas untuk memantau kondisi Jakarta. Jika jalanan macet, sang jenderal tak segan turun dari mobilnya dan mengatur lalu lintas bersama ajudannya.

Hoegeng sempat heran saat mendengar seorang perwira polisi bisa membeli rumah mewah di Kemang. Atau bermobil mewah dan bergaya perlente ala pengusaha.

"Memang berapa gaji polisi? Itu dapat darimana," ujar Hoegeng sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hoegeng juga tak kenal kompromi mengusut berbagai kasus kejahatan. Dia tidak peduli siapa beking orang itu. Jika bersalah, harus ditindak.

Sayang akhirnya Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto. Keberaniannya dianggap mengganggu kepentingan keluarga Cendana dan kroni mereka. Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan.

Setelah pensiun, Soeharto berusaha menjauhkan Hoegeng dari publik. Jasa-jasanya seperti ingin dihapuskan. Hoegeng bahkan dilarang datang ke perayaan HUT Bhayangkari bertahun-tahun.

Tapi Hoegeng adalah legenda. Walau ditutupi seperti apapun, teladannya tak akan pernah bisa dilupakan. Mantan anak buah Hoegeng masih mengucapkan namanya dengan penuh hormat walau dilarang Soeharto. Seorang teladan tak ada bandingan.
[bal]

Sulitnya cari Jenderal seperti Hoegeng di Polri

Jumat, 3 Agustus 2012 10:37:49
Reporter: Muhammad Sholeh

Sulitnya cari Jenderal seperti Hoegeng di Polri
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok
Korupsi dan suap sulit diberantas di lingkungan Polri. Gaya hidup mewah para jenderal serta kurangnya teladan seperti Jenderal Hoegeng, membuat institusi ini sulit berubah.

"Salah satu penyebab tidak berjalannya reformasi kultur sehingga tetap berlangsungnya korupsi di Polri adalah miskinnya teladan dari atasan dan jenderal. Gaya hidup para jenderal yang bergelimang kemewahan misalnya rumahnya di Pondok Indah, sekaligus miskin prestasi menjadi dorongan korupsi bawahan," ujar anggota Komisi III DPR Eva Sundari kepada merdeka.com, Jumat (3/8).

Eva menuding dugaan korupsi yang terjadi di Korps Lalu Lintas menjadi salah satu bukti. Dalam kasus pengadaan simulator pengemudi itu diduga ada setoran pada atasan dan dugaan korupsi berjamaah. Ini yang turut membuat rusak mental kepolisian.

"Adanya tradisi suap, upeti untuk atasan terutama untuk kepangkatan menjadikan adanya demoralisasi bawahan. Teladan yang ada di Polri bukan mengejar prestasi dan berlomba-lomba mengabdi tetapi untuk mengejar materi," kritik Eva.

Eva menegaskan untuk menghancurkan korupsi dan menghapus mental korup, perlu kepemimpinan yang kuat dan tegas. Pemimpin ini juga harus bisa memberikan teladan soal kesederhanaan, pengabdian dan tanggung jawab.

"Untuk memutus lingkaran setan tersebut, perlu kepemimpinan yang kuat sekaligus meneladani. Tidak ada transformasi organisasi tanpa komitmen politik yang kuat dari pucuk pimpinan yang disertai keteladanan dari pucuk pimpinan tersebut," kata politikus PDIP tersebut.
[ian]

Cerita Hoegeng perintahkan istrinya tutup toko bunga

Kamis, 2 Agustus 2012 13:19:54
Reporter: Ramadhian Fadillah

Cerita Hoegeng perintahkan istrinya tutup toko bunga
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok
Jenderal Hoegeng Imam Santosa dikenal haram menerima uang suap atau sesuatu pemberian di luar gaji dan tunjangannya. Sebagai perwira, Hoegeng hidup pas-pasan. Untuk itulah istri Hoegeng, Merry Roeslani membuka toko bunga. Toko bunga itu cukup laris dan terus berkembang.

Tapi sehari sebelum Hoegeng akan dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960, Hoegeng meminta Merry menutup toko bunga tersebut. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan istrinya. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi dengan menutup toko bunga.

"Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng.

Istri Hoegeng yang selalu mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih memahami maksud permintaan Hoegeng. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.

"Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak," kata Merry.

Sejak awal kemerdekaan jawatan imigrasi dikenal sebagai sarang korupsi dan penyelundupan. Itulah alasan Presiden Soekarno mengkaryakan Hoegeng di posisi tersebut. Benar saja, Hoegeng tak memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaan. Padahal imigrasi dikenal sebagai 'lahan basah' bagi para PNS untuk memperkaya diri.

Semasa dikaryakan sebagai kepala jawatan Imigrasi, Hoegeng masih tetap mengenakan seragam polisi. Dia hanya mau mengambil gajinya dari kepolisian. Gaji dan tunjangan sebagai kepala jawatan imigrasi tak disentuh.

Tahun 1965, Hoegeng berhenti menjabat kepala jawatan imigrasi. Dia diangkat menjadi menteri iuran negara (kini disebut bea dan cukai). Di sinilah Hoegeng membongkar kasus penyelundupan tekstil besar-besaran.

Tahun 1966, setelah bertugas di luar Polri selama enam tahun, Hoegeng kembali ke Korps Bhayangkara. Dia menjabat Wakapolri yang pada saat itu bernama Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian. Tahun 1968, Hoegeng dilantik menjadi Kapolri. Lagi-lagi dia masih mempertahankan gaya sederhananya. Hoegeng menolak mobil dinas sedan mewah dan memilih jip.

Maka saat para jenderal polisi terjerat kasus dugaan korupsi, Hoegeng mungkin akan mengurut dada karena sedih.
[ian]



Cerita Hoegeng dirayu pengusaha cantik

Minggu, 10 Juni 2012 05:51:00
Reporter: Ramadhian Fadillah

Cerita Hoegeng dirayu pengusaha cantik
Hoegeng. merdeka.com/Merdeka
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap tangan pegawai pajak Sidoarjo Tommy Hendratno karena diduga hendak menerima suap Rp 200 juta. Praktik suap menyuap bukan hal baru di negeri ini.

Survei Soegeng Sarjadi Syndicate menempatkan DPR sebagai lembaga terkorup. Disusul kantor pajak dan kepolisian. Ketiga lembaga ini memang dikenal 'basah'. Suap menyuap kerap terjadi. Mulai dari uang, mobil, barang mewah, hingga wanita.

Kapolri Hoegeng Imam Santosa pun merasakan godaan tersebut. Dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.

Seperti diketahui, Hoegeng sangat gencar memerangi penyelundupan. Dia tidak peduli siapa beking penyelundup tersebut, semua pasti disikatnya.

Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.

Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita itu. Hoegeng menjadi heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Hoegeng pun hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang dan rayuan wanita.

Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah pernah menulis soal krisis kejujuran di negeri ini. Musni menyoroti kurangnya teladan dari para pemimpin untuk memberikan contoh bersikap jujur dan bersih. Diharapkan teladan seperti Hoegeng bisa membuat masyarakat berubah.

Menurut Musni, kejujuran di Indonesia walau sulit masih bisa ditegakkan. Tapi Butuh niat, kemauan, tekad dan contoh teladan dari para pemimpin. Kejujuran tidak akan pernah tegak di Indonesia jika tidak ada semua itu.

"Dengan adanya figur yang memberi contoh dan teladan, maka dalam waktu tidak terlalu lama, kejujuran dapat diwujudkan di muka bumi Indonesia," tulis Musni.
[dan]


Kisah Hoegeng dan Sarwo Edhie berantas korupsi di Papua

Kamis, 7 Juni 2012 11:06:57
Reporter: Ramadhian Fadillah

Kisah Hoegeng dan Sarwo Edhie berantas korupsi di Papua
Hoegeng. merdeka.com/Merdeka
Kategori
Papua masih bergolak. Hampir setiap hari terjadi penembakan yang menewaskan warga sipil, polisi maupun prajurit TNI. Pagi ini, Terius Tabuni, seorang warga sipil, tewas ditembak orang tak dikenal.

Semalam Rabu (6/6) sekitar pukul 21.00 WIB, Arwan Kusdini, pegawai negeri sipil yang bertugas Komando Daerah militer XVII/Cenderawasih, tewas ditembak oleh orang tak dikenal. Selasa (5/6), tiga orang ditembak dalam sehari. Insiden itu terjadi di Jalan Sam Ratulangi, Jayapura, di depan kantor Dishub Provinsi Papua.

Masalah di Papua banyak dipicu ketimpangan ekonomi dan korupsi yang tidak berkesudahan. Pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua seperti jalan di tempat. Dana otonomi khusus yang besar tak mampu mengubah nasib Papua. Tahun ini, dana otsus Provinsi Papua sebesar Rp 3,83 triliun dan Papua Barat sebesar Rp 1,64 triliun. Dari tahun 2002 hingga 2010, jumlah dana yang digelontarkan pemerintah mencapai Rp 28,84 triliun. 

Korupsi di Papua sudah terjadi sejak dulu. Awal tahun 1970an, Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso pernah membongkar satu di antaranya. Kasus ini awalnya tertutup. Hoegeng pun menemukannya secara iseng-iseng. Suatu malam, Hoegeng yang hobi main radio amatir, berbicara dengan pastor di Papua. pastor itu menginformasikan ada pemberontakan polisi putra daerah Papua akibat korupsi akut di Papua.

Setelah Papua bergabung dengan Indonesia tahun 1969, pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua dengan mengirimkan uang, sembako, bahan bangunan dan bantuan lain. Ternyata bantuan ini malah dikorupsi.

"Bahan bantuan ini dikorup oleh para pejabat yang bertugas membaginya. Sementara kebanyakan para pejabat yang korup itu, bukanlah putra Papua," demikian ditulis dalam buku 'Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-' terbitan Bentang.

Akibat korupsi ini, para polisi yang putra asli Papua marah dan memberontak di Ennaratoli. Kasus ini berujung panjang. Presiden Soeharto dan Pangdam Cendrawasih Mayjen Sarwo Edhie ikut turun menyelesaikan pemberontakan dan korupsi di Ennaratoli.

Hoegeng pun berangkat ke Papua. Dia melakukan koordinasi dengan Pangdam Cenderawasih, Gubernur Papua, Kapolda Papua, hingga tingkat Kapolres. Hoegeng mengusut tuntas kasus ini. Sarwo Edhie pun menyelesaikan pemberontakan para polisi dengan cara yang bijaksana, bukan dengan kekuatan militer.

Hoegeng dan Sarwo Edhie dikenal berani dan lurus. Di Papua keduanya pun sempat curhat. Kira-kira siapa yang lebih dulu dipensiunkan Soeharto. Soeharto menganggap Sarwo sebagai saingan karena kepopuleran mantan komandan Resimen Para Komando ANgkatan Darat (RPKAD) itu. Apalagi sengaja dihembuskan kabar jika Sarwo Edhie akan mendongkel Soeharto. Padahal sama sekali Sarwo Edhie tidak melakukan apa-apa.

Sementara Hoegeng tanpa pandang bulu berusaha mengungkap semua kasus pidana. Tak peduli siapa bekingnya, dan masa bodoh pelakunya anak pejabat. Seperti kasus
pemerkosaan Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah yang diduga pelakunya dekat dengan lingkaran keluarga Cendana.

Keduanya menebak-nebak siapa yang akan lebih dulu dilengserkan dari jabatannya. Ternyata Hoegeng yang dipensiunkan lebih dulu dilengserkan tahun 1971 dan ditawari jabatan duta besar. Hoegeng menolak menjadi duta besar. Tahun 1975, giliran Sarwo Edhie yang dilengserkan sebagai perwira tinggi TNI. Sarwo diangkat menjadi duta besar di Korea Selatan.
[war]

Kapolri Hoegeng atur lalu lintas di perempatan

Kamis, 31 Mei 2012 16:23:32
Reporter: Ramadhian Fadillah

Kapolri Hoegeng atur lalu lintas di perempatan
Hoegeng. merdeka.com/Merdeka
Teladan Jenderal Hoegeng bukan hanya soal kejujuran dan antikorupsi. Hoegeng juga sangat peduli pada masyarakat dan anak buahnya. Saat sudah menjadi Kapolri dengan pangkat jenderal berbintang empat, Hoegeng masih turun tangan mengatur lalu lintas di perempatan.

Hoegeng berpendapat seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Dari mulai pangkat terendah sampai tertinggi, tugasnya adalah mengayomi masyarakat. Dalam posisi sosial demikian, maka seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal.

"Karena prinsip itulah, Hoegeng tidak pernah merasa malu, turun tangan sendiri mengambil alih tugas teknis seorang anggota polisi yang kebetulan sedang tidak ada atau tidak di tempat. Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi."

Demikian ditulis dalam buku 'Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-' terbitan Bentang.

Hoegeng selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00 WIB. Sebelum sampai di kantor, dia memilih rute yang berbeda dan berputar dahulu dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Maksudnya untuk memantau situasi lalu lintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.

Saat suasana ramai, seperti malam tahun baru, Natal atau Lebaran, Hoegeng juga selalu terjun langsung mengecek kesiapan aparat di lapangan. Dia memastikan kehadiran para petugas polisi adalah untuk memberi rasa aman, bukan menimbulkan rasa takut. Polisi jangan sampai jadi momok untuk masyarakat.

"Hanya penjahat saya yang boleh takut pada polisi," tegas Hoegeng soal fungsi pengayoman polisi.

Hoegeng juga tidak menempatkan pos jaga di depan rumahnya. Dia ingin tidak ada jarak antara dirinya dan masyarakat. Rumah itulah yang selalu jadi 'Mabes Polri 24 Jam'. Artinya Hoegeng siap melaksanakan tugas selama 24 jam. Di rumah itu pula Hoegeng memiliki stasiun radio amatir. Setiap malam dia menghubungi para Kapolda untuk menanyakan berbagai kasus.

Sayang akhirnya Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri oleh Presiden Soeharto. Keberaniannya dianggap mengganggu kepentingan keluarga Cendana dan kroni mereka. Hoegeng menjabat 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971, hanya sebentar. Tapi teladan Hoegeng dikenang sepanjang masa.
[ian]

Kisah lucu Jenderal Hoegeng paksa bandar judi Hoegeng ganti nama

Sabtu, 29 September 2012 09:57:15
Reporter: Pramirvan Datu Aprillatu

Kisah lucu Jenderal Hoegeng paksa bandar judi Hoegeng ganti nama
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok
Cerita kejujuran dan kiprah mantan Kapolri Hoegeng Iman Santosa seolah tiada habisnya. Cerita ini menarik di kala kepolisian banyak diserang tudingan korupsi, seperti pada kasus simulator SIM. Ada kejadian lucu mengenai nama Hoegeng terkait perjudian.

Suatu kali, mantan Kapolri Widodo Budidarmo (menjabat 1974-1978) sedang mengikuti upacara peringatan hari Proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus di Medan. Ketika itu, tahun 1967, Widodo adalah Panglima Daerah Kepolisian II Sumatera Utara. Widodo ikut upacara bersama gubernur dan anggota Muspida Sumut lainnya. Tiba-tiba seorang polisi tergesa-gesa mendatangi Widodo.

"Pak Hoegeng ingin bicara SSB (short side band) dengan bapak, sangat penting," ujar polisi itu. Hoegeng saat itu sudah menjadi Kapolri.

Widodo pun tersentak. Jika Kapolri menelepon, pasti ada sesuatu yang penting akan disampaikan. Setelah minta izin kepada gubernur dan anggota Muspida lainnya, dengan tergesa-gesa Widodo segera meluncur ke kantor Polda Sumatra Utara. Ia tinggalkan upacara 17 agustus yang belum selesai."Ada perintah apa pak Hoegeng?" tanya Widodo di depan pesawat SSB.

Di ujung sana terdengar suara khas Hoegeng secara tenor. "Begini mas Widodo, di Medan ada bandar judi memakai nama saya untuk beking. Tolong dicari siapa orang itu dan dilaporkan kembali pada saya, tidak lebih dari jam 12.00 siang ini," perintah Hoegeng. "Siap pak, akan saya kerjakan," kata Widodo dikutip dari Semua karena kuasa dan kasih-Nya: biografi Widodo Budidarmo karangan Baskara Trisila dan Hari Nugroho.

Menurut Widodo, Hoegeng paling keras dan tidak kenal kompromi dengan perjudian. Siapa pun tahu jendral yang mempunyai hobi menyanyi lagu berirama Hawaian ini bersih dan tak pandang bulu menangkap siapa pun yang melakukan perjudian. Jika sekarang namanya dipakai sebagai beking judi di Medan, Widodo paham bagaiman geramnya Hoegeng.

Widodo segera memanggil asisten intel Kolonel Polisi Bismo Soejitno untuk mengusut hal ini. "Cari siapa yang memakai nama pak Hoegeng," perintah Widodo.

Asisten intel seperti biasa bertindak cepat. Kurang dari satu setengah jam kemudian Bismo datang melapor. "Ada pak, orang namanya Yasper Hoegeng. Nama aslinya Yap Hao Ging, tapi namanya diubah menjadi Yasper Hoegeng lewat keputusan pengadilan," kata Bismo. Yasper Hoegeng rupanya bukan bandar judi melainkan penjual lotere.

Widodo segera melaporkan hasil temuannya itu kepada Hoegeng. Juga tentang nama Yasper Hoegeng yang sudah diputuskan melalui prosedur hukum. Tapi jawaban Hoegeng singkat saja. "Mas Widodo, saya tidak peduli apakah perubahan namanya diputuskan pengadilan atau tidak, suruh dia ubah namanya," tegas Hoegeng.

Ini sebuah tugas yang tidak mudah. Widodo kemudian memerintahkan Bismo untuk mendatangi Yasper dan memintanya tidak memakai nama "Hoegeng" lagi. kemudian tidak sampai satu jam Bismo kembali. "Berhasil Pak, dia mau mengubah namanya. Sekarang tidak ada lagi kata Hoegeng di namanya," kata Bismo.

Widodo langsung melapor lagi kepada Hoegeng yang kemudian lega mendengar hasil kerja Widodo. Selesailah sudah urusan "Hoegeng" sebagai beking judi itu.
[tts]

http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-lucu-jenderal-hoegeng-paksa-bandar-judi-hoegeng-ganti-nama.html

Jenderal Hoegeng: Jangan sampai polisi bisa dibeli

Jumat, 14 September 2012 06:03:00
Reporter: Ramadhian Fadillah

Jenderal Hoegeng: Jangan sampai polisi bisa dibeli
Hoegeng. ©2012 Merdeka.com/dok
Semasa menjabat, Kapolri Jenderal Hoegeng pernah berpesan agar polisi tidak menerima suap. Polisi harus mengayomi masyarakat. Jangan sampai polisi bisa dibeli hingga akhirnya menjadi polisi bayaran.

Hal itu dituturkan mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Buddarmo dalam Buku 'Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-' terbitan Bentang.

"Mas Widodo jangan sampai kendor memberantas perjudian dan penyelundupan karena mereka ini orang-orang yang berbahaya. Suka menyuap. Jangan sampai polisi bisa dibeli," tutur Widodo menirukan pesan Hoegeng semasa itu.

Widodo tahu Hoegeng tidak asal memberikan perintah. Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah.

"Kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari Pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik," kenang Widodo.

Widodo bahkan menyamakan mantan atasannya dengan Elliot Ness, penegak hukum legendaris yang memerangi gembong mafia Al Capone di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mafia menyuap hampir seluruh polisi, jaksa dan hakim di Chicago. Karena itu mereka bebas menjalankan aksi-aksi kriminal.

Tapi saat itu Elliot Ness dan kelompoknya yang dikenal sebagai The Untouchables atau mereka yang tak tersentuh suap, berhasil mengobrak-abrik kelompok gengster itu.

"Pak Hoegeng itu tak kenal kompromi dan selalu bekerja keras memberantas kejahatan," jelas Widodo.

Sayangnya Hoegeng belum menang seperti Eliot Ness di Chicago. Sayangnya saat itu Jenderal Hoegeng dilengserkan Soeharto karena dianggap mengusik bisnis keluarga Cendana. Polisi jujur ini dicopot tiba-tiba sebelum berhasil membabat habis para koruptor dan mafia di Indonesia. Rumornya karena Hoegeng berani mengusik keluarga Cendana.

Hoegeng menjabat 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971, hanya sebentar. Tapi teladan Hoegeng dikenang sepanjang masa.
[dan]
http://www.merdeka.com/peristiwa/jenderal-hoegeng-jangan-sampai-polisi-bisa-dibeli.html

Kisah Soeharto marah saat pembuatan film G 30 S/PKI

 

Kisah Soeharto marah saat pembuatan film G 30 S/PKI

Sabtu, 29 September 2012 15:15:33
Reporter: Islahudin

Kisah Soeharto marah saat pembuatan film G 30 S/PKI
soeharto. Life via thegossip-celebrity.blogspot.com

Meski film G 30 S/PKI adalah film proyek pemerintah, namun dalam penggarapannya begitu serius. Bahkan dari para pemeran yang bermain dalam film itu terdapat tokoh intelektual yang ikut serta di dalamnya.

Sebut saja Umar Kayam yang memerankan tokoh Soekarno dan Syu’bah Asa yang berperan sebagai Dipa Nusantara Aidit, Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia.

Penulis buku 'Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia', Budi Irawanto mengatakan, penggarapan film digarap dengan serius dengan sumber manusia terbaik di zamannya dan dengan dukungan media, bentuk-bentuk visual yang detail dan penjelasan guru-guru di sekolah kepada siswa.

"Dengan adanya dukungan semua itu, film itu semakin cepat dipahami penonton, seolah-olah itulah kejadian otentik dalam kasus 1965,' kata Budi saat dihubungi merdeka.com pada Kamis (27/9) sore kemarin.

Dari pengamatan Budi dalam karya Arifin C Noer, film Serangan Fajar (1981) dan film Penghianatan G 30 S/PKI (1984), dia menemukan dua hal yang berbeda. Menurut Budi, dalam film Serangan Fajar, yang mengisahkan perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaannya.

"Dalam film itu Arifin masih bisa bernegosiasi dengan idealismenya dengan memasukkan tokoh mitos rekaannya seperti tokoh Temon," ujar Budi lebih lanjut.

Sedangkan dalam film Penghianatan G 30 S/PKI, menurut Budi, Arifin dalam film itu mungkin di bawah tekanan. Dia memprediksi Arifin menggarap film hanya mementingkan unsur sinematografis. Meski sudah zaman reformasi, menurut Budi, banyak kalangan yang masih menilai film itu bagus secara sinematografis, terlepas dari isi yang bertolak belakang dengan sejarah.

Hal ini bisa dilihat bagaimana riset yang terkait dengan musik, latar, pakaian dalam film dilakukan dengan riset yang serius agar film itu seolah-olah nyata. Bahkan, saking seriusnya penggarapannya, Presiden Soeharto sempat marah dalam proses pembuatan film tersebut.

Kisah itu diceritakan Jajang C Noer kepada Budi Irawanto tahun lalu di Jakarta. Menurut Budi, saat penggarapan film, Jajang C Noer ikut serta untuk riset kostum yang akan digunakan pemeran Soeharto dalam film itu. Maka mau tidak mau, Jajang harus bertanya langsung kepada Soeharto.

Keinginan untuk sempurna itu membuat Jajang harus bertanya detail kepada Soeharto. Mulai dari warna semua pakaian dinas hingga jenis kain yang digunakan saat bertugas. Bahkan, aksesori lainnya juga ditanyakan sebagai masukan dalam film. Namun, hal itu membuat Soeharto marah.

"Kenapa harus menanyakan hal-hal yang detail dan tidak perlu," ujar Budi menirukan ungkapan marah Soeharto kepada Jajang.

Padahal hal-hal yang dianggap yang tidak perlu itu semuanya bermula. Hal ikhwal yang tidak terkait langsung dengan peristiwa sebenarnya, mulai dari baju, lencana, latar musik, dan perlengkapan lainnya, membuat film itu begitu meyakinkan sebagai film paling mencekam dalam sejarah Indonesia.

Budi berharap, pemerintah mestinya mendukung pembuatan film tandingan. Membalas film dengan film, bukan sebagai bentuk balas dendam. Namun film yang mengambil sudut pandang korban yang dibantai yang dituduh Partai Komunis Indonesia.

Menurutnya film-film tandingan serupa sudah banyak yang bermunculan dalam festival-festival film dokumenter di Yogyakarta. "Film tandingannya berupa film dokumenter dan beredar di kalangan tertentu, padahal dari segi kualitas dan dukungan pemerintah masih jauh dari film Penghianatan G 30 S/PKI," ujar mantan Direktur Jogja-Netpac Asian Film Festival 2011.
[hhw]

Benarkah film G 30 S/PKI diangkat dari BAP 7 pelacur?

Benarkah film G 30 S/PKI diangkat dari BAP 7 pelacur?

Sabtu, 29 September 2012 14:23:40
Reporter: Yacob Billi Octa

Benarkah film G 30 S/PKI diangkat dari BAP 7 pelacur?
Penggalan film G 30 S/PKI. ©2012 Merdeka.com
Banyak kejanggalan terdapat pada film propaganda Pengkhianatan G 30 S/PKI. Film yang dibuat berlatar tahun 1965 tersebut, dengan sepihak menyudutkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai ancaman stabilitas negara.

Menurut mantan tahanan politik yang dikorbankan pada peristiwa berdarah malam penghujung September tersebut, Sri Sulistyawati, film penghianatan G 30 S/PKI adalah bohong dan memutar balikkan fakta sejarah.

"Semua bohong, fitnah, film itu berdasarkan BAP dari tujuh orang pelacur," kata Sri kepada merdeka.com di Panti Jompo Waluyo Sejati, Jl Kramat Raya V Jakarta, Jumat (28/9).

Sri menjelaskan jika seluruh isi film janggal dan bertentangan dengan kejadian waktu itu, termasuk soal Gerakan Wanita Indonesia (gerwani).

Ingatan Sri soal gerwani masih tajam, meski rambutnya tidak lagi berwarna hitam. Sri mengatakan jika sepak terjang organisasi wanita terbesar waktu itu, tidak seperti yang digambarkan dalam film G 30 S/PKI

Dalam film, gerwani digambarkan sebagai organisasi yang memiliki hubungan erat dengan PKI, serta menjadi alat untuk menghabis lima jenderal di Lubang Buaya, serta menari telanjang.

"Pembuatan perairan itu juga membendung banjir Jakarta ya dari Jati Luhur itu, itu bikinan sukarelawan-sukarelawati, sampai Kali Malang. Jadi hasilnya bukan Lubang Buaya," kata Sri mencoba menjelaskan peran gerwani.

Menurut Sri yang juga mantan wartawan Ekonomi Nasional menuturkan, pembuatan film G 30 S/PKI sebenarnya didasarkan pada berita acara penangkapan (BAP) tujuh pekerja seks komersial di daerah Gunung Sahari, Jakarta.

Awalnya, tujuh perempuan buta huruf di bawah umur antara 14-16 tahun dari Banten, dibujuk tetangganya untuk bekerja sebagai pelayan di salah satu warung makan di Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, ternyata mereka tidak dipekerjakan di rumah makan, namun langsung dijual ke salah satu germo di Gunung Sahari.

"Mereka tidak bisa pulang, pertama tidak tahu medannya Jakarta-Banten, kedua tidak ada ongkos. Ya menyerahlah jadi pelacur," terang Sri.

Setelah beberapa bulan mereka menjajakan diri di Jembatan Merah, kemudian mereka keciduk oleh petugas keamanan dan ketertiban ibu kota.

Sesampainya di pos keamanan, para PSK tersebut dipaksa untuk membubui sidik jari di atas sebuah surat pernyataan yang salah satu isinya pembenaran jika mereka adalah anggota gerwani yang menari telanjang di Lubang Buaya.

"Waktu itu BAPnya oleh Kombes Mukhtar. Dia sudah bikin kan (surat pernyataan), mereka buta huruf, tinggal sidik jari. Apa yang ditulis di situ, mereka tidak bisa baca."

"Karena disundutin rokok dan dipopor di jidatnya, mereka ya, ya sudah. Sidik jari, ya sidik jari saja. Mereka jadi gila," lanjutnya.

Menurut Sri, kejadian tersebut merupakan bukti adanya skenario besar peristiwa pembantaian PKI. "Kalau memang itu alami, mereka pelacur tidak punya KTP, kenapa tidak dimasukkan ke (rutan) Pondok Bambu? Tapi di RTM Bukit Duri. Kenapa dimasukkan ke Tapol bersama tokoh-tokoh gerwani dan pemuda rakyat," terangnya.

Tidak hanya itu kejanggalan lain di film tersebut soal rapat PKI. Jika dalam film ditunjukkan ketika PKI rapat, selalu diidentikkan layaknya rapat para pemberontak, di ruangan sempit dengan penerangan minim, serta kepulan asap rokok yang tiada habisnya.

Namun dalam kenyataannya tidak seperti itu. Sri mengatakan PKI adalah partai yang konsisten menjunjung prinsip disiplin. PKI melarang anggotanya berpoligami dan merokok.

"Kalau anggota PKI itu tidak boleh poligami sama rokok, itu larangan keras," ujar Sri.

Kejanggalan lain adalah soal sumur Lubang Buaya. Sri memastikan jika peristiwa pembunuhan jenderal di sumur bekas tempat sampah, Lubang Buaya adalah bohong.

Sebab, Sri yang pernah satu sel bersama pemilik rumah Sari Ningsih di RTM Bukit Duri mendapat keterangan, jika peristiwa tersebut merupakan rangkaian skenario Kolonel Latief.

"Jadi tentara itu diperintah untuk bunuh lima jenderal itu, kemudian tentara yang membunuh jenderal itu dibunuh juga untuk menghilangkan bukti. Atas komando Latief," kata Sri.

Dosen Komunikasi yang juga peneliti film-film propaganda Orde Baru Budi Irawanto juga mengatakan jika film G 30 S/PKI merupakan film yang sengaja dibuat bertentangan dengan fakta sejarah.

"Film itu penggambaran hitam putih tentang PKI dan gerwani. Padahal kenyataannya, tidak ada yang sepenuhnya hitam," kata Budi.

Menurut Budi, kejanggalan lain film tersebut adalah keputusan Arifin C Noer dan
Umar Kayam terlibat pada pembuatannya. Padahal, kedua seniman tersebut terkenal idealis.

"Padahal mereka seniman idealis yang sudah biasa lapar, tiba-tiba mau menggarap film itu dan jadi pemainnya. Kenapa? itu yang kita tidak tahu," pungkasnya.
[hhw]

Museum Pustaka Loka, napak tilas pembunuhan Ahmad Yani

Museum Pustaka Loka, napak tilas pembunuhan Ahmad Yani

Sabtu, 29 September 2012 13:31:09
Reporter: Islahudin

Museum Pustaka Loka, napak tilas pembunuhan Ahmad Yani
Ruang keluarga museum (rumah) Ahmad Yani. ©2012 Merdeka.com
Halaman depan rumah yang berada pojok Jalan Lembang No 58 Menteng, Jakarta Pusat, itu tampak asri oleh pepohonan dan bunga-bunga. Aura kemiliteran begitu terasa di atas tanah 1500 meter persegi itu.

Di halaman depan berdiri patung dengan pakaian militer lengkap dengan menghadap Jalan Latuharhari. Itulah suasana Museum Sasmita Loka Ahmad Yani pada Rabu pagi kemarin.

Saat merdeka.com, Jumat (28/9) menyambangi bekas rumah dinas Jenderal Angkatan Darat itu, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dan belum ada satu pengunjung pun yang datang.

Meski aroma militernya begitu kuat. Tidak sulit memasuki rumah itu. Cukup hanya dengan melapor kepada petugas untuk mengisi buku tamu, kemudian pemandu siap mengantar ke dalam museum.

Menurut Gilang, pemandu museum Sasmita Loka Ahmad Yani, akhir pekan September biasa pengunjung meningkat minimal 10 orang. Jadwal paling ramai pengunjung pada masa liburan semesteran sekolah yang datang dalam satu rombongan. "Museum buka setiap hari Selasa sampai Minggu sejak pukul 08.00-14.00, selebihnya tutup," kata Gilang.

Museum di bawah naungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, ini tidak mengenakan pungutan kepada pengunjung. Museum ini juga menyediakan pemandu. Meski hari itu merdeka.com hanya sendiri yang berkunjung, Gilang, pemandu museum itu sudah siap memandu ke dalam museum.

Dari penjelasan Gilang, museum itu selain mengenang meninggalnya Jenderal Ahmad Yani juga dirancang untuk rekonstruksi pembunuhannya pada pagi buta 1 Oktober 1965. Rute perjalanan lintas ruangan dalam museum itu itu seperti napak tilas kejadian saat itu.

Sebelum menuju dalam museum, Gilang menunjukkan mobil sedan biru muda merek Chevrolet, dengan nomor Polisi B 66 M, mobil yang sering digunakan Jenderal Ahmad Yani yang berada terpisah dari ruang museum. Layaknya napak tilas kejadian, Gilang, kemudian mengajak merdeka.com memasuki museum melalui pintu samping.

Dari penjelasan Gilang, lewat pintu itulah tentara menggedor pintu untuk meminta Jenderal Ahmad Yani datang ke Istana Negara langsung atas perintah Presiden Soekarno. Pintu depan rumah dalam kondisi terkunci.

Setelah masuk dengan melepas alas kaki, pengunjung langsung melihat ruangan berbentuk memanjang yang dipenuhi oleh foto-foto dokumentasi hitam putih dan kursi tamu. Dalam papan dokumentasi juga terdapat foto berwarna yang diambil dari adegan film Penghianatan G 30 S/PKI, besutan Arifin C Noer.

"Di sinilah empat tentara itu bertemu dan berdialog dengan Bapak Ahmad Yani setelah dibangunkan anaknya," ujar Gilang sambil menunjukkan foto-foto itu.

Kemudian Gilang mengajak melewati dapur dan kamar mandi yang bisa langsung menuju ruang keluarga dengan melewati lorong selebar sekitar satu meter lebih. Di lorong ujung terdapat pintu yang bagian atasnya terdapat kaca sebagai pembatas ruang keluarga.

Dari penjelasan Gilang, setelah terjadi dialog di ruang dokumentasi, Ahmad Yani meminta untuk cuci muka dan ganti baju sebelum bertemu presiden, sambil berjalan menuju lorong menuju ruang keluarga. Namun, tentara yang menjemput meminta agar Ahmad Yani tidak perlu ganti baju, sambil mengikuti di belakangnya. Mendengar hal itu, menurut Gilang, Jenderal Ahmad Yani tersinggung mendengar hal itu.

Saat sudah sampai pintu dan tahu diikuti, Jenderal Ahmad Yani langsung berbalik arah menampar salah satu prajurit itu. "Setelah menampar, Bapak akan kembali masuk, namun tentara itu langsung memberondong Jenderal Ahmad Yani dengan tembakan dan langsung jatuh di sini," ujar Gilang menunjuk lokasi tempat jatuh dan meninggalnya Ahmad Yani dan menunjukkan kaca pintu yang bolong akibat peluru.

Kaca pintu bekas peluru masih utuh dan dilapisi kaca. Menurut Gilang, hal itu dilakukan untuk menjaga keotentikan sejarah saat kejadian berlangsung. Sedangkan pada bagian tempat jatuhnya itu diberi tanda khusus dengan dikelilingi oleh kayu dengan tinggi sekitar setengah meter sebanyak empat buah yang saling terhubung dengan rantai. Sedangkan lantai lokasi jatuhnya Jenderal Ahmad Yani setelah ditembak dibuat dalam bentuk prasasti yang bertuliskan,

"Di sinilah gugurnya Pahlawan Revolusi Djenderal TNI A. Yani pada Tanggal 1 Oktober 1965. Djam 04.35. Djakarta, 1 Januari 1970."

Setelah itu Gilang menunjukkan mini bar yang dekat dengan pintu tempat lokasi kejadian. Kemudian meja makan keluarga. Di atas tembok terpajang foto pahlawan revolusi lainnya dalam bingkai kaca, Sutoyo Siswomiharjo, Donald Ignatius Panjaitan, Pierre Andreas Tendean, Katamso Dharmo Kusumo, Sugiono Mangun Wiyoto, R Soeprapto, Suwondo Parman, Haryono Mas Tirto Darmo, dan Karel Satsuit Tubun.

Kemudian ruang tamu, di situ terdapat lukisan dari Umar Wirahadi Kusuma yang menggambarkan penculikan Ahmad Yani. Kemudian ruang ajudan yang menyatu dengan ruang tunggu tamu, dan ruang santai yang menghadap taman. Dalam ruang tunggu itu terdapat koleksi macan Sumatera yang sudah diawetkan dan ditaruh dalam lemari kaca. Kemudian koleksi buku.

Baru pada bagian belakang dengan melewati ruang keluarga, terdapat dua kamar tidur putra-putri Ahmad Yani dan satu kamar tidur Ahmad Yani dan Istrinya. "Semua yang ada di sini asli, tidak ada yang diganti, kecuali lampu atau keran yang rusak," ujar Gilang menjelaskan.

Dalam ruang kamar tidur Ahmad Yani, terdapat lemari kaca yang diisi dengan senapan Thompon yang digunakan menembak Ahmad Yani. Pada lemari kaca lainnya terdapat bintang lencana penghargaan dan dompet yang berisi uang Rp 120.000, gaji Ahmad Yani yang belum dibelanjakan.

Sekitar pukul 12.00 lebih seorang tamu datang memasuki ruangan museum. Pria itu adalah Danu Wibowo, pengurus Komunitas Historia Jakarta. Dia datang berkunjung sekaligus untuk mengurus izin kunjungan napak tilas penculikan yang diagendakan komunitasnya pada Minggu 1 Oktober besok.

"Sementara ini ada sekitar 120 peserta yang ikut napak tilas dengan jalan kaki dari rumah Ahmad Yani sampai rumah Abdul Haris Nasution yang berada di Jalan Teuku Umar No 40," kata Danu kepada merdeka.com siang itu.

Menurut Danu, zaman Orde Baru sudah berakhir. Demikian juga fakta-fakta baru atas kejadian September 1965 itu sudah berkembang. Apalagi pesertanya rata-rata masih muda yang memiliki kemampuan mencari informasi sendiri. Danu mengakui, kasus September 1965 hanya diketahui melalui film G 30 S/PKI.

"Selain informasi dari pemandu museum, kami juga akan melengkapi informasi sejarah yang aktual terhadap peristiwa itu kepada peserta," ujar Danu lebih lanjut.
[hhw]


Ketika para jenderal TNI AU minta film G 30 S/PKI distop

Ketika para jenderal TNI AU minta film G 30 S/PKI distop

Sabtu, 29 September 2012 12:24:00
Reporter: Ramadhian Fadillah

Ketika para jenderal TNI AU minta film G 30 S/PKI distop
Penggalan Film G 30S/PKI. ©2012 Merdeka.com
Film G30S/PKI digarap tahun 1984 dan kemudian wajib ditayangkan di TVRI dan seluruh televisi swasta setiap malam tanggal 30 September. Film berdurasi hampir empat jam ini biasanya mulai ditayangkan pukul 21.00 WIB.

Masyarakat kembali dan kembali diingatkan tentang kengerian yang terjadi di Lubang Buaya. Tahun 1998, saat
Soeharto tumbang. Suara-suara yang mengkritik soal film ini bermunculan.

Film G30S/PKI dianggap penuh propaganda
Soeharto. Adalah para purnawirawan TNI AU (PPAU) yang kemudian menyurati Menteri Penerangan Yunus Yosfiah. Para marsekal atau jenderal TNI AU ini tak terima TNI AU seolah-olah terlibat G30S.

"Mantan Kepala Staf TNI AU Marsekal Saleh Basarah yang menelepon menteri penerangan dan menteri pendidikan. Itulah akhirnya kenapa film itu tidak ditayangkan lagi per 1 Oktober 1998," beber sejarawan Asvi Warman Adam saat berbincang dengan merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Dalam film tersebut, seolah-olah Lubang Buaya yang menjadi tempat penyiksaan jenderal berada di dalam komplek Halim Perdanakusuma. Faktanya, Lubang Buaya berada di luar markas TNI AU. Masih ada beberapa keganjilan lain yang dinilai menyudutkan TNI AU.

Saat Gerakan 30 September terjadi, memang Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) AURI Mayor Sujono terlibat aktif dalam penculikan para Jenderal tersebut. Beberapa rumah di lanud Halim dan Gedung Pemetaan Nasional (Penas) juga digunakan untuk sentral komando para pemimpin gerakan 30 September. Tapi tentu ini dilakukan tanpa seizin pimpinan AURI.

Yang lebih memberatkan karena kemudian Menteri AURI Marsekal Madya Omar Dhani mengeluarkan perintah harian tanggal 1 Oktober 1965. Perintah itu secara tergesa-gesa dikeluarkan. Isinya kurang lebih seperti AURI mendukung Gerakan 30 September.

"Gerakan 30 September telah diadakan gerakan untuk mengamankan dan menyelamatkan revolusi dan pemimpin besar revolusi terhadap subversif CIA. Dengan demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh angkatan darat dari anasir-anasir yang didalangi oleh subversif asing dan telah membahayakan revolusi. Angkatan Udara sebagai alat revolusi selalu mendukung dan menyokong tiap gerakan yang progresif revolusioner," demikian Omar Dhani.

Mungkin saat itu Omar Dhani berpikir jika Gerakan 30 September itu hanya konflik internal TNI AD. Sejumlah perwira menahan atasannya yang membahayakan
Soekarno.

Belakangan setelah tahu duduk permasalahan, Omar Dhani menyesal belum berkoordinasi dengan
Soekarno. Omar Dhani loyalis Soekarno. Wajar mengambil sikap demikian.

Tapi
Soeharto punya pendapat lain. Di depan penggalian jenazah tujuh jenderal di Lubang Buaya, Soeharto menyebut Angkatan Udara pasti terlibat.

"Daerah Lubang Buaya termasuk lapangan Halim. Kalau saudara melihat fakta dekat sumur ini, telah menjadi latihan sukwan dan sukwati oleh Angkatan Udara. Mereka melatih anggota rakyat dan gerwani. Tidak mungkin tidak ada hubungan dalam peristiwa ini oknum-oknum angkatan udara," kata
Soeharto

4 Oktober, di tengah kemarahan para prajurit TNI AD yang melihat jenazah jenderal-jenderal mereka yang tewas.
Soeharto tak menyebut kalau Batalyon 454 dan Batalyon 530 juga ikut terlibat petualangan itu.

Pasukan yang dipakai menculik adalah Cakrabirawa dari unsur TNI AD. Maka 30 tahun lebih TNI AU harus menerima fitnah itu.
[hhw]
http://www.merdeka.com/peristiwa/ketika-para-jenderal-tni-au-minta-film-g-30-spki-distop.html

Film G 30 S/PKI, alat cuci otak ala Orde Baru

Film G 30 S/PKI, alat cuci otak ala Orde Baru

Sabtu, 29 September 2012 06:31:00
Reporter: Hery H Winarno

Film G 30 S/PKI, alat cuci otak ala Orde Baru
Penggalan film G 30 S/PKI. ©2012 Merdeka.com
Film ini diawali dengan munculnya logo PPFN (Pusat Produksi Film Negara) dan diiringi suara orkestra. Setelah logo PPFN, deretan huruf muncul yang diiringi suara mesin tik.

Setting lalu bergeser ke Lubang Buaya, lalu terdengar narasi. "Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini."

Adegan kembali berganti dengan menampilkan suasana subuh di sebuah desa. Beberapa orang terlihat mengambil celurit yang diselipkan di bilik bambu. Orang itu lalu berlari menuju sebuah masjid dengan membawa celurit dan senjata tajam lainnya.

Saat itu, jemaah masjid kecil tersebut sedang melaksanakan salat subuh. Usai salam, sang imam lalu memimpin doa dan tiba-tiba diserang oleh gerombolan orang bersenjata tadi.

Sang imam salat langsung dianiaya. Para jemaahnya dianiaya dan sebagian memilih menyelamatkan diri saat masjid diserbu tanpa sebab yang jelas itu. Rak berisi kitab suci Alquran dirusak dalam aksi yang digambarkan terjadi pada 13 Januari di Desa Kanigoro, dekat kota Kediri tahun 1965.

Diceritakan juga bagaimana PKI merusak dan menginjak-injak kitab suci Alquran. Beberapa berita kekerasan yang dilakukan oleh PKI juga ditampilkan dalam film tersebut. PKI memang ingin digambarkan sebagai organisasi yang tidak beradab.

Begitulah adegan awal yang digambarkan dalam film G 30 S/PKI. Sejak awal dalam film tersebut memang sengaja dibuat untuk menimbulkan kebencian yang mendalam kepada PKI.

Sejak tahun 1985 film G 30 S/PKI menjadi film yang wajib diputar di semua stasiun TV tanah air setiap tanggal 30 September malam. Film propaganda versi pemerintah Orde Baru ini mengisahkan kebiadaban yang dituduhkan kepada PKI.

Film dibesutan Arifin C Noer itu juga dibintangi oleh beberapa artis terkenal kala itu. Sebut saja Ade Irawan, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Sofia WD. Ini film pun mampu menjadi alat cuci otak yang dahsyat saat itu.

Film yang diproduksi tahun 1984 ternyata mampu menimbulkan efek yang luar biasa bagi pemirsanya. Akibat film tersebut semua otak penontonnya berpikir bahwa PKI adalah organisasi paling kejam di republik ini.

Efek film tersebut benar-benar memberikan kesan yang mendalam bagi yang pernah menontonnya. Film berdurasi 3 setengah jam itu mampu menggambarkan suasana ketegangan di tahun 1965.

Sang sutradara juga terlihat sangat piawai untuk mengarahkan para pemerannya untuk menunjukkan ketegasan, kesedihan, kemarahan, bahkan kesadisan yang digambarkan di film tersebut.

Aksi PKI menyiksa dan mengubur 7 jenderal juga membakar amarah setiap pemirsanya. PKI digambarkan sebagai organisasi 'haram' yang ingin menguasai republik ini.

Namun ketika orde baru tumbang, film ini pun mulai dipertanyakan kebenarannya. Tak sedikit sejarawan dan saksi hidup yang menyebut film G 30 S/PKI adalah film cuci otak ala orde baru.

"Film G 30 S/PKI itu adalah fiksi dan mengandung pembohongan pada masyarakat karena berangkat dari skenario sutradara Arifin C Noer. Sedangkan monumen Lubang Buaya (monumen Pancasila Saksi) juga sama karena berdasarkan hasil visum tidak ada itu yang namanya jendral disilet-silet oleh Gerwani," ujar korban 65 dan Sastrawan Lekra di masa Orde Lama Putu Oka Sukanta di kantor Kontras, Jakarta, (25/7/2012) lalu.
[hhw]

Film G 30 S/PKI, propaganda terbaik rezim Orde Baru

Sabtu, 29 September 2012 08:57:51
Reporter: Islahudin
Film G 30 S/PKI, propaganda terbaik rezim Orde Baru
Penggalan film G 30 S/PKI. ©2012 Merdeka.com
Dalam deretan sinema Indonesia, film-film yang dianggap bersejarah oleh negara bukan hanya hiburan semata. Unsur propaganda dan doktrin penguasa sangat kuat di dalamnya. Terutama film-film yang mengangkat tema heroisme dan militerisme yang berlatar sejarah, seperti Enam Djam di Djogja (1951), Janur Kuning (1979), Serangan Fajar (1981), hingga Penghianatan G 30 S/PKI (1984).

Menurut Budi Irawanto, kandidat Doktor Kajian Asia Tenggara bidang film di National University of Singapore, film-film itu merupakan bukti hegemoni Orde Baru begitu rapi dan kuat dalam menanamkan jejaknya di masyarakat untuk melanggengkan kekuasaannya.

"Film Penghianatan G 30 S/PKI adalah salah satu film terbaik dalam menyebar propaganda dan kebencian kepada musuhnya, PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), dan itu tertanam dalam benak satu generasi," ujar Budi saat dihubungi merdeka.com pada Kamis (27/9) sore kemarin.

Kuatnya ingatan masyarakat terhadap film itu dipengaruhi banyak hal. Film itu disiarkan secara nasional sejak 1985 yang diputar setiap 30 September dan wajib ditonton pelajar saat itu.

Tayangan film itu dihentikan secara nasional sejak 1998. Kuatnya pesan film itu, menurut Budi, didukung oleh perangkat-perangkat lainnya, seperti penjelasan film yang diteruskan dalam pelajaran pendidikan moral pancasila dan pelajaran sejarah perjuangan bangsa di sekolah.

Padahal menurut Budi, isi film tidak menunjukkan sejarah yang sebenarnya. "Film itu memang tidak menggunakan berbagi sumber dalam pembuatannya, sengaja untuk memojokkan lawan politik penguasa dan itu politis," kata Budi lebih lanjut.

Namun, Budi mengakui, film itu secara sinematografis memang bagus dan meyakinkan sebagai film sejarah meski tidak memuat fakta sebenarnya.

Analisa yang lebih dalam dibahas dalam buku, 'Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia', karya Katherine E McGregor, film Penghianatan G 30 S/PKI adalah salah satu cara Orde Baru dalam menggambarkan usaha kudeta oleh PKI.

Tafsir peristiwa yang digunakan Orde Baru dalam film itu adalah salah satu upaya meyakinkan masyarakat, kudeta itu dilakukan oleh komunis dan bukan pihak militer. Peristiwa itu dijadikan alasan oleh Orde Baru untuk membenarkan tindakannya untuk berkuasa.

Sedangkan menurut Bambang Purwanto, Profesor Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam pengantar buku itu, tiap rezim di Indonesia menggunakan sejarah sebagai topeng untuk mendukung kekuasaannya.

Bila perlu dengan membuat tafsir baru atas mitos-mitos lama atau memproduksi mitos-mitos baru. "... Jika rezim sebelumnya membangun sejarah Indonesia dari benturan antara kolonialisme dan imperialisme dalam melawan nasionalisme Indonesia dengan Soekarno sebagai pusat, maka Orde Baru melihat sejarah Indonesia sebagai hasil dari perjuangan antara pendukung dan penentang Pancasila dengan menempatkan militer sebagai faktor penentu," tulis Bambang mengomentari karya Katherine E. McGregor itu.

Dalam Buku itu Katherine E. McGregor mengakui, dia ingin mengungkapkan peran Orde Baru dengan militernya dalam menggambarkan masa lalu Indonesia. Salah satunya dengan media visual, yang dukung oleh buku-buku pelajaran, monumen-monumen, film, hingga diorama yang di pajang dalam museum.

Dalam analisa Katherine, pembuatan dan pemaknaan sejarah baru oleh Orde Baru melalui media visual dan film sangat efektif. Hal itu terkait dengan jumlah penduduk Indonesia pada saat itu masih memiliki tingkat buta huruf yang tinggi, maka dengan pembuatan sejarah melalui media visual diharapkan bisa menjangkau seluruh Indonesia.

Analisa itu muncul setelah Katherine membaca dokumen dari Departemen Pertahanan dan Keamanan Pusat sejarah Angkatan Bersenjata Indonesia dalam merancang semua itu. Katherine mengutip Nugroho Notosutanto dalam dokumen itu, "Di dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti Indonesia, di mana kebiasaan membaca pun masih sedang berkembang, kiranya historio-visualisasi masih agak efektif bagi pengungkapan identitas ABRI."

Tidak mengherankan kelanggengan Orde Baru berkuasa dijaga dengan strategi yang rapi. Pengaruh kekuasaan sudah dijaga dengan doktrin yang sudah ditanamkan dalam melalui buku pelajaran, film, museum, monumen, hingga rancangan diorama yang begitu detail. Meski begitu, tidak jarang menggunakan kekerasan.

Budi Irawanto belum mengetahui apakah dalam pembuatan film propaganda G 30 S/PKI juga menggunakan kekerasan untuk semua anggota penggarapnya. Meski film itu bermuatan politis, namun penggarapannya serius bahkan dalam produksinya mengikutsertakan sutradara kawakan Arifin C. Noer.
"Kita belum tahu apa alasan Arifin mau menerima isi pesanan film penguasa saat itu," kata Budi.
[hhw]

Film G30S/PKI, penderitaan itu pedih jenderal!

Minggu, 2 September 2012 11:33:21
Reporter: Ramadhian Fadillah
Film G30S/PKI, penderitaan itu pedih jenderal!
G30S PKI. wordpress.com
Tokoh Terkait
Adegan seram itu mengalahkan film horor Indonesia yang mana pun. Suasana di Lubang Buaya, tanggal 1 Oktober 1965 dini hari. Seorang wanita mengambil silet yang terselip di dinding anyaman bambu. Lalu disayatkannya silet itu pada wajah seorang jenderal yang duduk terikat.

"Penderitaan itu pedih jenderal. Sekarang rasakan sayatan silet ini. Pedih. Tapi tidak sepedih penderitaan rakyat," ujar wanita itu dengan dingin.

Adegan selanjutnya tidak kalah sadis. Para jenderal dipukuli dan disiksa hingga tewas. Sementara penyiksanya tertawa-tawa bengis sambil menyanyikan lagu genjer-genjer. "Teken jenderal, teken!" teriak para tentara pro-komunis dan para aktivis pemuda rakyat dan Gerwani itu.

Setiap orang yang pernah menyaksikan Film Pengkhianatan G30S/PKI, pasti hapal adegan itu. Dulu di era Orde Baru, Film ini wajib ditayangkan setiap tanggal 30 September malam. Bukan hanya di TVRI, tetapi juga di semua stasiun swasta.

Film G30S/PKI dibuat tahun 1982 dan disutradarai Arifin C Noer. Film ini merupakan film kolosal serta menyedot biaya besar. Alur cerita dalam Film G30S/PKI adalah rekonstruksi peristiwa malam 30 September hingga 1 Oktober 1965 versi pemerintah
Soeharto. Secara gamblang dan tanpa sensor, kekejaman sangat ditonjolkan dalam film tersebut.

Pemeran utama Film ini adalah Amoroso Katamsi (Mayjen
Soeharto), Syu’bah Asa (DN Aidit), Umar Kayam (Soekarno) dan Bram Adrianto (Letkol Untung).

Situs
filmindonesia.or.id mencatat film G30S/PKI merupakan film terlaris di Jakarta tahun 1984, dengan 699.282 penonton, menurut data Perfin. Jumlah ini merupakan rekor tersendiri, yang belum terpecahkan hingga 1995.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengkritik film ini. Menurut Asvi, film tersebut sarat dengan kontroversi. Lagi-lagi peran
Soeharto sangat ditonjolkan dalam film itu. Sementara darah dan kekejaman diobral untuk menunjukkan kekejaman PKI. "Jelas film ini tidak layak untuk ditonton anak-anak," kata Asvi.

Pada masa Orde Baru, justru anak-anak sekolah yang diwajibkan menonton film ini. Anwar, seorang santri di pesantren di Banyuwangi, Jawa Timur masih mengingat film ini di tahun 1990an awal. Dulu televisi diletakkan di masjid, santri-santri nonton bareng film tersebut. "Banyak yang takut menonton film ini," aku Anwar.

Setelah reformasi, akhirnya pemerintah tidak menayangkan film yang dinilai kontroversi ini. Asvi Warman Adam mengungkapkan adalah Persatuan Purnawiran TNI Angkatan Udara yang menghubungi Menteri Penerangan Yunus Yosfiah. PPAU meminta tayangan itu dihentikan karena dianggap menyudutkan TNI AU (dahulu AURI).

"Mantan Kepala Staf TNI AU Marsekal Saleh Basarah yang menelepon menteri penerangan dan menteri pendidikan. Itulah akhirnya kenapa film itu tidak ditayangkan lagi per 1 Oktober 1998," beber Asvi.

Dalam film tersebut seolah-olah Lubang Buaya yang menjadi tempat penyiksaan jenderal berada di dalam komplek Halim Perdanakusuma. Faktanya, Lubang Buaya berada di luar markas TNI AU. Masih ada beberapa keganjilan lain.

Maka kini, tak ada lagi film horor tersebut setiap malam 30 September. Sayangnya belum ada film pengganti yang meluruskan secara obyektif peristiwa yang terjadi 47 tahun lalu itu.
[arr]

Ketika para tahanan politik menyaksikan film G 30 S/PKI

Sabtu, 29 September 2012 10:45:00
Reporter: Yacob Billi Octa
Ketika para tahanan politik menyaksikan film G 30 S/PKI
G30S PKI. wordpress.com
Kategori
Saat Soeharto berkuasa sebagai presiden, film Pengkhianatan G 30 S/PKI menjadi film wajib diputar antara tahun 1985 sampai 1998. Waktu itu, TVRI yang menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia, diperintahkan untuk memutar pada tanggal 30 September malam setiap tahunnya.

Film propaganda pemerintahan orde baru tersebut menceritakan terjadinya pergolakan politik di Indonesia di Tahun 1965, yang kemudian berujung pada pergantian tampuk pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto.

Dalam film garapan Arifin C Noer itu, dikisahkan Soeharto dengan sepihak menuding Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai biang keladi goyangnya stabilitas politik pemerintah, hingga berujung pada pertumpahan darah.

Namun apakah kebenaran peristiwa 1965 seperti dalam film tersebut? Mantan tahanan politik yang dikorbankan pada peristiwa G30S/PKI tersebut, Marzuki dengan tegasnya membantah kebenaran peristiwa dalam film itu.

"Itulah pembohongan, fitnah," kata Marzuki kepada merdeka.com di Panti Jompo Abdi Waluyo Jl Kramat V, Jakarta, Jumat (28/9).

Meski usianya tidak lagi muda, namun semangat Marzuki masih membara. Raut di wajahnya seakan menjadi saksi ketidakadilan Orde Baru, saat dirinya tanpa alasan jelas, divonis sebagai tahanan politik.

"Sebenarnya saya tidak mengerti apa-apa. Awalnya saya pegawai negeri di Semarang, tahu-tahu diambil. 14 tahun di tahan," cerita Marzuki.

Marzuki mengaku tidak kaget waktu menyaksikan film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Sebab, dirinya memang mengetahui dan merasakan gejolak waktu itu.

Bukan hanya dia, teman-teman Marzuki yang juga 'dikorbankan pada peristiwa 65' juga bersikap sama, mereka umumnya hanya diam dan menganggap film tersebut sebagai hal yang biasa.

Bukan tanpa alasan dia bersikap demikian, ketakutan terhadap kekuatan dominasi Orba, menjadi pertimbangan utamanya.

"Namun prinsipnya karena takut, ya dibuat biasa saja," lanjutnya.

Marzuki menjelaskan jika penggambaran PKI dalam film tersebut, merupakan kesalahan besar. Menurutnya, tidak benar PKI memiliki perawakan garang, dan identik dengan kekerasan atau peperangan.

"Ketika rapat PKI, minum, atau rokok, itu tidak boleh. Jadi memang disiplin," kata Marzuki.

Hal ini kontras dengan apa yang digambarkan dalam film G 30 S/PKI. Setiap kali rapat PKI selalu diwarnai kepulan asap rokok yang membumbung.
[hhw]

Mengapa PKI dibenci?

Sabtu, 29 September 2012 08:37:00
Reporter: Hery H Winarno
Mengapa PKI dibenci?
G30S PKI. wordpress.com
Bagi sebagian rakyat Indonesia, mendengar kata Partai Komunis Indonesia (PKI) seolah mendengar sebuah hantu yang sangat menakutkan. Bahkan sebagian menganggap PKI adalah bahaya laten (terpendam) bagi republik ini.

Kebencian terhadap PKI tentu bukan tanpa alasan. Ketika Orde baru berkuasa, PKI seolah menjadi organisasi 'haram' di republik ini. Kampanye anti PKI pun dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk dengan film.

Film G 30 S/PKI menjadi salah satu alat propaganda efektif pemerintah orde baru untuk menyematkan label pemberontak kepada PKI. Melalui film tersebut rakyat Indonesia 'dipaksa' untuk mengamini bahwa PKI adalah sebuah partai yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah dengan cara keji.

Salah satu adegan yang paling keji dari film besutan Arifin C Noer adalah penculikan 7 jenderal. Mereka dibawa ke Lubang Buaya lalu disiksa dan mayatnya dimasukan ke dalam sumur tua.

"Penderitaan itu pedih jenderal. Sekarang rasakan sayatan silet ini. Pedih!. Tapi tidak sepedih penderitaan rakyat," ujar seorang wanita dengan dingin.

Adegan selanjutnya tak kalah sadis. Para jenderal dipukuli dan disiksa hingga tewas. Sementara para penyiksanya tertawa-tawa bengis sambil menyanyikan lagu 'Genjer-genjer'.

"Teken jenderal, teken!" bentak para tentara pro-komunis dan para aktivis pemuda rakyat dan Gerwani itu.

Kisah di atas merupakan penggalan dari adegan film G30S/PKI. Saking menyeramkannya, film G 30 S/PKI konon mengalahkan film horor Indonesia mana pun. Musik latarnya yang pelan dan menyayat, yang digubah oleh Embi C Noor, terasa mencekam dan berbanding lurus dengan narasi film tersebut yang sangat kaku dan dingin.

Tak heran banyak generasi yang ketika film ini diputar akhirnya menjadi membenci PKI. PKI bak hantu yang menakutkan dan wajib dimusnahkan dari bumi pertiwi.

Generasi yang sempat menonton film tersebut telah berhasil dicuci otaknya lewat film yang selalu di putar pada 30 September malam. PKI dibenci dan dimaki, bukan karena ajaran atau faham yang diajarkan tetapi karena film.

Benarkah PKI sekejam apa yang digambarkan dalam film berdurasi 3 setengah jam itu?

Setelah rezim Soeharto tumbang, film tersebut kemudian dilarang diputar. Tumbangnya rezim Soeharto juga membuat alat propaganda itu berhenti mencuci otak.

Tak hanya sekedar berhenti, pelurusan tentang sejarah kelam tragedi 1965 juga perlu dikaji untuk diluruskan. Bahkan tidak sedikit yang meminta agar dibuat film baru sebagai kontra atas film tersebut.

Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengusulkan agar film Pengkhianatan G 30 S/PKI diluruskan dan diperbaiki. Pelurusan itu dinilai penting dilakukan agar tidak lagi menimbulkan kontroversi.

"Boleh saja diperbaiki kalau tujuannya lebih menggambarkan sejarah yang sesungguhnya," kata Priyo di Gedung DPR Jakarta, Jumat (28/9).

Menurut Priyo, jika ada pandangan untuk menyempurnakan film G 30 S/PKI perlu diberi ruang. Apalagi ada temuan sejarah baru yang dilakukan oleh ahlinya. "Harus dihargai sebagai kesaksian sejarah," ujar politisi Golkar ini.

Lalu perlukah dibuat film tandingan atas film G 30 S/PKI?
[hhw]

Masih hidupkah paham komunis di Indonesia?

Kamis, 27 September 2012 15:18:34
Reporter: Moch. Andriansyah
Masih hidupkah paham komunis di Indonesia?
G30S PKI. wordpress.com
Kategori
Masih adakah komunis di Indonesia? Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah anak zaman yang sejak akhir abad XIX, melahirkan dan membawa perubahan besar dalam kehidupan ekonomi dan sosial di tanah air.

Dalam seminar bertajuk: "Mewaspadai Gaya Baru dan Bahaya Laten Komunis di Indonesia" yang digelar di Universitas Muhammadiyah (UM), Surabaya, Kamis (27/9) siang, Prof dr Zainuddin Maliki mengatakan, komunis tidak akan pernah mati dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Entah itu dalam bentuk pemikiran maupun dalam kehidupan nyata.

Komunis di Indonesia, dengan bendera PKI-nya, mampu membawa perubahan besar. Tokoh-tokoh besar seperti Amir Syarifuddin, Tan Malaka dan beberapa tokoh lainnya, yang menginginkan Indonesia merdeka 100 persen, mampu menciptakan konsep-konsep kenegaraan yang begitu luar biasa.

"Tapi, konsep-konsep ini tidak sesuai dengan Pancasila, karena tidak dilandasi oleh pemikiran agama," kata Zainuddin.

Komunis menjadi kenyataan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sejak terjadi revolusi Oktober 1917, lanjut dia, yang kemudian diikuti negara-negara Eropa Timur pasca Perang Dunia (PD) kedua.

"Akibat globalisasi, negara-negara komunis kemudian tak mampu bertahan. Medio 1991, negara faham komunis, Uni Sovyet bubar. "RRC, negara komunis yang dibangun Mao Ze Dong, meski tak ikut rontok, secara ekonomis RRC telah mengikuti dan memasuki sistem kapitalisme," terang Rektor UM tersebut.

Saat ini, faham komunis masih terus hidup. Perilaku komunis secara real, adalah para koruptor. "Sebab, apa yang diambilnya, adalah hak materi yang harus dikuasai tanpa memikirkan halal haram. Inilah yang kemudian menjadi bahaya laten yang patut diwaspadai. Karena sesungguhnya, komunis itu lahir bukan atas dasar konsep agama," tegas Zainuddin.

Dengan adanya globalisasi yang dijiwai demokratisasi dan hak azasi manusia (HAM) apa masih ada kenerasi yang bersedia menyebarkan atau bahkan dan berkorban demi komunisme? "Budaya tawuran, prilaku-prilaku menyimpang dari organisasi negara, seperti budaya korupsi, tindakan-tindakan anarkis, dan pemikiran pemikiran radikal tokoh-tokoh politik, adalah kondisi real yang sadar atau tidak, sudah mengarah pada perilaku komunis," sahut Prof Aminudin Kasdi, sejarawan asal Unesa Surabaya.

Dengan demikian, pengaruh komunis akan terus hidup, meski sekadar pemikiran. "Dalam pandangan-pandangan sosialis, sistem kapitalisme merasuk ke dalam masyarakat Indonesia, yang mendorong lahirnya kelas-kelas baru dalam masyarakat Indonesia, yaitu klas proletar, intelektual dan borjuasi Indonesia."

Lahirnya kelas proletar, menurut Aminudin, mendorong berdirinya organisasi serikat buruh. Di banyak tempat di Indonesia berdiri serikat buruh, seperti serikat buruh pelabuhan, serikat buruh kereta-api, serikat buruh percetakan dan serikat buruh di pabrik-pabrik lainnya.

Percepatan pembangunan dengan konsep-konsep politik, seperti konsep biaya sekolah gratis, kesehatan gratis, penguasaan sumber-sumber alam dan sebagainya itu, menurut Aminudin, sekali-kali bukanlah untuk memajukan Indonesia, melainkan untuk mengintensifkan penghisapan atau penguasaan terhadap rakyat Indonesia.

"Saya bukan antek-antek Orde Baru, tapi saya setuju ketika Pemerintah Orde Baru mengharamkan faham komunis di Indonesia. Karena faham ini, sesungguhnya tidak mendasarkan diri pada konsep-konsep keagamaan," tegas Aminudin.
[ian]

Kejagung akui kesulitan ungkap tragedi 1965

Sabtu, 29 September 2012 00:08:00
Reporter: Dedi Rahmadi
Kejagung akui kesulitan ungkap tragedi 1965
Gedung Kejaksaan Agung. Merdeka.com/Imam Buhori
Kejaksaan Agung telah menunjuk Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Andhi Nirwanto sebagai ketua tim penyelesaian kasus tragedi HAM 1965. Namun hingga kini belum ada kemajuan berarti.

"Itu kasus kan sudah lama sekali. Mungkin Anda saja belum lahir itu di tahun 1965-1966. Jadi tidak segampang itu. Berkasnya saja dua kardus, memang makan waktu tapi kita tidak dibatasi waktu untuk meneliti itu," kata Andhi di Kejaksaan Agung, Jumat (28/9).

Menurut Andhi, pihaknya masih melakukan penelitian terhadap hasil penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM. "Sampai sekarang masih kami teliti secara intensif, nanti akan disimpulkan apakah nanti akan dikembalikan lagi ke Komnas HAM apabila masih ditemukan kekurangan," ujar Andhi.

Beberapa waktu lalu, Presiden SBY memerintahkan Jaksa Agung, Basrief Arief untuk menyelesaikan kasus tragedi pelanggaran HAM.

Seperti diketahui pada tahun 1965-1966 telah terjadi serangkaian operasi militer yang dipimpin oleh Soeharto terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) serta simpatisannya. Dalam operasi ini, banyak korban berjatuhan dari di Indonesia. Korban yang masih hidup pun diasingkan ke Pulau Buru.
[ren]
http://www.merdeka.com/peristiwa/kejagung-akui-kesulitan-ungkap-tragedi-1965.html
KOMENTAR:Bilang saja tidak berani membuktikan kebenaran sejarah